Kisah Chappy Hakim Sebagai Teman Sekelas Megawati Soekarno Putri
Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) mencatat nama Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim sebagai salah satu nakhoda terbaiknya. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) periode 2002–2005 ini dikenal luas sebagai jenderal pemikir yang cerdas, tegas, dan berwawasan luas.
Namun, di balik seragam militernya yang gagah, ia memiliki darah Minangkabau yang kental serta perjalanan masa kecil yang dipenuhi kebetulan-kebetulan unik yang menakjubkan.
Hasrat dan keteguhannya dalam berkarier rupanya mengalir dari sang ibu, Zubainar, seorang wanita tangguh yang berasal dari Nagari Simawang, Tanah Datar, Sumatra Barat. Lahir di Yogyakarta pada 17 Dec 1947, Chappy dibesarkan di sebuah paviliun di Jalan Segara (sekarang Jalan Veteran), Jakarta Pusat, sebuah kawasan yang menempel langsung dengan dinding Istana Negara.
Kedekatan Ring Satu: Teman Sekelas Putri Presiden
Tinggal di lingkungan ring satu membuat Chappy kecil akrab dengan pemandangan helikopter kepresidenan yang membawa Bung Karno. Keunikan masa kecilnya mencapai puncaknya ketika ia menginjak usia taman kanak-kanak.
Saat itu, Chappy bersekolah di TK yang terletak di sebuah kupel (bangunan paviliun kecil) di halaman Istana Negara. Di sinilah takdir mempertemukannya dengan Megawati Soekarnoputri, putri sang Proklamator. Mereka berdua duduk di kelas yang sama di bawah bimbingan guru TK bernama Ibu Tuti.
Puluhan Tahun Kemudian: Dilantik oleh Teman Sekelas
Waktu berlalu, Chappy memilih jalur pengabdian di TNI Angkatan Udara, sementara Megawati melangkah ke panggung politik nasional. Jalur hidup kedua teman sekelas di TK Istana ini kembali bersinggungan pada 17 Agustus 2003 dengan cara yang sangat luar biasa.
Chappy Hakim yang sudah berpangkat bintang empat berdiri tegak di Istana Negara untuk mengikuti upacara kemerdekaan sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Udara. Uniknya, sosok yang melantiknya secara resmi sebagai KSAU tidak lain adalah Megawati Soekarnoputri, temannya bermain saat kecil yang kala itu telah menjabat sebagai Presiden Kelima Republik Indonesia. Kebetulan sejarah ini menjadi salah satu cerita paling unik dalam lembaran biografi pejabat tinggi negara.
Menjadi Bintang Film Cilik Sebelum Menembus Dirgantara
Selain kedekatannya dengan Istana, jenderal berdarah Minangkabau ini ternyata sempat mencicipi dunia hiburan tanah air saat remaja. Berkat postur tubuh dan gayanya yang menarik, ia sempat terpilih menjadi bintang film cilik dan membintangi film berjudul Band Tjilik produksi Anom Pictures. Di film itu, ia bahkan beradu akting dengan aktris legendaris Wolly Sutinah atau Mak Wok.
Namun, karier aktingnya tidak berlanjut karena sang ayah, Abdul Hakim (seorang jurnalis senior pendiri Kantor Berita Antara), memintanya untuk tetap fokus pada jalur pendidikan sekolah.
Keputusan itu menuntunnya masuk ke Akademi Angkatan Udara. Minatnya pada dirgantara yang dipupuk sejak kecil saat sering diajak sang ayah melihat pesawat di Bandara Kemayoran akhirnya berbuah manis. Chappy bertransformasi menjadi pilot andal, menerbangkan pesawat DC-3 Dakota, Vickers Viscount, hingga C-130 Hercules, dan meraih penghargaan internasional sebagai Honorary Pilot dari Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).
Hingga masa pensiunnya kini, Marsekal Chappy Hakim tetap aktif mengabdi bagi bangsa melalui pendirian Indonesia Center for Air Power Studies (ICAP), membuktikan bahwa darah intelektual dan pejuang Minangkabau dalam dirinya tidak pernah padam. (*)
Editor : S. Anwar