Denting Martil Penakluk arwah, Taruhan Maut Sang Kusa Nakaf

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Kusa Nakaf
Kusa Nakaf
grosir-buah-surabaya

Ratapan duka menggema menyayat hati di sela" rumah masyarakat Dawan (Atoin Meto). Namun sehebat apapun air mata ditumpahkan, sebuah jenazah tidak akan pernah diserahkan ke rahim Bumi, sebelum sebuah gerbang gaib ditutup.

Roh mendiang diyakini masih melayang bimbang, terperangkap diantara dunia manusia dan dimensi arwah. 

Untuk mengakhiri itu sebuah ritus magic pamungkas dan paling dihormati harus ditunaikan : Kusa Nakaf.

Sebuah tradisi suci memaku peti mati tepat di atas ubun-ubun jenazah. Ini bukan sekedar tindakan fisik tukang kayu menutup peti. Di Tanah Timor, paku itu adalah pasak penahan roh, dan martil penumbuknya adalah penyegel dimensi gaib.

Kusa Nakaf adalah negosiasi langsung dengan maut. Tidak sembarang tangan boleh memegang martil tersebut, jika tangan yang salah berani menancapkan paku pertama ke kayu peti, maka selubung gaib akan sobek saat itu juga, Bumi akan menolak jenazah tersebut, sang mendiang akan memberontak menjadi Nitu_entitas arwah penasaran yang paling buas.

Di alam roh orang Dawan, kekuatan darah laki-laki dan perempuan adalah sejajar. 

Jika seorang saudara perempuan dalam keluarga meninggal dunia, maka yang memiliki otoritas untuk menenangkan Rohnya adalah saudara laki-laki. Begitu pun sebalikanya, jika seorang laki-laki yang berpulang, maka saudara perempuannyalah yang medapatkan kuasa untuk menancapkan paku perpisahan itu. Tanpa ketukan palu dari seorang Kusa Nakaf, Roh seseorang yang berpulang tidak akan pernah menemukan jalan menuju Uis Neno (Sang Pencipta).

Namun kedatangan sang Pemaku peti juga membawa beban mistis yang berdarah.

Setelah martil dan paku beradu memecah sunyi, transaksi nyawa harus dituntaskan.

Keluarga yang berduka diwajibkan memberikan penghargaan balasan berupa uang adat atau barang berharga kepada sang Pemaku peti.

Ini adalah tebusan gaib, jika prosesi ini diabaikan atau ditunda, maka maut menjadi taruhannya. 

Kutukannya tidak kenal ampun, gangguan dan penyakit akan menghantui tanpa bisa disembukan oleh tabib manapun. Puncaknya maut akan menagih hutangnya hingga lunas. Nyawa dibayar nyawa, anggota keluaga berjatuhan menjemput ajal, semua disapu oleh gelombang kematian yang tak wajar. 

Penawarnya hanya satu "Utang gaib itu harus tuntas dihadapan Leluhur.

Namun meelalui kengerian teror kutukan ini, para penerus ditempa untuk tunduk pada hukum "Moen Lanan ma Fe Lanan". 

Mereka diajarkan dengan keras agar mengenal asal - usul darah mereka, dan mengingat seumur hidup bahwa setiap nafas yang mereka hirup, masih diikat sumpah leluhur, yang senantiasa mengawasi dari balik kabut keabadian Timor. (*)