Kisah Syafaat Berkat Debu Jejak Wali Allah

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani
Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani
grosir-buah-surabaya

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani lahir pada hari Rabu, 1 Ramadan 470 Hijriyah (bertepatan dengan tahun 1077 Masehi), di wilayah selatan Laut Kaspia (sekarang masuk wilayah Provinsi Mazandaran, Iran). Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin umat, dan berpegang teguh pada Mazhab Hambali.

Berikut adalah kisah luar biasa tentang keagungan derajat beliau di sisi Allah SWT :

Suatu ketika, ada seorang warga yang meninggal dunia dan dimakamkan. Namun, tak lama setelah dikuburkan, warga sekitar mendengar suara jeritan dan tangisan pilu keluar dari dalam kuburnya. Suara itu terdengar sangat menyedihkan, seolah orang itu sedang mengalami siksaan yang berat.

Berita ini sampai ke telinga para murid Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Mereka pun segera melapor kepada Guru Besar mereka itu. Mendengar kabar tersebut, Syekh Abdul Qadir langsung bergegas menuju lokasi makam. Masyarakat yang ada di sana memohon kepada beliau,

"Wahai Syekh, mohonlah kepada Allah agar siksaan orang ini diangkat dan diampuni dosa-dosanya."

Syekh Abdul Qadir pun mulai bertanya kepada para murid dan warga yang ada disana :

"Apakah almarhum ini termasuk murid atau sahabat dekatku?"

Mereka menjawab, "Bukan, wahai Syekh."

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani bertanya lagi, "Pernahkah kalian melihatnya hadir duduk di majelis pengajianku?"

Jawab mereka, "Beliau tidak pernah sekalipun datang ke majelismu."

"Lalu, apakah ia pernah masuk ke masjid hanya untuk mendengarkan ceramahku atau ikut shalat di belakangku?" tanya Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani kembali.

"Tidak pernah sama sekali, wahai Syekh," jawab mereka.

"Apakah aku pernah melihat wajahnya atau berjumpa dengannya?"

"Tidak pernah."

"Apakah dia pernah melihatku secara langsung?"

"Tidak pernah sama sekali, wahai Syekh."

Saat suasana mulai hening, salah seorang warga angkat bicara,

"Wahai Syekh, ada satu hal yang pernah kulihat. Suatu hari, almarhum ini berjalan melintas di jalanan, tepat setelah Engkau dan rombongan baru saja lewat pulang dari majelis. Saat itu beliau melihat debu yang mengepul dan beterbangan bekas jejak kuda-kuda rombonganmu. Saat itu pula dia berkata dengan kagum: 'Wah, ini debu bekas rombongan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani yang baru saja lewat.' Dia sangat menghormati debu jejak itu."

Mendengar penjelasan itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani pun segera mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa dengan penuh harap :

"Ya Allah, hamba ini tidak pernah berjumpa, tidak pernah belajar, dan tidak pernah shalat bersamaku. Namun, dia pernah melihat debu bekas jejak kami, dan dia menghormati serta mengagungkan debu itu.

Ya Allah, jika Engkau mencintai hamba-hamba pilihan-Mu ini, maka demi kasih sayang-Mu kepada kami, aku memohon kepada-Mu: angkatlah segala hukuman dan siksaan dari hamba-Mu ini, dan ampunilah segala dosanya."

Seketika itu juga, jeritan dan suara siksaan dari dalam kubur berhenti sama sekali.

Subhanallah... Hanya dengan melihat dan menghormati debu bekas jejak perjalanan Wali Allah saja, seseorang sudah mendapatkan syafaat yang luar biasa di alam kubur. Lalu bagaimana nasib para murid, kekasih, dan orang-orang yang siang malam duduk di majelis beliau, yang sungguh-sungguh mencintai dan meneladani ajaran beliau? Pasti keutamaannya jauh lebih dahsyat lagi.

Dari kisah ini, kita belajar satu hal besar: Sangatlah penting bagi seorang muslim untuk mencintai, menghormati, dan mendekatkan diri kepada orang-orang saleh dan para Wali Allah. Karena merekalah perantara yang mulia antara kita dengan Allah SWT.

Allah sendiri berfirman dalam Hadits Qudsi riwayat Imam Bukhari:

"Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berfirman kepada Malaikat Jibril: 'Wahai Jibril, Aku mencintai hamba-Ku ini, maka umumkanlah kepada seluruh penduduk langit agar mereka pun mencintainya.' Maka Jibril pun mencintai hamba itu karena Allah, lalu mengumumkannya ke seluruh penjuru langit, sehingga seluruh malaikat pun ikut mencintainya."

Semoga kita semua termasuk golongan yang mencintai para kekasih Allah, mendapatkan syafaat mereka, dan dicintai oleh Allah SWT di langit maupun di bumi.

Aamiin.. Aamiin.. Aamiin Ya Rabbal Alamin

Wallahu a'lam bishawab

*) Sumber : Buku Keberkahan Sulthanul Awliya Al Imam Al Quthbul Rabbani Al Ghaust Al'Adzom Karya As-Sayyid Asy-Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.