Tan Sri Rais Yatim, Anak Kandung Perantau Sukses Jadi Menteri Malaysia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Tan Sri Rais Yatim
Tan Sri Rais Yatim
grosir-buah-surabaya

Dalam panggung politik kontemporer Malaysia, nama Tan Sri Dato' Seri Utama Dr. Rais bin Yatim berdiri sebagai salah satu begawan politik dan diplomat senior yang paling dihormati. Di balik karier politiknya yang cemerlang di negeri jiran, sosok intelektual ini memiliki ikatan darah (darah nan takararek) yang sangat kuat dengan Ranah Minang, Sumatera Barat.

Lahir di Jelebu, Negeri Sembilan, pada 15 April 1942, Tan Sri Rais Yatim merupakan putra kandung dari pasangan perantau asal Jorong Sipisang, Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Ayahnya, Mohammad Yatim yang bergelar Pandeka Takue, bersama sang ibu, Siandam, berlayar merantau ke Malaya pada medio tahun 1920-an. Kendati lahir, tumbuh besar, dan mengabdikan seluruh hidupnya di Malaysia, identitas serta kecintaan Tan Sri Rais Yatim terhadap kebudayaan Minangkabau dan adat serumpun tidak pernah luntur.

Intelektual Hukum Berkaliber Internasional

Sebelum melangkah jauh di belantara politik, Tan Sri Rais Yatim merupakan seorang akademisi dan praktisi hukum yang disegani. Ia menempuh pendidikan tinggi di bidang hukum dan berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) dari kampus elite dunia, King's College London, Inggris, pada tahun 1994 dengan fokus riset pada hukum tata negara dan kebebasan eksekutif.

Kombinasi antara ketajaman latar belakang hukum dan karisma personalnya membuat Rais Yatim tumbuh menjadi politikus senior yang sangat diperhitungkan. Ia tercatat telah dipercaya menduduki kursi kabinet sebagai menteri sejak tahun 1978 di bawah beberapa perdana menteri yang berbeda.

Sepanjang pengabdiannya, Rais mengemban berbagai portofolio kementerian yang sangat strategis. Di ranah eksekutif wilayah, ia pernah menjabat sebagai Menteri Besar Negeri Sembilan. Sementara di level federal (nasional), ia dipercaya menakhodai kementerian-kementerian vital, termasuk di antaranya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Malaysia, serta Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia.

Puncak Karier Legislatif dan Penjaga Hubungan Serumpun

Puncak dari dedikasi panjangnya di dunia politik parlementer terjadi ketika ia terpilih dan dilantik menjadi Presiden Dewan Negara (Ketua Senat) Malaysia untuk periode 2020–2023. Jabatan ini merupakan salah satu posisi tertinggi dalam struktur legislatif dan tata negara Malaysia.

Sebagai tokoh bangsa yang dihormati di kedua negara, Rais Yatim dikenal sangat vokal dan sensitif dalam menjaga marwah serta keharmonisan hubungan diplomatik antara Malaysia dan Indonesia sebagai bangsa serumpun. Ketegasannya kembali teruji pada Desember 2025 lalu. 

Kala itu, Rais Yatim melayangkan teguran keras terhadap komentar-komentar yang dinilai meremehkan aksi bantuan kemanusiaan antarkedua negara. Langkah ini menegaskan posisinya sebagai diplomat jembatan yang selalu mengedepankan nilai-nilai kesantunan, etika, dan saling menghormati dalam hubungan bilateral Jakarta-Kuala Lumpur.

Kini, di usianya yang telah menginjak 84 tahun, Tan Sri Rais Yatim tidak hanya dipandang sebagai aset berharga bagi politik Malaysia, melainkan juga menjadi simbol hidup dari kedahsyatan filosofi merantau orang Minangkabau : di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ia menjadi bukti nyata bahwa anak kandung perantau pelosok Agam mampu duduk sama rendah dan tegak sama tinggi di tampuk kekuasaan tertinggi negara tetangga. (*)