Gema Adzan yang Dibayar dengan Nyawa di Tragedi Syahidnya Adnan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Tragedi Syahidnya Adnan Menderes
Tragedi Syahidnya Adnan Menderes
grosir-buah-surabaya

"Pertahankanlah aku! Karena sesungguhnya aku bukan seorang tiran, dan aku tak pernah berniat membawa sistem ini menuju kediktatoran."

Kalimat lirih itu keluar dari lisan Adnan Menderes, Perdana Menteri Turki yang keberaniannya mengguncang dunia. Pada tahun 1950, ia melangkah ke panggung politik dengan membawa "Program Terlarang"—sebuah manifesto yang oleh para pakar Barat diprediksi akan hancur lebur, namun justru menjadi kunci kemenangan mutlak yang tak terbayangkan.

Sebuah Janji di Atas Sajadah

Program Menderes sangat sederhana namun revolusioner: mengembalikan Adzan ke dalam bahasa Arab, mengizinkan rakyat kembali berhaji, menghidupkan pendidikan agama di sekolah-sekolah, menghapus campur tangan negara terhadap pakaian wanita, dan membebaskan rakyat menjalankan ibadah sesuai keyakinan mereka.

Hasilnya? Sebuah kejutan yang meruntuhkan sendi-sendi kekuasaan lama. Partai Demokrat (DP) pimpinan Menderes menyapu bersih 408 kursi, meninggalkan partai sekuler bentukan Ataturk yang hanya mampu meraih 69 kursi. Turki telah memilih nuraninya kembali.

Hadiah Ramadhan: Adzan Kembali Berkumandang

Menderes tak ingkar janji. Dalam sidang kabinet pertamanya yang digelar tepat pada 1 Ramadhan, ia memberikan "hadiah suci" bagi rakyat Turki: Gema Adzan dalam bahasa Arab kembali membelah langit Anatolia. Kejayaannya tak terbendung. 

Pada pemilu 1954, ia menang lebih besar lagi. Di bawah kepemimpinannya :

- 10.000 masjid dibangun.

- 25.000 sekolah tahfidz Al-Qur'an didirikan.

- 22 institut untuk mencetak para dai dan khatib dibuka di seluruh pelosok.

- Masjid-masjid yang sebelumnya dijadikan gudang gandum oleh rezim sebelumnya, ia sucikan kembali sebagai rumah ibadah.

Keberanian di Panggung Dunia 

Adnan Menderes tidak hanya memperbaiki rumahnya sendiri; ia menoleh ke saudara-saudaranya di dunia Arab. Ia mengambil sikap tegas terhadap entitas zionis, memperketat pengawasan barang-barang mereka, bahkan mengusir duta besar mereka pada tahun 1956. Keberpihakannya pada Islam membuat musuh-musuh di dalam dan luar negeri mulai menyusun rencana gelap.

Tiang Gantungan untuk Sang Pembela Agama

Pada 27 Mei 1960, kegelapan datang. Jenderal Cemal Gürsel meluncurkan kudeta militer. Menderes ditangkap, partainya dibekukan, dan ia diseret ke pengadilan sandiwara. Tuduhannya sangat jelas : "Mengembalikan Adzan ke bahasa Arab dan mencoba mengembalikan Turki ke pelukan Islam."

Pada 17 September 1961, sang Singa Anatolia itu melangkah menuju tiang gantungan. Jurnalis Sami Kohen menuliskan sebuah kesaksian pedih :

"Alasan utama yang membawa Menderes ke tali gantungan adalah kebijakannya yang mendekat ke dunia Islam dan menjauhnya hubungan kita dengan penjajah zionis. Sebenarnya, mereka membunuhnya hanya karena ia mengembalikan Turki kepada Islam."

Inilah wajah dari sekularisme ekstrem yang tak mengenal toleransi jika berkaitan dengan iman. Semoga Allah merahmati sang syahid, Adnan Menderes, yang membayar harga sebuah gema Adzan dengan nyawanya sendiri. (*)