Nyawa Soeharto Dan Selembar Surat Jenderal Sudirman
Mari kita putar kembali jarum jam ke hari-hari yang sangat menentukan pada September 1948, sebuah episode di mana Republik ini nyaris terkoyak oleh friksi internal yang berdarah. Hari-hari itu, di sekitar wilayah Solo dan Madiun, ketegangan antara pasukan-pasukan pro-Pemerintah dan sayap kiri Front Demokrasi Rakyat (FDR/PKI) telah mencapai titik didih.
Di tengah pusaran kekacauan inilah, sejarah mencatat sebuah insiden kecil namun memiliki konsekuensi yang luar biasa besar bagi masa depan Indonesia: tertangkapnya Overste (Letnan Kolonel) Soeharto oleh prajurit Siliwangi.
Catatan Letkol Omon Abdurrachman, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Brigade 13 Siliwangi, memberikan kita sebuah mikrokosmos dari kebingungan dan paranoianya masa itu. Dua atau tiga hari sebelum meletusnya peristiwa Srambatan di Solo, perang urat saraf sudah dilancarkan.
Radio Madiun yang dikuasai FDR terus-menerus mengumandangkan siaran propaganda. Mereka memanggil-manggil Komandan Brigade 13, Letnan Kolonel Sadikin.
“Sadikin, Sadikin anakku Sadikin, ingatlah kepada asalmu, kembalilah ke lingkungan saudara-saudaramu!” demikian suara dari radio memecah keheningan malam.
Mayor Jenderal Djokosujono dari pihak FDR bahkan mengirimkan undangan rapat di Madiun kepada Sadikin. Dalam tradisi militer yang dipegang teguh, meninggalkan pasukan di saat genting adalah sebuah pantangan.
Bersyukur, Letkol Omon Abdurrachman berhasil mencegah atasannya itu untuk pergi. Sebuah keputusan yang tepat, mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di tengah situasi Solo yang karut-marut—di mana pasukan Siliwangi baru saja diserang oleh Kesatuan Panembahan Senopati namun berhasil menguasai kota dan memukul mundur lawan—hukum perang sering kali berjalan sangat ringkas.
Kira-kira pukul 16.00, ketika Letkol Omon sedang melepas lelah di meja pos komando, pintu diketuk. Masuklah Kapten Iman Safei. Penampilannya adalah cerminan dari kerasnya pertempuran: mata merah menyala dan rambut kusut masai. Berdiri tegak, sang Kapten melaporkan sesuatu yang membuat darah siapa pun bisa berdesir:
"Pak, saya menangkap Overste PKI. Apa bereskan saja?"
Dalam leksikon militer masa revolusi, kata "bereskan" adalah eufemisme dari eksekusi mati. Di tengah kecurigaan yang memuncak, seorang perwira menengah tak dikenal yang tertangkap di wilayah konflik sangat rentan menghadapi eksekusi buta semacam ini.
Namun, di sinilah letak peran krusial kepemimpinan yang rasional. Letkol Omon tidak langsung memberi lampu hijau. "Nanti dulu, jangan salah," cegahnya. Ia sedang pusing memikirkan tawanan lain, dan tidak ingin menambah beban dengan mengeksekusi seorang Overste tanpa pemeriksaan. Ia memerintahkan agar tawanan itu dibawa masuk.
Ketika tawanan itu digiring ke hadapannya, Letkol Omon terkesiap. Dalam batinnya ia berseru, "Duilah! Ini kan Overste Suharto, Komandan Resimen Jogja."
Letkol Omon melihat sosok dengan raut muka yang bertampang halus, sangat kontras dengan bayangannya tentang seorang tokoh militer FDR. Logikanya berjalan cepat: tidak mungkin komandan dari Yogyakarta ini adalah orang PKI.
Sadar akan siapa yang berdiri di depannya, Letkol Omon segera berdiri, memberi hormat, dan mempersilakan "sang tawanan" duduk. Ia meminta maaf atas perlakuan pasukannya, menjelaskan bahwa Siliwangi sedang dalam kondisi siaga penuh setelah diserang.
Soeharto, yang tampak keheranan dengan situasi Solo yang sudah dikuasai Siliwangi, membalas pertanyaan Letkol Omon. Interogasi pun berubah menjadi klarifikasi tingkat tinggi.
"Saya pulang dari Madiun habis mengikuti rapat yang diselenggarakan oleh Pak Djokosujono," aku Soeharto tenang.
Mendengar nama Djokosujono, tokoh FDR pimpinan Madiun, wajar jika prajurit di lapangan seperti Kapten Safei mencurigainya.
Namun, ketika ditanya apakah ia bagian dari FDR, Soeharto memberikan jawaban yang menggeser seluruh konstelasi kecurigaan tersebut: "Bukan... Saya pergi atas perintah Panglima Besar, Pak Dirman."
Untuk membuktikan klaimnya, Soeharto merogoh kantongnya dan menyodorkan sepucuk surat. Letkol Omon memeriksanya, dan benar saja, tertera tanda tangan Panglima Besar Jenderal Sudirman di sana.
Surat perintah rahasia inilah yang menjadi perisai nyawa bagi Soeharto sore itu. Rupanya, Panglima Besar Sudirman, yang selalu bertindak sebagai bapak bagi seluruh faksi militer Republik, mengutus Soeharto ke Madiun dalam upaya terakhir untuk menjajaki kompromi atau sekadar memetakan kekuatan di sana sebelum konflik terbuka benar-benar tak terhindarkan.
Setelah semuanya jelas, Letkol Omon memanggil kembali Kapten Iman Safei. Ia menjelaskan duduk perkaranya: bahwa perwira di hadapan mereka ini bukan orang PKI, melainkan Komandan Resimen Yogyakarta. Alih-alih dieksekusi, Kapten Safei justru mendapat perintah untuk mengawal Soeharto dengan aman sampai ke perbatasan Solo-Yogya.
Letkol Omon menutup catatannya dengan satu kata yang sarat makna: "Alhamdulillah."
Bagi kita yang menelaah sejarah hari ini, peristiwa di pos komando Brigade 13 itu memaksa kita merenungkan sebuah pertanyaan counter-factual: Bagaimana seandainya sore itu Letkol Omon Abdurrachman mengiyakan saja permintaan Kapten Safei untuk "membereskan" sang tawanan?
Di ujung pelatuk senapan Kapten Siliwangi yang kelelahan itulah, arah sejarah politik militer Indonesia nyaris berbelok ke rute yang sama sekali berbeda. Namun, disiplin komando Letkol Omon, ketenangan Soeharto, dan selembar surat mandat dari Panglima Besar Jenderal Sudirman telah memastikan bahwa "sang Overste" tetap hidup, kelak memimpin Serangan Umum 1 Maret, dan akhirnya, memimpin Republik ini selama lebih dari tiga dekade. Sejarah, memang sering kali ditentukan oleh keputusan sepersekian detik di ruang-ruang komando yang sempit. (*)
Sumber bacaan : Kesaksian Letkol Omon Abdurrahman, dimuat di buku biografi Umar Wirahadikusumah
*) Source : Jani Sari Library
(*)
Editor : Bambang Harianto