Datu Kalampayan, Ulama Banjar Penulis Kitab Rujukan Global
Nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau yang akrab di telinga masyarakat Kalimantan dengan sebutan Datu Kalampayan (1710–1812) adalah legenda besar di panggung sejarah Islam Nusantara. Beliau bukan sekadar ulama lokal biasa dari Kesultanan Banjar, melainkan seorang pemikir genius yang buah karyanya melintasi samudra hingga diakui sebagai rujukan ilmiah keagamaan dunia.
Gagasan dan warisan keilmuannya terus hidup, menginspirasi jutaan umat Islam di Asia Tenggara hingga melintasi batas-batas benua.
Tiga Dekade Menimba Ilmu di Tanah Suci
Lahir di Lok Gabang pada 17 Maret 1710, kecerdasan luar biasa Muhammad Arsyad muda menarik perhatian Sultan Banjar saat itu, Sultan Tahlilullah. Menyadari adanya potensi besar pada diri pemuda ini, Sultan memutuskan untuk membiayai penuh perjalanannya ke Makkah demi memperdalam ilmu agama saat beliau berusia sekitar 30 tahun.
Selama lebih dari tiga puluh tahun menetap di Makkah, Syekh Muhammad Arsyad berguru kepada ulama-ulama besar dunia. Setelah dinyatakan memiliki bekal keilmuan yang mumpuni, beliau akhirnya memutuskan pulang ke kampung halaman untuk mengabdi.
Namun, kepulangan beliau diwarnai suasana kepemimpinan baru. Sultan Tahlilullah yang dulu memberangkatkannya telah wafat, dan takhta Kesultanan Banjar kala itu telah dipegang oleh cucunya, Sultan Tahmidullah II.
"Sabilal Muhtadin": Mahakarya Fikih yang Mendunia
Sultan Tahmidullah II menyambut hangat kepulangan sang ulama besar. Sebagai pemimpin yang menaruh perhatian tinggi terhadap perkembangan Islam, Sultan secara khusus meminta Syekh Muhammad Arsyad untuk menulis sebuah kitab hukum ibadah (fikih) yang lengkap.
Dari permintaan itulah lahir kitab monumental berjudul Sabilal Muhtadin (Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-Din). Kitab berbahasa Melayu beraksara Jawi ini mengulas tuntas fikih mazhab Imam Syafi'i dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat Nusantara kala itu.
Kehebatan kitab ini melampaui zamannya:
Rujukan Utama Asia Tenggara: Menjadi buku panduan ibadah utama di Malaysia, Brunei, Singapura, hingga Thailand Selatan.
Referensi Universitas Al-Azhar : Kitab ini diapresiasi tinggi dan masuk dalam literatur keilmuan di universitas Islam tertua dan paling prestisius di Kairo, Mesir.
Diabadikan sebagai Nama Masjid Agung : Keagungan kitab ini diabadikan sebagai nama Masjid Raya Sabilal Muhtadin, salah satu masjid terbesar di Banjarmasin.
"Dalam Pagar" : Pusat Pendidikan Islam Pertama di Kalimantan
Sekembalinya dari tanah suci, Syekh Muhammad Arsyad tidak hanya menulis, tetapi langsung bergerak membangun peradaban nyata. Beliau merintis pusat pengajaran hukum Islam pertama di Kalimantan Selatan dengan membuka sebuah kawasan pendidikan yang dinamakan Dalam Pagar.
Kawasan yang awalnya merupakan hutan belantara ini lambat laun menjelma menjadi perkampungan pendidikan yang sangat ramai dipadati oleh para penuntut ilmu dari berbagai daerah. Dari rahim Dalam Pagar inilah lahir generasi baru ulama-ulama hebat yang kelak menyebarkan syiar Islam ke seluruh pelosok Kalimantan.
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari wafat pada 13 Oktober 1812 dalam usia yang sangat sepuh, yaitu 102 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Kalampayan Tengah, Astambul, Kabupaten Banjar, meninggalkan warisan intelektual yang tak lekang oleh waktu bagi umat Islam dunia. (*)
Editor : Bambang Harianto