Cerita Rosianna Silalahi Gagal Masuk Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Rosianna Silalahi
Rosianna Silalahi
grosir-buah-surabaya

Di panggung industri penyiaran dan jurnalistik televisi Indonesia, nama Rosianna Magdalena Silalahi—atau yang lebih akrab disapa Rosi—adalah sebuah jaminan mutu. Perempuan berdarah Batak kelahiran 26 September 1972 ini dikenal sebagai jurnalis senior yang tajam, kritis, dan memiliki integritas tinggi.

Dari seorang reporter lapangan yang memulai kariernya di stasiun televisi TVRI, Rosi kini bertransformasi menjadi salah satu "jenderal newsroom" paling berpengaruh di tanah air dengan menduduki posisi sebagai Direktur Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Kompas TV.

Ironi Masa Kuliah: Ditolak Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia

Kecintaan Rosi pada dunia jurnalistik sudah tumbuh sejak ia masih berseragam putih-abu-abu di SMA Santa Ursula, Jakarta. Anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan L.M. Silalahi (alm) dan Ida Hutapea ini aktif mengasah bakat menulisnya melalui ekstrakurikuler majalah dinding hingga majalah sekolah mereka, Serviam.

Namun, ada sebuah cerita ironis sekaligus inspiratif di awal perjalanan akademisnya. Usai lulus SMA, Rosi sangat berambisi masuk ke Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI). Sayangnya, ia gagal menembus jurusan impiannya tersebut dan justru diterima di pilihan kedua, yakni Jurusan Sastra Jepang Universitas Indonesia.

Meski jalurnya membelok ke dunia sastra, api semangat Rosi untuk menjadi seorang wartawan tidak pernah padam sedikit pun. Setelah meraih gelar sarjana, ia sempat mencicipi dunia periklanan selama beberapa bulan sebelum akhirnya meloloskan diri dalam seleksi ketat sebagai reporter di TVRI.

Lonjakan Karier di Liputan 6 SCTV dan Wawancara Eksklusif George W. Bush

Titik balik terbesar dalam kariernya terjadi pada tahun 1998, tepat di era pergolakan Reformasi. Rosi memutuskan hijrah ke SCTV untuk bergabung dengan barisan jurnalis muda Liputan 6. Hanya butuh waktu satu tahun bagi Rosi untuk dipercaya naik kelas dari reporter lapangan menjadi pembaca berita (news anchor) di belakang meja siar.

Karier Rosi melesat bak meteor, terutama setelah hengkangnya dua jangkar berita legendaris SCTV, Ira Koesno dan Arief Suditomo. Integritas dan ketajaman Rosi diakui secara internasional ketika pada tahun 2003, ia terpilih sebagai satu dari enam jurnalis televisi se-Asia yang mendapat kesempatan emas melakukan wawancara eksklusif dengan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, langsung di Gedung Putih, Washington D.C.

Rosi juga dikenal sebagai jurnalis yang berani membongkar praktik kotor politik. Pada Pemilu 2004, ia memproduksi program investigasi bertajuk "Kotak Suara" yang menguliti isu money politics (politik uang). Berkat keberaniannya itu, ia dianugerahi penghargaan bergengsi dari Indonesia Journalist Board pada tahun 2004.

Prestasi Rosi di layar kaca membuatnya menjadi langganan pemenang Panasonic Gobel Awards (PGA), di antaranya:

2004: Pembawa Acara Talk Show Terfavorit & Presenter Berita Terfavorit.

2005: Presenter Berita (Current Affairs) Terfavorit.

2007: Pembawa Acara Berita/Current Affair Terfavorit.

Puncaknya, pada November 2005, manajemen SCTV secara resmi menunjuk Rosi sebagai Pemimpin Redaksi Liputan 6, sebuah pembuktian bahwa ia tidak hanya piawai di depan layar, tapi juga tangguh dalam memimpin strategi ruang redaksi.

Kembali ke Meja Redaksi dan Nakhoda Kompas TV

Setelah sempat mengeksplorasi lini karier lain, kerinduan Rosi pada denyut nadi ruang berita membawanya pulang ke rumah jurnalisme. Pada 1 September 2014, ia resmi bergabung dengan Kompas TV sebagai Pemimpin Redaksi, menggantikan wartawan senior (alm) Taufik Mihardja.

Di bawah kepemimpinannya, Kompas TV semakin menancapkan posisinya secara tegas sebagai "Televisi Berita" yang independen dan tepercaya. Dedikasi dan visi manajerialnya yang kuat membawa Rosi dipercaya menduduki kursi Direktur Utama Kompas TV, sembari tetap menyapa pemirsa setia lewat program gelar wicara (talkshow) mingguan yang dinamai sesuai namanya sendiri: ROSI.

Di luar kehidupan profesionalnya yang padat dan penuh tekanan, Rosi melabuhkan hati pada Dino Gregory Izaak. Keduanya resmi mengikat janji suci pernikahan di Gereja Katedral Jakarta pada 30 Juli 2005. (*)