Rachmadi Bambang Sumadhijo Sang Legenda Cipta Karya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ir. Rachmadi Bambang Sumadhijo.
Ir. Rachmadi Bambang Sumadhijo.
grosir-buah-surabaya

Di balik layar ketahanan Indonesia melewati badai krisis moneter 1998, ada figur-figur teknokrat tangguh yang bekerja keras menjaga urat nadi pembangunan negara agar tidak lumpuh. Salah satu nama penting yang menempati posisi krusial tersebut adalah Ir. Rachmadi Bambang Sumadhijo.

Birokrat murni dan ahli teknik sipil terkemuka ini merupakan Menteri Pekerjaan Umum (PU) dalam Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah pemerintahan Presiden B.J. Habibie. Setelah mendedikasikan sepanjang hidupnya untuk pembangunan fisik tanah air, tokoh bangsa kelahiran 11 Oktober 1940 ini mengembuskan napas terakhirnya pada 4 Desember 2024 dalam usia 84 tahun.

Alumnus Teknik Sipil ITB yang Merintis Karier dari Bawah

Keahlian Rachmadi di dunia infrastruktur berakar dari institusi pendidikan teknik terbaik bangsa. Ia menempuh studi di jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) pada periode tahun 1959 hingga lulus meraih gelar sarjana pada 1964.

Selepas dari kampus Ganesha, Rachmadi memilih jalur pengabdian sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Pekerjaan Umum (sekarang Kementerian PUPR). Ia merintis kariernya benar-benar dari bawah, melewati berbagai penugasan teknis di lapangan yang menempa kemampuannya dalam memahami seluk-beluk tata ruang, pemukiman, dan pembangunan nasional.

Menjadi Staf Ahli hingga Rekor Nyaris Satu Dekade Memimpin Cipta Karya

Kecerdasan, loyalitas, serta rekam jejaknya yang bersih membuat karier birokrasi Rachmadi terus menanjak tajam hingga masuk ke jajaran elite Departemen PU:

Periode 1990–1991: Ia dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Staf Ahli Menteri PU Bidang Pemanfaatan Sumber Daya Manusia. Di posisi ini, ia fokus merancang cetak biru peningkatan kapasitas para insinyur dan pekerja PU di seluruh Indonesia.

Periode 1991–1998: Kapasitas kepemimpinannya semakin diakui dunia penataan ruang saat ia dipromosikan menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya. Rachmadi memegang rekor yang cukup langka dengan memimpin Direktorat Jenderal vital ini selama nyaris tujuh tahun, sebuah era di mana modernisasi pemukiman dan penyediaan air bersih perkotaan sedang gencar-gencarnya dibangun.

Dipanggil Masuk Kabinet: Memulihkan Infrastruktur di Tengah Badai Krisis

Puncak pengabdian Rachmadi Bambang Sumadhijo terjadi pada Mei 1998. Di tengah situasi politik dan ekonomi nasional yang sedang membara akibat krisis moneter, Presiden B.J. Habibie memanggil sang Dirjen untuk naik kelas memimpin seluruh departemen sebagai Menteri Pekerjaan Umum periode 1998–1999.

Tugas yang dipikulnya saat itu sangat berat. Dengan anggaran negara yang serbaterbatas akibat depresiasi rupiah, Rachmadi dituntut melakukan mukjizat penyehatan anggaran. Ia berkontribusi besar dalam merumuskan kebijakan penyelamatan dan pemulihan infrastruktur nasional skala prioritas, memastikan jalan, jembatan, dan fasilitas publik tetap berfungsi demi menjaga perputaran roda ekonomi rakyat jelata agar tidak macet total.

Rachmadi Bambang Sumadhijo adalah potret asli dari seorang birokrat tulen. Dari meja gambar ITB, lorong-lorong birokrasi Cipta Karya, hingga kursi menteri, ia meninggalkan warisan berharga berupa dedikasi tanpa pamrih yang membuktikan bahwa kerja nyata seorang insinyur adalah fondasi utama tegaknya sebuah bangsa di masa sulit. (*)

*) Source : Nasrul Koto