Kamardi Rais Jadi Ensiklopedi Berjalan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie
Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie
grosir-buah-surabaya

Ranah Minangkabau pernah memiliki seorang putra terbaik yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pers, politik, dan kelestarian adat. Beliau adalah Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie. Lahir pada 12 Maret 1933 dan wafat pada 25 Oktober 2008, sosok multi-dimensi ini dikenang bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai saksi hidup sekaligus pencatat sejarah Sumatra Barat yang tiada tanding.

Lahir di Aie Tabik, Payakumbuh, darah kepemimpinan Kamardi mengalir dari sang ayah, Rais Dt. Maudun, yang merupakan seorang Wali Nagari di kampung halamannya. Setelah menyelesaikan pendidikan di tanah kelahirannya, Kamardi memilih jalan hidup yang visioner dengan terjun ke dunia jurnalistik.

Kiprah Emas di Dunia Pers dan Politik

Tahun 1954 menjadi awal mula langkah panjang Kamardi di dunia kewartawanan saat ia bergabung dengan Harian Penerangan. Ketajaman pena dan integritasnya membawa Kamardi dipercaya menduduki posisi Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang. Puncak pengakuan komunitas pers terhadap dirinya terjadi ketika ia terpilih menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumatera Barat.

Tak hanya tajam di dunia pers, ketokohan Kamardi membuat masyarakat memercayainya untuk melangkah ke ranah kebijakan publik. Pada tahun 1987, ia resmi terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Ruang politik ini ia manfaatkan sebagai jembatan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan memperjuangkan nilai-nilai lokal di tingkat pemerintahan.

Pemimpin LKAAM dan Dwi-Tunggal Adat-Cendekia

Komitmen totalnya terhadap tanah kelahiran mencapai puncaknya ketika ia dipercaya memimpin Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) dari tahun 1999 hingga akhir hayatnya pada 2008. Di lembaga sakral inilah, ia berdiri sebagai benteng pertahanan kelestarian adat Minangkabau di tengah gempuran modernisasi.

Kamardi Rais adalah prototipe manusia multi-dimensi yang langka. Ia merupakan perpaduan utuh antara wartawan, penulis, tokoh adat, cendekiawan, sekaligus politikus. Karena keluasan wawasannya serta kebiasaan disiplinnya mencatat setiap peristiwa penting—khususnya dinamika Sumatra Barat—ia mendapatkan julukan terhormat sebagai “Ensiklopedi Berjalan”.

Warisan Lewat "Mesin Ketik Tua"

Salah satu warisan literasi terbesar yang ia tinggalkan untuk generasi penerus adalah bukunya yang monumental berjudul Mesin Ketik Tua. Lewat buku ini, Kamardi menyelamatkan rentetan sejarah bangsa yang tercecer dan jarang ditemukan dalam buku-buku sejarah konvensional. Ia dengan jeli mengungkap fakta-fakta historis penting di Sumatra Barat yang hampir terlupakan oleh zaman.

Meskipun sang "Ensiklopedi Berjalan" telah tiada, keteladanan Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie dalam merawat ingatan kolektif, menjaga marwah adat, dan memperjuangkan suara publik akan selalu menjadi obor penerang bagi generasi muda Minangkabau. (*)