Djasri Marin, Putra Payakumbuh di Puncak Militer
Ranah Minang tak pernah kering melahirkan putra-putra terbaik yang mengabdikan diri di garda terdepan pertahanan bangsa. Salah satu nama yang menorehkan tinta emas dalam sejarah militer modern Indonesia adalah Mayjen TNI (Purn.) Djasri Marin.
Lahir di kota Payakumbuh, Sumatra Barat, pada 30 Agustus 1950, Djasri Marin tumbuh menjadi figur prajurit yang dikenal disiplin, tegas, dan berintegritas tinggi. Puncak karier militer tertingginya diraih ketika ia dipercaya mengemban amanah sebagai Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI periode 1998–2002.
Memimpin penegakan hukum dan disiplin internal militer di tengah masa transisi reformasi yang sangat krusial bukanlah perkara mudah, namun Djasri berhasil mengawal organisasi tersebut dengan dedikasi penuh hingga purnatugas.
Di balik ketegasan seragam lorengnya, Djasri Marin adalah sosok kepala keluarga yang hangat. Dari pernikahannya dengan istri tercinta, Mulyati (almarhumah), mereka dikaruniai dua orang anak yang kini telah tumbuh dewasa menjadi pilar kebanggaan keluarga.
Kiprah Pasca-Militer : Merambah Politik dan Birokrasi
Setelah menyelesaikan masa dinas aktifnya di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), energi pengabdian Djasri Marin tidak lantas padam. Ia memilih untuk terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui jalur politik praktis dengan bergabung bersama Partai Golkar.
Membawa bekal pengalaman kepemimpinan militer yang matang, ia langsung dipercaya menempati posisi strategis di jajaran pengurus pusat, tepatnya sebagai Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Pengendalian Keamanan Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Pusat.
Tidak berhenti di panggung politik, Djasri juga mendarmabaktikan keahlian manajerialnya di ranah birokrasi pemerintahan nasional. Langkah ini dibuktikannya saat ditunjuk menjadi Staf Khusus di Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra). (*)
Editor : S. Anwar