Imam Ahmad bin Hanbal Terusir dari Masjid
Suatu hari, tanpa sebab yang Imam Ahmad bin Hambal mengerti... hatinya begitu kuat ingin pergi ke Bashrah. Tidak ada murid yang menunggu. Tidak ada majelis yang harus dihadiri. Hanya sebuah dorongan yang Allah letakkan di dalam hati seorang hamba. Maka berangkatlah ia seorang diri.
Senja mulai menguning ketika langkahnya sampai di sebuah masjid di Bashrah. Tubuhnya telah renta. Debu perjalanan masih melekat di ujung pakaiannya. Ia lalu berwudhu, berdiri bersama kaum muslimin, kemudian menunaikan shalat Isya dengan khusyuk.
Usai salam terakhir, jamaah satu per satu pulang. Masjid yang tadi ramai perlahan menjadi sunyi. Imam Ahmad memandang sekeliling. Ia hanyalah seorang musafir tua yang kelelahan. Dalam hati ia berkata, "Biarlah malam ini aku beristirahat di rumah Allah."
Imam Ahmad pun membaringkan tubuhnya di salah satu sudut masjid. Belum sempat mata itu terpejam, seorang marbot datang menghampiri. "Syaikh... sedang apa di sini?"
"Aku musafir. Izinkan aku beristirahat malam ini." Marbot itu menggeleng. "Tidak boleh. Tidak ada yang boleh tidur di masjid."
Imam Ahmad tidak membantah. Ia bangkit perlahan. Namun marbot itu tetap mendorong tubuh renta tersebut hingga keluar dari pintu masjid. Pintu kemudian ditutup. Dikunci.
Tak ada sedikit pun yang tahu... Bahwa lelaki tua yang baru saja didorong keluar itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Seorang ulama besar yang ilmunya menjadi cahaya bagi ribuan manusia. Seandainya saja ia berkata, "Aku Ahmad bin Hanbal."
Niscaya pintu masjid itu akan dibuka kembali. Tetapi ia memilih diam. Ia kemudian mencoba merebahkan tubuh di teras masjid. Namun belum lama berbaring, marbot itu kembali datang.
"Bukankah sudah kubilang? Di sini juga tidak boleh!" Tubuh renta itu kembali didorong. Kali ini hingga ke jalanan. Imam Ahmad tidak marah. Tidak membalas. Tidak pula menjelaskan siapa dirinya.
Ia hanya memandang langit malam yang mulai dipenuhi bintang. Mungkin dalam hati beliau berkata, "Ya Allah... tentu Engkau sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah."
Dan benar saja, di seberang jalan, seorang penjual roti sejak tadi memperhatikan semuanya. Hatinya terasa sesak melihat seorang musafir tua diperlakukan demikian. Ia segera memanggil, "Syaikh... kemarilah. Rumahku kecil. Tidak seindah masjid. Tapi jika engkau berkenan, bermalamlah di sana."
Kalimat itu sederhana. Namun bagi seorang musafir yang baru saja terusir, kalimat itu terasa seperti pelukan. Malam semakin larut. Di rumah kecil itu, Imam Ahmad duduk memperhatikan tuan rumahnya menguleni adonan.
Yang membuat beliau tertegun bukanlah rotinya. Melainkan lisannya. Saat tangannya menuang tepung, memecahkan telur, dan menyalakan api tungku, sang pemilik rumah berucap "Astagfirullah."
Tak ada satu pekerjaan pun yang terlewat tanpa istighfar. Seolah lisannya takut sedetik saja lupa kepada Allah. Imam Ahmad bertanya, "Sudah berapa lama engkau seperti ini?"
Lelaki tua itu tersenyum. "Kurang lebih tiga puluh tahun."
"Lalu apa yang engkau dapatkan?"
Matanya berbinar. "Demi Allah... belum pernah aku meminta sesuatu kepada-Nya, kecuali Dia kabulkan." Ia terdiam. Lalu suaranya melemah. "Kecuali satu doa."
"Doa apa itu?" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata penjual roti itu. "Aku hanya ingin, sebelum Allah mengambil nyawaku dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada beliau. Karena ilmunya telah membuatku lebih mengenal Rabbku."
Hening. Api tungku masih menyala. Namun malam itu terasa begitu sunyi. Imam Ahmad menundukkan wajahnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Betapa indah cara Allah mengabulkan doa seorang hamba.
Beliau lalu berdiri. Memeluk erat penjual roti itu. Dengan suara yang bergetar beliau berbisik, "Bergembiralah. Allah telah mengabulkan doamu. Akulah Ahmad bin Hanbal." Tubuh penjual roti itu seketika lemas. Tangannya gemetar. Air matanya pecah. Ia menangis dalam pelukan orang yang selama puluhan tahun hanya ia kenal lewat ilmu dan doa. (*)
Editor : Bambang Harianto