Irwandi Jaswir, Urang Minangkabau yang Jadi Ilmuwan Halal Dunia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Irwandi Jaswir
Irwandi Jaswir
grosir-buah-surabaya

Perjalanan hidup Profesor Irwandi Jaswir adalah bukti nyata bahwa keterbatasan lahiriah bukanlah penghalang untuk mengguncang panggung dunia. Lahir di Medan pada 20 Desember 1970 dari darah asli Minangkabau, anak keenam dari tujuh bersaudara ini tumbuh dalam kesederhanaan. 

Ayahnya, Jaswir Rajo Ameh, adalah seorang pedagang keliling antar-Sumatra yang hanya tamatan sekolah dasar, sementara ibunya, Sudarni, merupakan lulusan madrasah tsanawiyah yang mendedikasikan hidup sebagai ibu rumah tangga.

Masa kecil Irwandi dihabiskan di kampung halaman orang tuanya, tepatnya di Jorong Baringin, Nagari Koto Tangah, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di sinilah mental petarungnya dibentuk. Saban hari, Irwandi kecil harus berjalan kaki sejauh satu kilometer menuju sekolah dasar. Namun, di balik langkah kaki kecilnya itu, tersimpan kecerdasan yang luar biasa. Ia gemar menulis cerita dan mengirimkannya ke koran lokal. 

Puncaknya, di kelas lima Sekolah Dasar (SD), ia berhasil menyabet beasiswa prestasi. Sebagian uangnya ia tabung, dan sebagian lagi ia belikan sepeda—kendaraan yang kemudian menemaninya menuntut ilmu ke SMP Negeri Tilatang Kamang.

Setamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bukittinggi pada tahun 1989, pintu kesuksesan akademisnya mulai terbuka lebar. Ia diterima tanpa tes melalui jalur undangan di Jurusan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah meraih gelar sarjana pada tahun 1993, ia sempat mengabdi sebagai asisten dosen sebelum akhirnya terbang ke Malaysia pada tahun 1994 berkat beasiswa magister di Universitas Pertanian Malaysia (kini UPM) dalam bidang Food Science and Biotechnology.

Di negeri jiran, kecemerlangannya kian tak terbendung. Selama studi S2, Irwandi menerbitkan empat karya ilmiah dunia, di mana salah satu makalahnya dinobatkan sebagai karya terbaik bidang pangan di Malaysia. Konsistensi ini membawanya meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) pada tahun 2000 dari kampus yang sama, yang juga sempat diperkaya lewat program PhD Twinning di Universitas British Columbia, Kanada.

Melihat potensi emasnya, Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) langsung meminangnya menjadi dosen. Di sanalah Irwandi memelopori Program Studi Bioteknologi yang kini menjadi salah satu jurusan paling favorit. Dari sinilah, ia memulai riset mendalam mengenai halal science (ilmu pengetahuan halal), sebuah bidang yang berfokus pada inovasi bioteknologi untuk mendeteksi kandungan non-halal serta mencari alternatif bahan halal untuk industri pangan dan farmasi medis skala global.

Kepakarannya tersebut membuahkan rentetan penghargaan internasional yang sangat prestisius. Pada tahun 2009, ia menyabet peringkat kedua "Anugerah Saintis Muda Asia Pasifik" di Bangkok, bersaing dengan peneliti tangguh dari 23 negara. Setahun kemudian, riset struktur nano kolagen alternatif miliknya memenangkan Best Innovation Award pada World Halal Research Summit 2010. Di dalam negeri, dedikasinya diganjar dengan Anugerah Habibie pada tahun 2013 dalam bidang kedokteran dan bioteknologi.

Puncak pengakuan dunia terjadi pada tahun 2018. Kerajaan Arab Saudi menganugerahkan Penghargaan Internasional Raja Faisal (King Faisal International Prize) untuk kategori Pelayanan Islam kepada Profesor Irwandi Jaswir. 

Penghargaan tertinggi ini diberikan karena riset sains halalnya dinilai sangat berjasa mempermudah umat Muslim di seluruh dunia dalam memilih produk yang sesuai syariat melalui pendekatan ilmiah modern. Prestasi monumental ini sekaligus mencatatkan namanya sebagai orang Indonesia kedua dalam sejarah yang menerima penghargaan tersebut, setelah tokoh bangsa Mohammad Natsir pada tahun 1980.

Kini, di balik statusnya sebagai ilmuwan besar dunia, koordinator riset di Halal Industry Research Centre IIUM, dan penulis puluhan jurnal ilmiah internasional, Profesor Irwandi tetaplah seorang kepala keluarga yang hangat bagi istrinya, Fitri Octavianti (seorang dokter gigi), dan keempat anak mereka. Kisah hidup sang profesor dari kayuh sepeda di pelosok Agam hingga ke podium kehormatan Riyadh adalah inspirasi abadi bahwa karakter, kerja keras, dan ilmu yang bermanfaat mampu membawa nama Urang Minang dan Indonesia harum di puncak peradaban sains dunia. (*)