Dalam lingkaran elite kekuasaan Orde Baru, nama Joop Ave (5 Desember 1934 – 5 Februari 2014) menempati posisi yang amat istimewa. Pria kelahiran Yogyakarta keturunan Belanda ini bukan sekadar seorang birokrat, melainkan salah satu orang paling dekat, supel, dan dipercaya penuh oleh Presiden Soeharto serta Ibu Tien Soeharto untuk mengawal marwah istana hingga menakhodai gerbang pariwisata Indonesia.
Diplomat Muda Multibahasa yang Menembus Istana
Baca juga: Alamsyah Ratu Perwiranegara di Balik Formula Kerukunan Agama Era Pak Harto
Darah diplomat dan intelektual sudah mengalir dalam diri Joop Ave sejak muda. Dibesarkan oleh ibunya yang sempat menetap di Los Angeles, Amerika Serikat, Joop tumbuh menjadi pemuda yang fasih menguasai empat bahasa asing sekaligus: Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.
Pendidikan formalnya ditempuh di Akademi Dinas Luar Negeri (lulus 1957) dan sempat mengecap bangku kuliah di Universitas Filipina, Manila. Joop mengawali kariernya dari dunia penyiaran sebagai penulis sekaligus penyiar program bahasa Prancis di RRI Voice of Indonesia pada tahun 1957, sebelum akhirnya resmi bergabung dengan Departemen Luar Negeri.
Karier diplomatiknya melesat dari bawah. Ia pernah ditugaskan di Konsulat Jenderal RI di New York, Amerika Serikat (1967), hingga naik pangkat menjadi Sekretaris I (1970) dan Konsuler (1972).
Menjadi "KSP" Muda dan Guru Privat Presiden
Karakter Joop Ave yang humoris, tegas, dan pandai bergaul memikat hati Presiden Soeharto. Di usianya yang terbilang masih sangat muda, Joop ditarik ke lingkaran utama kekuasaan untuk menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Istana Presiden (1972–1978). Posisi ini memiliki tanggung jawab dan pengaruh besar yang setara dengan posisi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) di era modern saat ini.
Kedekatannya dengan Soeharto melampaui urusan dinas formal. Menurut kesaksian adik Soeharto, Probosutedjo, Joop Ave secara khusus diminta menjadi guru privat bahasa Inggris bagi Presiden Soeharto, yang pada awal masa pemerintahannya belum fasih berbahasa Inggris.
Tak hanya itu, Joop adalah sosok setia yang kerap kali diminta mendampingi Sang Jenderal Tersenyum dalam melakukan kunjungan rahasia (incognito) tanpa pengawalan ketat ke pelosok-pelosok desa guna melihat langsung kondisi rakyat.
Baca juga: Politik Pecah Belah di Indonesia Dalam Buku Antonio Gramsci
Hubungannya dengan lingkaran Cendana kian erat lantaran ia mendapat restu dari Ibu Tien Soeharto untuk dianugerahi gelar kebangsawanan Raden Mas Kanjeng Haryo Condronegoro oleh Mangkunegara VIII. Kedekatan kultural ini pula yang membuatnya ditunjuk memimpin tim khusus untuk menyelidiki penyebab kebakaran besar yang melanda Istana Kraton Surakarta pada masa itu.
Maestro Protokol dan Arsitek Pariwisata Indonesia
Setelah menuntaskan tugas di istana, Joop kembali ke Departemen Luar Negeri sebagai Direktur Protokol dan Konsuler (1978–1982). Selama lebih dari 20 tahun, ia menjadi otak di balik megahnya upacara kenegaraan dan penyambutan tamu-tamu agung dari seluruh belahan dunia.
Diplomasi Ritel dan Pengakuan Internasional
Baca juga: Widjojo Nitisastro, Angkat Senjata di Surabaya hingga Otak Ekonomi Orde Baru
Langkah visioner Joop Ave mulai teruji saat ia dipromosikan menjadi Direktur Jenderal Pariwisata pada tahun 1982. Di panggung regional, taji Joop diakui dengan terpilihnya ia sebagai Ketua Sub-Komite Pariwisata ASEAN (1983–1986) serta duduk di Dewan Direksi PATA (Pacific Asia Travel Association) pada 1984–1986.
Puncak karier birokrasinya terjadi pada tahun 1993, saat Presiden Soeharto melantiknya menjadi Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel) dalam Kabinet Pembangunan VI. Sebagai menteri, Joop Ave adalah arsitek utama yang meletakkan fondasi modernisasi pariwisata Indonesia. Ia gencar mempromosikan pesona kebudayaan dan kerajinan tangan lokal ke dunia internasional, serta aktif menulis dan menjadi co-editor berbagai buku bertema seni dan pariwisata nusantara.
Joop Ave mengembuskan napas terakhirnya di Singapura pada 5 Februari 2014 di usia 79 tahun. Ia meninggalkan legasi besar sebagai seorang pelayan negara sejati yang berhasil mengubah wajah pariwisata Indonesia menjadi salah satu sektor yang disegani di mata dunia, sekaligus sosok loyalis yang menjaga rahasia istana dengan kehangatan dan profesionalisme tingkat tinggi. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar