Perspektif Monash University Indonesia terhadap Desain Perkotaan Berkelanjutan
Jakarta, yang telah berusia 489 tahun, semakin memantapkan identitasnya sebagai kota global yang dinamis melalui pembangunan masif di berbagai sektor. Namun, tingginya kepadatan penduduk memaksa banyak pembangunan dilakukan secara vertikal.
Dr. Alyas Widita, Assistant Professor and Course Coordinator, Urban Design, Monash University, Indonesia, menilai bahwa manuver ini tidak diimbangi dengan tata lingkungan kota yang baik sehingga menimbulkan isu-isu seperti banjir, tingginya konsumsi energi, dan terganggunya kesehatan mental.
Peraih gelar doktor di bidang City and Regional Planning dari Amerika Serikat ini berpendapat bahwa Jakarta sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, sehingga butuh perancangan kota yang lebih berorientasi pada publik dan keberlanjutan.
“Dari waktu ke waktu, Jakarta terus mengalami banjir akibat sistem drainase yang belum optimal. Selain itu, masih banyak pembangunan gedung tinggi yang tidak memenuhi sertifikasi bangunan hijau, sehingga konsumsi energi terus meningkat. Kurangnya ruang terbuka hijau di tengah kepadatan penduduk juga berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Maka dari itu, dalam merancang ulang tata kota Jakarta, perlu ada peningkatan sistem drainase, efisiensi energi pada bangunan, dan penambahan taman-taman kota,” jelas Dr. Widita.
Dengan tantangan pembangunan yang kompleks, tata kelola Jakarta butuh penanganan yang komprehensif dari para perancang kota masa depan. Menjawab tantangan tersebut, Monash University, Indonesia, hadir dengan Fakultas Urban Design yang bertujuan menghadirkan para talenta yang siap menciptakan rancangan kota yang mampu meningkatkan kualitas hidup.
“Masa depan kota Jakarta tidak hanya bergantung pada apa yang kita bangun, tetapi juga bagaimana kita mempertimbangkan seluruh aspek, seperti ruang, iklim, dan manusia. Di Monash University, Indonesia, kami membekali para perancang kota masa depan dengan pengetahuan dan empati dalam menciptakan kota yang tidak hanya fungsional, tetapi juga inklusif, resilien, dan relevan terhadap kepentingan publik,” jelas Dr. Widita.
Sejalan dengan komitmen Monash University, Indonesia dalam menghadirkan pendidikan dan penelitian yang berorientasi pada masyarakat. Dr. Widita menunjukkan bagaimana desain perkotaan dapat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan kota besar seperti Jakarta. Salah satu fokus penelitiannya adalah Transit-Oriented Development (TOD), yang mengungkap bahwa penambahan 1.000 lapangan kerja di zona TOD mampu meningkatkan sekitar 300 pengguna angkutan umum pada hari kerja.
Temuan ini menegaskan pentingnya perencanaan TOD yang terintegrasi sebagai strategi untuk menciptakan kota yang lebih berkelanjutan. Selain itu, melalui penelitian lainnya, Dr. Widita dan timnya menemukan bahwa Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta berhasil mengurangi kemacetan hingga 34%. Hasil ini memperlihatkan dampak signifikan dari infrastruktur transportasi yang dirancang dengan baik terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan perancang tata kota yang terampil akan terus meningkat, terutama karena populasi perkotaan dunia akan meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 2050. Menyadari hal ini, Dr. Widita mendorong anak-anak muda Indonesia untuk turut andil dalam membangun wilayah perkotaan di seluruh negeri melalui jalur akademis di Monash University, Indonesia, yang berkomitmen mempersiapkan generasi perancang kota masa depan.
Komitmen Monash University, Indonesia dalam membangun wilayah perkotaan yang berkelanjutan tidak hanya diwujudkan melalui pendidikan, tetapi juga melalui proyek-proyek yang inovatif.
Salah satu proyeknya yang sukses adalah Banten Mosaic, sebuah living laboratory yang mengintegrasikan desain berbasis lingkungan, teknologi digital, dan partisipasi masyarakat. Proyek ini menunjukkan bagaimana penelitian akademis dapat menghasilkan solusi nyata bagi pemerintah daerah dan masyarakat rentan.
Pengalaman dan pemahaman yang diperoleh dari inisiatif Banten Mosaic diharapkan dapat menginspirasi dampak yang serupa di Jakarta, maupun di kota-kota lainnya. Dengan mewujudkan tata kota yang lebih berkelanjutan, adil, dan mudah beradaptasi, inisiatif seperti ini selaras dengan tujuan pembangunan jangka panjang Indonesia, khususnya visi Indonesia Emas 2045. (*)
Editor : Zainuddin Qodir