Hotel Sultan dan Keoknya Dinasti Ibnu Sutowo

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Adiguna Sutowo
Adiguna Sutowo
grosir-buah-surabaya

18 Juni 2026. Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung kawasan elite Jakarta. Hari itu, negara merampungkan apa yang gagal dilakukan sejak 26 tahun lalu : merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo.

Nilai aset Rp 28,9 triliun - eksekusi perdata terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Hotel ini bermula dari tipu daya : Gubernur Ali Sadikin meminta Pertamina membangun hotel pada tahun 1971. Ibnu Sutowo menyanggupi - tapi membangunnya atas nama PT Indobuildco milik pribadinya. 

"Saya tertipu," kata Ali Sadikin.

Digdaya Keluarga Sutowo

Ibnu Sutowo merupakan Dokter lulusan NIAS Surabaya yang semula memberantas malaria di Palembang. Tak ada yang mengira Ibnu Sutowo akan menjadi salah satu sosok paling berkuasa di Indonesia.

Karier militernya membawanya ke posisi Deputi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Lalu tahun 1957 memimpin PT Permina, cikal bakal Pertamina. Ketika Soeharto berkuasa, Ibnu Sutowo dilantik sebagai Direktur Utama pertama Pertamina, tahun 1968.

Majalah Tempo menyebutnya "The Second Most Powerful Man in Indonesia" - tepat di bawah Soeharto sendiri.

Dompet Rezim Orde Baru

Pertamina di tangan Ibnu bukan sekadar Badan Usaha Milik Negara (BUMN), melainkan kas bayangan Orde Baru. Usai lonjakan harga minyak pada tahun 1973, Ibnu Sutowo mendanai proyek Soeharto di luar APBN, mengalirkan patronase ke militer dan pejabat, membangun bisnis pribadi dari uang negara.

Pertamina beroperasi tanpa pengawasan Badan Pembangunan Nasional (Bappenas), tanpa laporan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ketika jurnalis Mochtar Lubis gencar mengkritik - yang dipenjara Mochtar, bukan Ibnu Sutowo. Itulah harga perlindungan Soeharto : selama uang mengalir, hukum tidak berlaku.

Pilar Penerus: Pontjo Sutowo

Dari tujuh anak Ibnu Sutowo, Pontjo Nugroho Sutowo mewarisi Hotel Sultan lewat PT Indobuildco. la juga membangun galangan kapal PT Adiguna Shipyard bersama sang adik dan memperkuat posisi sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Dan Putra Putri TNI POLRI (FKPPI) - jaringan sosial-politik berakar militer, DNA Orde Baru yang bertahan.

Selama 26 tahun, Pontjo berjuang di setiap tingkat pengadilan. Kalah di semua tingkatan. Pada 18 Juni 2026, ia memilih tidak hadir menyaksikan eksekusi Hotel Sultan.

Pilar Penerus : Adiguna Sutowo

Putra bungsu Ibnu Sutowo, Adiguna Sutowo, memilih jalur berbeda : mendirikan MRA Group - di bawahnya ada Hard Rock Cafe, Ferrari Jakarta, Cosmopolitan FM, Bvlgari Resort Bali. Kariernya ternoda ketika terlibat penembakan pelayan bar di Hotel Hilton, malam Tahun Baru 2005, divonis tujuh tahun penjara.

Adiguna meninggal pada tahun 2021. MRA Group kini dipimpin putranya, Maulana Indraguna - suami aktris Dian Sastrowardoyo. Dari sumur minyak negara ke majalah Cosmopolitan dan sneakers Atmos.

Takdir Relasi Negara

Kekayaan Ibnu Sutowo lahir dari akses - ke kekuasaan, ke patron, ke lahan negara. Ketika akses itu dicabut, kerajaan perlahan retak: Hard Rock Jakarta tutup, lisensi Ferrari berpindah, Hotel Sultan dieksekusi. 

Pelajarannya sederhana : kekayaan yang dibangun dari relasi, bukan institusi, tidak bertahan melampaui generasi yang membangunnya. (*)