Syekh Yusuf, Ulama Asal Gowa yang Mengajarkan Agama Islam di Afrika Selatan
Di tanah Gowa, Sulawesi Selatan, pada abad ke-17 lahirlah seorang ulama besar yang kelak namanya dikenang bukan hanya di Nusantara, tetapi juga hingga Afrika Selatan. Sosok itu adalah Syekh Yusuf al-Makassari — seorang ulama sufi, pejuang, sekaligus penyebar Islam yang hidupnya dipenuhi perjuangan melawan penjajahan VOC Belanda.
Syekh Yusuf lahir sekitar tahun 1626 di wilayah Kerajaan Gowa, sebuah kerajaan besar di Sulawesi Selatan yang saat itu menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Indonesia Timur. Sejak kecil, ia dikenal cerdas dan haus akan ilmu agama. Pada masa mudanya, Nusantara sedang mengalami perubahan besar. Islam berkembang pesat, tetapi bangsa Eropa mulai datang membawa ambisi perdagangan dan kekuasaan.
Karena kecintaannya terhadap ilmu, Syekh Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam. Ia belajar di Banten, Aceh, Yaman, Makkah, Madinah, hingga Damaskus. Di Timur Tengah, ia mendalami ilmu tasawuf, fikih, dan tarekat. Karena kedalaman ilmunya, ia mendapat gelar “Syekh” dan dihormati banyak ulama dunia Islam.
Namun perjalanan hidup Syekh Yusuf bukan hanya tentang ilmu. Ketika kembali ke Nusantara, ia melihat kekuasaan VOC Belanda semakin menekan kerajaan-kerajaan Islam. Ia kemudian menjalin hubungan erat dengan Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten, Syekh Yusuf bukan hanya menjadi ulama istana, tetapi juga penasihat spiritual dan pejuang melawan penjajah.
Saat VOC mencoba menguasai Banten melalui politik adu domba, perang besar pun pecah. Syekh Yusuf berada di garis depan perjuangan bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memimpin semangat jihad melawan VOC dan membangkitkan perlawanan rakyat. Karena pengaruhnya sangat besar, Belanda menganggapnya sebagai ancaman berbahaya.
Pada tahun 1683, setelah perjuangan panjang, Syekh Yusuf akhirnya ditangkap oleh VOC melalui tipu daya politik. Namun Belanda sadar, jika ia tetap berada di Nusantara, pengaruhnya akan terus membakar semangat perlawanan rakyat. Karena itu, ia diasingkan jauh dari tanah air.
Pertama, ia dibuang ke Sri Lanka yang saat itu berada di bawah kekuasaan Belanda. Tetapi bahkan di tempat pengasingan, Syekh Yusuf tetap berdakwah dan mengajarkan Islam kepada masyarakat setempat. Murid-muridnya terus bertambah.
VOC kembali khawatir. Akhirnya pada tahun 1694, Syekh Yusuf dipindahkan lebih jauh lagi ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan, wilayah yang kini menjadi bagian dari negara Afrika Selatan. Belanda berharap pengaruhnya akan hilang di negeri asing itu.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf menjadi cahaya bagi para budak Muslim dan masyarakat tertindas. Ia mengajarkan Islam, persaudaraan, dan semangat melawan ketidakadilan. Dari tempat pengasingannya itulah Islam berkembang di kawasan Cape Town. Hingga hari ini, Syekh Yusuf dikenang sebagai salah satu tokoh penting penyebaran Islam di Afrika Selatan.
Syekh Yusuf wafat pada tahun 1699 di Afrika Selatan. Meski jauh dari tanah kelahirannya, perjuangannya tidak pernah dilupakan. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Bahkan pemerintah Afrika Selatan juga menghormatinya sebagai simbol perjuangan melawan penindasan.
Kisah Syekh Yusuf al-Makassari adalah bukti bahwa perjuangan seorang ulama tidak hanya dilakukan dengan ceramah, tetapi juga dengan keberanian melawan penjajahan dan membela rakyat tertindas.
Dari Gowa hingga Afrika Selatan, namanya tetap hidup sebagai simbol ilmu, iman, dan perlawanan. (*)
Editor : S. Anwar