Model Baru Media Prancis yang Harus Diadopsi di Indonesia
Media non arus utama di Prancis kompak bikin platform bersama untuk melawan dominasi raksasa internet. Namanya “La Presse Libre”, semacam paket all-in-one : cukup bayar € 19,90 per bulan, kamu bisa akses konten dari 8 media independen sekaligus.
Setiap hari mereka menyediakan kurasi 5 artikel terbaik biar pembaca tidak pusing dan tetap dapat topik beragam. Ada juga mesin pencari khusus yang lebih aman, bebas dari spam dan konten AI (artificial intelligence) yang makin menjamur.
Ide ini muncul karena makin banyak media di Prancis yang dikuasai oleh konglomerat, sementara algoritma mediss makin random. Jadi mereka bikin ruang info yang benar-benar bersih : jurnalis kerja beneran, bukan konten copas (copy paste), atau AI.
Sejak diluncurkan, mereka sudah dapat 2.500 subscriber dalam sebulan, dan mayoritas adalah langganan baru. Tantangan terbesar? Teknis. Bikin log-in tunggal, menyamakan style konten dari delapan media berbeda, dan menjaga semua tetap stabil.
Target mereka tembus 10.000 langganan di akhir tahun 2027, gandeng media non arus utama lain, dan makin aktif di media lewat video dan explainers.
Model kayak gini sebenarnya relevan membuat eksosistem media di Indonesia. Media non arus utama di Indoneisa juga sering struggling karena ketergantungan pada iklan, tekanan politik, sampai harus berebut atensi di timleline yang isinya konten receh dan clickbait. Ditambah lagi konsentreasi kepemilikan media yang sudah lama jadi sorotan.
Kalau kolaborasi langgalan seperti La Presse Libre bisa muncul di Indonesia, misalnya gabungan media investigasi, media lokal, media niche, atau media komunitas- bisa jadi solusi buat meningkatkan keberlanjutan bisnis sekaligus menciptakan ruang informasi yang lebih sehat. (*)
Editor : S. Anwar