Hartono, Satu Satunya Jenderal Kavaleri yang Jadi KASAD

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
R. Hartono
R. Hartono
grosir-buah-surabaya

Bagi sebagian besar perwira tinggi militer, menduduki posisi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) adalah sebuah mimpi tertinggi. Jalur menuju kursi nomor satu di Angkatan Darat itu pun terkenal sangat ketat dan biasanya didominasi oleh perwira dari Korps Infanteri atau baret hijau.

Namun, sejarah mencatat ada satu sosok jenderal bintang empat yang berhasil mendobrak tradisi tersebut. Beliau adalah Jenderal TNI (Purn.) R. Hartono, satu-satunya perwira tinggi dari Korps Kavaleri (Baret Hitam) yang sukses menembus posisi Kasad.

Meski memiliki prestasi militer yang luar biasa, namanya justru lebih sering diguncang kontroversi karena loyalitasnya yang terlampau ekstrem kepada Keluarga Cendana.

Memecahkan Rekor Emas di Korps Baret Hitam

Lahir pada 10 Juni 1941, R. Hartono meniti karier militernya dari bawah di dunia kendaraan tempur lapis baja (tank dan panser). Di Korps Kavaleri, ia melewati berbagai penugasan mulai dari Komandan Peleton (Danton) hingga dipercaya menjabat sebagai Wakil Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Wadanpussenkav).

Ketangguhannya dalam memimpin membuat karier teritorialnya melesat tajam. Hartono tercatat pernah menjabat sebagai Pangdam V/Brawijaya, Gubernur Lemhannas, hingga Kassospol ABRI.

Puncaknya terjadi pada tahun 1995, ketika ia dilantik menjadi Kasad ke-18. Jabatan ini menorehkan tinta emas dalam sejarah militer Indonesia, karena hingga hari ini belum ada lagi perwira dari Korps Kavaleri yang mampu menyamai prestasinya duduk di kursi nomor satu TNI AD. Setelah purnatugas dari militer, ia juga sempat ditarik menjadi Menteri Dalam Negeri pada tahun 1998.

Kalimat Kontroversial : "Bersedia Menjadi Antek Soeharto"

Ketika rezim Orde Baru tumbang pada Mei 1998, banyak pejabat dan jenderal yang berbalik arah atau menjauh dari lingkaran Keluarga Cendana demi menyelamatkan karier politik mereka. Namun, hal itu tidak berlaku bagi R. Hartono. Ia memilih jalur yang berbeda: setia sampai akhir.

Menjelang Pemilihan Umum tahun 2004, di saat sentimen negatif terhadap Orde Baru masih cukup hangat, R. Hartono mengejutkan publik dengan sebuah pernyataan yang sangat berani dan blak-blakan di depan media. Dengan lantang, ia menyatakan "bersedia menjadi antek Soeharto".

Bagi Hartono, ucapan itu bukan sekadar bualan, melainkan penegasan sikap bahwa ia sangat menghormati jasa-jasa mantan presiden tersebut. Bukti kesetiaan itu ia wujudkan dengan menggandeng putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), untuk mendirikan parpol baru bernama Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) sebagai kendaraan politik mereka pasca-Reformasi.

Diwarnai Isu Pembelian Tank Scorpion dan Konflik Internal

Sebagai salah satu orang dalam di era transisi kekuasaan, kehidupan R. Hartono tidak luput dari sorotan tajam. Harian terkemuka Inggris, The Guardian, bahkan pernah merilis laporan yang menyeret namanya bersama Mbak Tutut terkait dugaan menerima uang pelicin dalam proyek pembelian 100 Tank Scorpion asal Inggris pada periode 1992–1994.

Tak hanya itu, Hartono juga dikenal sebagai sosok yang temperamental jika menyangkut harga diri keluarga. Ia sempat terlibat konflik sengit dengan sesama mantan jenderal karena tidak terima dengan rumor miring yang menyebutkan bahwa salah satu anaknya meninggal dunia akibat mengonsumsi narkoba.

Fakta Unik: Ternyata Masih Paman dari Indro Warkop!

Di luar seragam militernya yang garang dan penuh bintang, ada satu fakta unik dari kehidupan pribadi R. Hartono yang jarang diketahui publik.

Ia menikah dengan seorang wanita bernama R.A. Oetari. Melalui jalur pernikahan ini, Hartono ternyata memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan dunia komedi tanah air. Sang istri adalah adik kandung dari Irjen Pol. R. Mochammad Oemargatab, yang tidak lain merupakan paman kandung dari komedian legendaris Indonesia, Indro Warkop. Artinya, secara silsilah keluarga, Sang Jenderal Kasad ini adalah paman dari Indro Warkop!

Jenderal TNI (Purn.) R. Hartono adalah potret nyata dari seorang prajurit tua yang memegang teguh prinsip loyalitas. Terlepas dari segala kontroversi dan pasang surut politik yang mengelilinginya, ia adalah legenda bagi Korps Kavaleri dan sosok yang memilih berdiri tegak membela garis politik yang diyakininya hingga akhir. (*)