Puji Friayadi Diseret ke Mako Brimob dan Dihajar
Puji Friayadi, seorang pengepul buah pisang, jadi korban penganiayaan oleh sekelompok oknum Brimob yang bermarkas di Markas Komando (Mako) Brimob Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Akibatnya, Puji Friayadi mengalami lebam dan luka-luka.
Bahkan, Puji Friayadi pingsan saat dihajar oleh sekelompok oknum Brimob tersebut. Kronologi kejadian tersebut diungkap oleh Puji Friayadi, yang sehari-harinya sebagai pengepul buah pisang.
Dari keterangan Puji Friayadi, kejadian bermula ada balok kayu di depan Mako Brimob di Kelurahan Loa Ipuh Darat. Kemudian dia bertanya kepada salah satu anggota Brimob yang berada di lokasi.
Bukannya dijawab dengan baik, justru Puji Friayadi diseret ke dalam Markas Brimob. Di dalam Mako Brimob tersebut, dia dihajar oleh sejumlah oknum Anggota Brimob. Di tengah pukulan bertubi-tubi tersebut, Puji Friayadi tidak sadarkan diri. Setelah itu, dia dipaksa menandatangani surat pernyataan perdamaian.
“Setelah bangun dari pingsan, tahu-tahu saya sudah kondisi ganti. Ganti baju terus ditawarin makan,” kata Puji Friayadi, Sabtu (19/7/2025).
Setelah ditawarin makan itu, Puji Friayadi disodori kertas dan alat tulis. Puji Friayadi tidak tahu isi dari kertas tersebut. Pengakuan Puji Friayadi, ada salah satu oknum anggota Brimob yang memandunya agar menulis di atas kertas tersebut.
“Saya cuma nulis berdasarkan panduan dari mereka. Terus saya tandatangani. Terus parang saya yang buat nebang pisang diminta sama mereka. Ya saya mau. Karena daripada nanti saya kenapa-napa. Akhirnya saya pulang,” jelas Puji Friayadi.
Puji Friayadi kemudian keluar dari Mako Brimob Kelurahan Loa Ipuh Darat dan pulang sekitar jam 11 siang mengendarai mobil pick up. Saat pulang itulah, Puji Friayadi menahan rasa pusing di kepalanya. Bahkan di tengah jalan, dia muntah.
Sampai di rumahnya pada jam 12.45 WITA, Puji Friayadi disambut oleh istrinya. Istrinya kaget melihat lebam di sekujur tubuh Puji Friayadi. Istri Puji Friayadi pun membuka baju Puji Friayadi dan merekamnya dengan video luka lebam di tubuh Puji Friayadi.
Keesokan harinya, video luka lebam di tubuh Puji Friayadi dikirim ke kakaknya yang bertempat tinggal di Desa Jonggon. Dari kakak Puji Friayadi itulah, video menyebar ke beberapa warga Desa Jonggon. Mereka pun tergugah untuk mencari tahu penyebab Puji Friayadi dianiaya.
Setelah mendapat penjelasan dari Puji Friayadi, barulah warga Desa Jonggon termasuk Kepala Desa Jonggon, Ketua Rukun Tetangga (RT), berangkat ke Mako Brimob. Tujuan mereka mau meluruskan permasalahan dan mengklarifikasi.
Belum sempat bicara, mereka justru disambut dengan kekerasan oleh sekelompok oknum Brimob. Warga Desa Jonggon yang datang dipukul, dipopor, bahkan ada yang berdarah dan jatuh tersungkur. Sebanyak 18 warga terluka, dua dirujuk ke rumah sakit.
“Warga datang untuk mediasi. Akan tetapi dari pihak Brimob, salah kaprah bahwa itu melakukan penyerangan. Sehingga, pas begitu sampai disitu (Mako Brimob), Bubuhan (warga) termasuk pak Ustad, langsung dihajar sama Brimob. Beda dengan kejadian yang saya alami. Kalau saya memang berhenti, menegur apa yang terjadi jalan itu. Tapi yang kedua ini, berdasarkan simpati kepada saya dan juga pengen meluruskan,” jelas Puji Friayadi.
“Jika kejadian yang pertama, saya cuma menegur bahwa jangan ada lagi bongkahan kayu di tengah jalan. Ternyata salah kaprah dari pihak Brimob. Saya dikepung. Di pinggir saya ada 2 motor Brimob, disamping sebelah kiri sama sebelah kanan. Satu motor dua orang. Begitu saya negur itu, 1 orang maju. Setelah sampai, dia memukul saya. Terus yang lain ikut mukul. Ada yang dari belakanga ada yang cekik. Dan itupun saya sempat minta tolong, tapi gak ada yang berhenti disitu,” ujar Puji Friayadi.
Beberapa korban dikabarkan melapor ke Polres Kutai Kartanegara. Mereka menuntut keadilan atas dugaan kekerasan oleh aparat oknum Brimob.
Namun demikian, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Kutai Kartanegara, Iptu Maryono, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk ke pihak kepolisian.
“Sampai saat ini belum ada laporannya,” ujarnya, Sabtu (19/7/2025).
Komandan Pasukan II Korps Brimob Polri, Brigjen Pol Arif Budiman, membenarkan adanya insiden pemukulan terhadap warga di sekitar Markas Brimob Kelurahan Loa Ipuh Darat, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Ia menyebut peristiwa yang terjadi pada 17–18 Juli 2025 itu bermula dari kesalahpahaman akibat pemasangan balok kayu pembatas kecepatan oleh anggota Brimob.
Seorang sopir pikap menegur keras anggota yang memasang balok tersebut, yang memicu ketegangan. Keesokan harinya, belasan warga datang tanpa pemberitahuan resmi dan masuk ke lingkungan markas saat anggota tengah berolahraga. Situasi pun memanas dan berujung benturan, menyebabkan sejumlah warga terluka.
Brigjen Arif menyayangkan beredarnya pesan suara berisi ajakan “rame-rame ke SPN Brimob” yang dinilainya provokatif. Ia berharap semua pihak menahan diri dan menyerahkan penanganan kasus ini kepada proses hukum yang berlaku. (*)
Editor : S. Anwar