Harsono Tjokroaminoto Jadi Penasihat Gerilya Jenderal Soedirman

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
H.O.S. Tjokroaminoto
H.O.S. Tjokroaminoto
grosir-buah-surabaya

Di balik nama besar H.O.S. Tjokroaminoto sang "Raja Jawa Tanpa Mahkota," mengalir darah perjuangan yang sama kuatnya pada anak-anaknya. Salah satu putra terbaiknya yang menorehkan sejarah emas bagi republik adalah Harsono Tjokroaminoto.

Lahir pada 24 April 1912, Harsono tumbuh menjadi politikus ulung yang berprinsip teguh dan nonkooperatif terhadap penjajah Belanda. Adik kandung dari Siti Oetari (istri pertama Bung Karno) ini memiliki rekam jejak yang luar biasa: mulai dari guru pergerakan, mendekam di sel kejam Kempeitai Jepang, hingga mendampingi Panglima Besar Jenderal Soedirman menembus hutan dalam perang gerilya.

Dari Ruang Kelas, Biro Pers, hingga Siksaan Kempeitai

Garis perjuangan Harsono dimulai dari dunia pendidikan dan literasi. Di zaman kolonial Belanda, ia mendedikasikan dirinya sebagai guru di Kweekschool (sekolah guru) milik Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan dipercaya menjadi pengawas sekolah wilayah PSII di Sulawesi Utara. Tajam dalam berpikir, Harsono juga aktif memimpin berbagai surat kabar dan majalah yang berhaluan Islam-politik, serta menulis banyak brosur propaganda kemerdekaan.

Ketika Jepang masuk menggantikan Belanda, Harsono menyusup ke dalam Domei (kantor berita bentukan Jepang) di Jakarta. Namun, aktivitas bawah tanahnya bersama gerakan pemuda yang ingin meruntuhkan kekuasaan Jepang tercium oleh intelijen militer. Akibatnya, ia ditangkap dan sempat meringkuk di dalam sel tahanan Kempeitai, polisi militer Jepang yang terkenal sangat kejam menyiksa para aktivis pergerakan.

Siksaan itu tidak mematahkan nyalinya. Begitu bebas, ia langsung hadir sebagai perwakilan pemuda Islam dalam Konferensi Pemuda di Villa Isola, Bandung pada Mei 1945—sebuah pertemuan krusial beberapa bulan sebelum proklamasi dikumandangkan.

Tameng Diplomasi dan Penasihat Pribadi Jenderal Soedirman

Saat revolusi fisik berkecamuk setelah kemerdekaan, Harsono memegang peranan yang sangat vital di garis depan dan belakang layar. Di medan laga, ia ditunjuk langsung menjadi penasihat pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ketika sang Panglima yang sedang didera sakit parah memutuskan keluar masuk hutan demi memimpin perang gerilya, Harsono setia ikut mendampingi dan bergerak bersama pasukan.

Di ranah politik kepemerintahan, kiprah Harsono sangat mentereng. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Negara dalam Kabinet Natsir (1950) dan naik menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Burhanuddin Harahap pada tahun 1955.

Tak hanya itu, Harsono merupakan tokoh kunci dalam Panitia RIS-RI yang berjuang keras mengembalikan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di kancah internasional, Tjokroaminoto memimpin goodwill mission (misi persahabatan) Indonesia ke negara-negara Islam, hingga didaulat menjadi Presiden Kongres Pemuda Islam se-Dunia.

Pembersih Aparatur Negara hingga Akhir Hayat

Memasuki era Orde Baru, kepakaran dan ketegasan Harsono tetap dibutuhkan oleh negara. Di jajaran eksekutif, ia dipercaya mengemban jabatan sebagai Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara. Tugas beratnya adalah menata ulang dan "membersihkan" birokrasi Indonesia pasca-pergolakan politik demi menciptakan pemerintahan yang bersih.

Setelah menuntaskan tugas kabinetnya, Harsono diutus menjadi Duta Besar RI untuk Swiss pada kurun waktu 1972–1975. Sepulangnya ke tanah air, ia didaulat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1976–1978). Di sela-sela masa pensiunnya dari dunia politik, ia menyumbangkan pemikirannya ke dunia pendidikan dengan menjabat sebagai Rektor Universitas Tjokroaminoto.

Berpulang ke Pangkuan Bumi Pertiwi

Setelah mengabdikan seluruh hidupnya melintasi berbagai zaman dan rezim, Harsono Tjokroaminoto mengembuskan napas terakhirnya pada 22 April 1992 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, tepat dua hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-80.

Keesokan harinya, jasad sang pejuang besar ini dihantarkan dengan upacara penghormatan negara ke tempat peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPU) Kalibata. Langkah kakinya boleh terhenti, namun nama Harsono Tjokroaminoto akan selalu abadi sebagai representasi kepemimpinan Islam yang moderat, tegas, dan berintegritas tinggi. (*)