Nursyirwan Effendi, Pakar Antropologi Unand Lulusan Jerman
Mengkaji dinamika sosial, pasar tradisional, dan pembangunan ekonomi masyarakat tidak bisa dilepaskan dari sudut pandang budaya. Di Indonesia, salah satu pakar yang konsisten membedah keterkaitan tersebut adalah Nursyirwan Effendi.
Lahir di Jakarta pada 24 Juni 1964, Nursyirwan Effendi dikenal luas sebagai Guru Besar Ilmu Antropologi Universitas Andalas (Unand). Sebagai akademisi senior, ia telah mendedikasikan ilmunya lewat berbagai posisi strategis, mulai dari Dekan FISIP Unand (2012–2016), Direktur Sekolah Pascasarjana Unand (2020–2024), hingga dipercaya memimpin organisasi profesi sebagai Ketua Umum Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) periode 2010–2015.
Darah Akademisi dan Pendidikan Kelas Dunia
Dunia akademik bukanlah hal baru bagi Nursyirwan. Ia merupakan putra dari Prof. Dr. H. Aminuddin Rasyad, seorang guru besar ilmu pendidikan yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada era 1980-an.
Tumbuh dan menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Jakarta, Nursyirwan kemudian memilih jalur ilmu sosial dengan berkuliah di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia (UI) dan lulus pada tahun 1989. Sisi intelektualnya kian matang berkat jejaring internasional:
Tahun 1992: Mengikuti Internship Program bidang Antropologi di School of Oriental and African Studies (SOAS), London, Inggris.
Tahun 1999: Meraih gelar Doctor Rerum Sozialwissenshaften (Dr. rer.soz) bidang Antropologi Sosial dari Universität Bielefeld, Jerman. Tak main-main, ia lulus dengan predikat Magna Cum Laude setelah berhasil mempertahankan disertasi mendalam mengenai sistem dan fungsi pasar tradisional di pedesaan Minangkabau.
Mengabdi di Kampus Limau Manis
Nursyirwan memulai pengabdiannya sebagai dosen tetap di Jurusan Antropologi Unand pada Januari 1990. Di kampus ini, keahliannya tidak hanya dimanfaatkan di tingkat sarjana, tetapi juga di program magister dan doktor untuk studi Pembangunan Wilayah Pedesaan, Lingkungan, hingga Politik Lokal. Selain di Unand, Nursyirwan Effendi juga aktif mengajar sebagai dosen luar biasa di Universitas Negeri Padang (UNP).
Pada 24 Juni 2011, Nursyirwan resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Metode Penelitian Masyarakat bidang Ilmu Antropologi FISIP Unand. Dalam pidato pengukuhannya yang monumental, ia menekankan pentingnya memahami konstruksi budaya khas Indonesia berbasis riset nyata di lapangan (research-based insight).
Sebelum menduduki kursi dekan dan direktur pascasarjana, rekam jejak birokrasinya di Universitas Andalas (Unand)sudah teruji sejak muda. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Jurusan Antropologi, Sekretaris LPM Universitas Andalas (Unand), serta Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Padang untuk wilayah kerja Sumbar, Bengkulu, dan Sumsel.
Sisi Kehidupan Pribadi
Di luar aktivitas riset dan biokrasi kampus, Prof. Nursyirwan membangun keluarga yang harmonis bersama sang istri, Dr. Hj. Eka Fauzihardani, yang juga berkarier di dunia akademik sebagai dosen di Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang (UNP). Pernikahan pasangan akademisi ini dikaruniai empat orang anak.
Melalui dedikasi risetnya terhadap ekonomi masyarakat lokal dan kepemimpinannya di berbagai institusi, Prof. Nursyirwan Effendi terus membuktikan bahwa antropologi bukan sekadar ilmu masa lalu, melainkan instrumen penting dalam merancang pembangunan masa depan bangsa. (*)
Editor : S. Anwar