Kisah Sutami, Menteri Paling Miskin yang Bangun Jembatan Semanggi
Di era modern saat ini, bayangan kita tentang seorang menteri pasti lekat dengan kemewahan, fasilitas kelas satu, dan rumah dinas yang megah. Namun, sejarah Indonesia mencatat sebuah pengecualian yang teramat indah sekaligus mengharukan. Republik ini pernah memiliki seorang menteri yang menguasai anggaran proyek raksasa, tetapi hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa ekstrem.
Beliau adalah Prof. Dr. (H.C.) Ir. H. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum (PU) legendaris yang menjabat selama 12 tahun berturut-turut lintas era, mulai dari Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto.
Meskipun tangannya menjadi arsitek di balik berbagai mahakarya beton yang mengubah wajah Indonesia, kisah hidup pribadinya di balik layar justru mengiris hati. Mari kita tengok kembali rekam jejak sang jenderal pembangunan paling jujur ini!
1. Otak Jenius di Balik Jembatan Semanggi dan Gedung MPR/DPR
Lahir di Surakarta pada 19 Oktober 1928, Sutami adalah potret pemuda yang dikaruniai kecerdasan langka di bidang teknik sipil. Setamat dari SMAN 1 Surakarta, ia menembus Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus sebagai insinyur sipil pada tahun 1956.
Keahliannya menghitung struktur bangunan membuat dua presiden terbesar Indonesia jatuh hati pada kemampuannya. Sepanjang kariernya, Ir. Sutami adalah sosok kunci di balik proyek-proyek monumental nasional:
Jembatan Semanggi (Jakarta): Beliau adalah pelopor yang nekat dan berhasil menggunakan konstruksi beton pratekan (stressed concrete) pertama di Indonesia untuk merajut jembatan layang berbentuk daun semanggi tersebut.
Gedung MPR/DPR RI: Kompleks parlemen yang megah di Senayan itu berdiri kokoh berkat hitungan matematis struktur yang dikerjakan langsung oleh Sutami.
Jembatan Ampera (Palembang): Saat menjabat sebagai Direktur Hutama Karya, ia memimpin langsung megaproyek yang membelah Sungai Musi tersebut hingga menjadi ikon Sumatra Selatan.
2. Memegang Proyek Miliaran, Rumah Sendiri Malah Bocor
Sutami tercatat sebagai Menteri PU dengan masa jabatan terlama dalam sejarah (12 tahun melewati 6 kabinet berbeda). Triliunan rupiah dana pembangunan berada di bawah wewenang kuasanya. Namun, jangankan memperkaya diri dengan korupsi, Sutami justru memperlakukan uang negara dengan sangat sakral.
Kisah kesederhanaannya bukan rekayasa pencitraan. Saat masih aktif menjabat sebagai menteri, rumah pribadinya di Jakarta diketahui mengalami kebocoran parah di bagian atapnya. Ketika hari hujan, sang menteri beserta keluarganya harus sibuk menaruh ember di lantai untuk menampung tetesan air.
Kebocoran itu baru diperbaiki ketika ia mendapatkan pinjaman dana, karena Sutami sama sekali tidak sudi menggunakan sepeser pun uang dinas atau meminta bantuan dari kontraktor yang memegang proyek negara.
3. Purnatugas yang Memilukan: Listrik Diputus karena Tak Mampu Bayar
Puncak dari keteguhan iman dan integritas Ir. Sutami terlihat ketika ia meletakkan jabatannya pada tahun 1978. Karena menolak memanfaatkan fasilitas dan jabatannya untuk berbisnis atau mencari keuntungan pribadi, Sutami sama sekali tidak memiliki tabungan yang melimpah di hari tua.
Bahkan, setelah pensiun, perwakilan Perusahaan Listrik Negara (PLN) terpaksa harus mendatangi rumahnya untuk mencabut meteran listrik. Penyebabnya sangat tragis: Sang mantan menteri yang telah melistriki berbagai desa di pelosok Nusantara itu tidak punya cukup uang untuk membayar tagihan listrik rumahnya sendiri.
Mendengar kabar memilukan tersebut, Presiden Soeharto langsung turun tangan untuk membantu membiayai pengobatan serta membebaskan tagihan listrik sang menteri kesayangan.
Akhir Hayat Sang Teladan Abadi
Setelah belasan tahun memeras pikiran di lapangan dan hidup dalam tekanan ekonomi yang bersahaja, kesehatan Ir. Sutami terus menurun. Ia menderita penyakit liver yang cukup parah dan akhirnya mengembus napas terakhirnya pada 13 November 1980 di usia 52 tahun.
Jasad sang begawan infrastruktur ini dimakamkan di TMP Kalibata dengan penghormatan tertinggi. Namanya kini abadi menjadi nama bendungan raksasa di Malang (Bendungan Ir. Sutami), bendungan di NTT, serta jalan logistik utama di Lampung.
Kisah hidup Ir. Sutami adalah tamparan keras sekaligus teladan abadi bagi seluruh pejabat publik. Beliau membuktikan bahwa kemuliaan seorang abdi negara tidak diukur dari seberapa mewah mobil dinasnya atau seberapa tebal rekening banknya, melainkan dari kebersihan hati dan besarnya karya yang ia wariskan untuk kemakmuran rakyatnya. (*)
Editor : S. Anwar