Cerita di Balik Logo Universitas Gadjah Mada
Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) disebut plagiat disebut Surya Majapahit. Namun sebutan itu tidaklah benar. Antara logo Surya Majapahit dan logo Universitas Gadjah Mada (UGM) memang ada kemiripan tapi bukan plagiat.
Sekilas, keduanya terlihat mirip. Keduanya sama-sama memiliki bentuk menyerupai matahari dengan pancaran sinar yang mengelilinginya. Apakah kemiripan ini hanya kebetulan?
Apa Itu Surya Majapahit?
Surya Majapahit merupakan simbol berbentuk matahari dengan delapan pancaran sinar yang menjadi salah satu simbol yang ditemukan pada tinggalan arkeologis dari masa Kerajaan Majapahit. Dalam konteks keagamaan, motif ini berkaitan dengan dikpala, yaitu dewa-dewa penjaga arah mata angin.
Surya Majapahit ditemukan pada berbagai tinggalan, antara lain Candi Penataran, Candi Jawi, Candi Sawentar, Candi Bangkal, Candi Keboireng, serta makam Tralaya di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Lalu, apa hubungannya dengan UGM?
Walaupun terlihat mirip dengan Surya Majapahit, namun Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki filosofi dan makna simbolnya sendiri. Di dalamnya terdapat Surya dan Kartika, lima sinar, lima songkak dan tombak. serta berbagai unsur yang memiliki makna terkait identitas Universitas Gadjah Mada (UGM).
Jadi, apa makna dari Lambang UGM? Yuk, kita bongkar satu per satu makna di balik Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) !
Siapa pencipta lambang UGM?
Sebelum memahami Lambang UGM lebih dalam, yuk kita kenalan dulu dengan pencetus Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM).
Lambang UGM baru dibuat setelah Universiteit Negeri Gadjah Mada (UNGM) berdiri. Pada tahun 1950, Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) menugaskan penyusunan lambang universitas yang kemudian divisualisasikan oleh R. Johannes Katamsi Martorahardjo atau yang terkenal dengan R. J. Katamsi.
R. J. Katamsi adalah seorang seniman lukis modern Indonesia yang lahir di Karangkobar, Kabupaten Banyumas, pada 7 Januari 1897. Katamsi juga berkontribusi dalam pendirian Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Sastra dan Kebudajaan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Apa saja bagian dari lambang UGM?
Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) merupakan simbol yang mencerminkan filosofi dan nilai-nilai universitas yang berakar pada tradisi dan budaya Indonesia. Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) terdiri dari beberapa elemen yang saling terkait dan memiliki makna mendalam.
Berikut bagian-bagian dari Lambang UGM :
Tombak, songkok, dua lingkaran bersusun, surya binolong, kartika.
Apa makna dari lambang UGM?
1. Surya dan Kartika
Surya dengan sinarnya dan kartika (bintang bersegi lima) melambangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai Universitas Pancasila yang memancarkan ilmu pengetahuan, kenyataan, dan kebajikan.
2. Surya Binolong
Surya binolong (matahari berlubang) mengandung makna angka 19, yang melambangkan tanggal berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM). Makna ini tercermin dari kata "surya" yang berarti satu, "binolong" yang berarti sembilan, serta 19 sorot sinar pada setiap kesatuan kumpulan sinar.
3. Dua Lingkaran Bersusun
Dua lingkaran yang mengelilingi pusat lambang membentuk surya kembar di dalam kartika. Bentuk ini mengandung makna angka 1 dan 2, sehingga membentuk angka 12 yang melambangkan bulan berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Desember.
4. Lima Songkok dan Lima Tombak
Lima songkok dan lima tombak yang mengelilingi surya dan kartika melambangkan sifat kepahlawanan serta semangat perjuangan nasional Universitas Gadjah Mada yang berlandaskan Pancasila.
5. Kesatuan kumpulan sinar, kartika, songkok, dan tombak berjumlah masing-masing 5
Jumlah lima pada kesatuan kumpulan sinar, sisi kartika, songkok, dan tombak melambangkan Pancasila sebagai dasar, sifat, dan tujuan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam menjalankan perjuangan nasional.
6. Warna Putih dan Kuning Emas
Warna putih melambangkan kesucian, sedangkan warna kuning emas melambangkan kemurnian dan kenyataan.
Kedua warna Ini juga berkaitan dengan tahun berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu tahun 1949, yang tersirat dalam kalimat "murnining suci margining kanyatan Nilai angka pada setiap katanya-murni (9), suci (4), marga (9), dan kanyatan (1)-jika dibaca dari belakang membentuk angka 1949.
Tahukah Kamu?
Bagaimana kata "Surya Binolong" dan "Murnining Suci Margining Kanyatan" bisa mengandung makna angka? Cara penyampaian seperti ini disebut sengkalan memet, yaitu tradisi Jawa untuk menyatakan angka atau tahun melalui simbol, gambar, maupun rangkaian kata yang memiliki nilai angka tertentu. Tradisi ini sudah dikenal sejak masa klasik dan banyak dijumpai pada prasasti, relief, naskah kuno, hingga karya seni sebagai penanda suatu peristiwa atau waktu.
Bahkan, di Kraton Yogyakarta banyak dijumpai sengkalan memet.
Lebih dari Sekadar Logo
Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak hanya digunakan sebagai identitas visual, tetapi juga menjadi simbol resmi universitas dalam berbagai acara akademik dan seremonial. Lambang ini hadir pada kalung jabatan pimpinan universitas, toga Guru Besar, tongkat pedel, duaja universitas, hingga berbagai dokumen resmi sebagai representasi kehormatan dan nilai-nilai Universitas Gadjah Mada (UGM).
Lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) juga dapat ditemukan di Museum Universitas Gadjah Mada (UGM). (*)
Editor : Redaksi