Maut Di Ujung Pistol Sang Oknum Brigpol
Door....! Dua letusan pistol di belakang kepala, membuat tengkorak sang driver ekspedisi berlubang tembus ke dahi. Lelaki yang mencari nafkah demi anak istri itu tewas bersimbah darah di tangan oknum Polisi kemaruk berpangkat Brigadi Polisi (Brigpol).
Rabu siang 27 November 2024, Haryono (37 tahun) mengemudikan mobil Daihatsu Sigra melintasi jalan trans Kalimantan Palangkaraya- Kasongan dengan kecepatan sedang.
AC mobil telah disetel full, tapi Haryono tetap saja bercucur berkeringat. Tangannya yang memegang setir gemetar hebat, sementara jantungnya berdetak tidak karuan.
Tentu saja ia ketakutan setengah mati. Di sampingnya ada mayat dengan kondisi kepala berlubang akibat hantaman dua butir peluru. Sesekali mayat yang masih hangat itu terhentak, sementara darah terus mengalir bak keran bocor dari dahinya yang remuk.
Haryono bergidik ngeri, mengucap istigfar tanpa henti. Di belakang, seorang oknum Polisi berpangkat Brigpol terus mengancam dengan sepucuk pistol di tangan.
Pada siang nan terik hari itu, Haryono baru saja menyaksikan kebrutalan oknum aparat yang membunuh seorang manusia untuk dirampok harta bendanya.
*****
Sore sehari sebelumnya, Haryono dengan terpaksa menjadi sopir dadakan bagi oknum Polisi yang berdinas di Polresta Palangkaraya. Ia hanya bisa menurut sewaktu disuruh menyetiri mobil milik Brigpol AKS dengan tujuan tak jelas dari Palangkaraya ke arah Tumbang Nusa.
Sepanjang jalan, Brigpol AKS tak menjelaskan maksud perjalanan mereka. Saat ditanya, Polisi itu justru meracau dengan nasihat tak jelas.
“Rejeki udah ada yang ngatur. Jangan khawatir, ikut aku aja supaya anak dan istrimu kebagian rejeki,” begitu ucapnya.
Haryono sebenarnya terheran, tapi tak berkutik. Sopir taksi online itu mau tak mau menuruti keinginan sang oknum Polisi yang menatap penuh intimidasi. Sore berganti malam, Haryono kian resah.
Si oknum Polisi kian bertingkah aneh dan mencurigakan. Beberapa kali ia mendapati Brigpol AKS mengarahkan pistol seperti ingin menembak seseorang. Karuan saja Haryono merinding, senyuman si oknum terlihat buas dan menakutkan. Bak serigala lapar yang hendak menerkam mangsa.
“Tenang saja, jalan saja terus,” ujar si oknum Polisi.
Mobil terus bergerak menyusuri jalanan yang sepi dan berselimut gelap, sementara Haryono terus mengucap istigfar di dalam hati. Entah sudah berapa jam perjalanan mereka, Haryono masih kebingungan mau kemana.
Di samping, Brigpol AKS yang berbadan gempal sudah mendengkur semaunya. Perjalanan malam itu pada akhirnya bertemu pagi, Haryono yang belum tidur tentu saja kepayahan. Haryono yang merasa lelah kemudian memohon untuk pulang.
Apalagi, istrinya yang khawatir telah menelpon berkali-kali agar ia selekasnya kembali. Dengan muka masam, Brigpol AKS akhirnya setuju untuk putar arah kembali ke Kota Palangkaraya. Haryono tentu saja bernapas lega.
Segera saja ia mengabari istri bahwa akan tiba di rumah sebelum siang. Namun, lagi-lagi Haryono tercengang. Setibanya di lingkar luar, si oknum Brigpol justru menyuruh meneruskan perjalanan ke arah Tangkiling.
“Mau kemana lagi mas? Istriku udah mencari dari semalam,” ujar Haryono gelisah.
“Wes, toh!” Sentak Brigpol AKS. Haryono hendak membantah, tapi bentakan bernada ancaman membuat nyalinya redup. Pada akhirnya mobil pun kembali melaju ke arah luar kota.
*****
Tangkiling telah lewat, perjalanan masih saja dilanjutkan ke arah Kasongan. Haryono kian cemas. Sepanjang jalan, si oknum mengawasi setiap kendaraan yang melintas dengan pistol di tangan. “Kita mau ngapain, mas?”
Gumaman dari si oknum Brigpol sudah cukup membuat Haryono bungkam. Hingga tiba pada KM 39 jalan Cilik Riwut, Brigpol AKS meminta mobil untuk dipinggirkan. Rupanya Brigpol AKS sudah menemukan mangsa yang ia cari.
Mereka menghampiri BA (32 tahun), seorang sopir ekspedisi yang tengah istirahat di pinggir jalan di bawah sebatang pohon rindang. Kala itu, BA hendak mengantarkan barang dari Banjarmasin dengan tujuan Pangkalanbun.
Sejurus berselang, Haryono hanya bisa diam demi menyaksikan Brigpol AKS mengancam BA. Sopir ekspedisi yang tak tahu apa-apa itu dipaksa mengemasi barang berharga miliknya, mengunci pick up grandmaxnya, lalu diseret ke dalam mobil mereka.
Dengan wajah tertunduk lemas, BA duduk di samping Haryono, sementara Brigpol AKS duduk persis di belakangnya. Baru beberapa meter mobil bergerak ke arah Kasongan, Brigpol AKS menyuruh Haryono kembali ke arah Palangkaraya.
Sewaktu mobil memutar arah, Haryono terlonjak kaget di balik kemudi. Tiba-tiba terdengar bunyi letusan senjata yang memekakan telinga. Haryono menjerit sejadinya. BA yang duduk di sampingnya telah tewas dengan dahi berlubang.
Lelaki malang itu rupanya baru saja ditembak dari belakang kepala. Haryono gemetar ketakutan, pikirannya mendadak buntu. Mobil bergerak terseok dan ban berdecit di atas aspal yang panas. Detik berikutnya mobil berhenti mendadak. Haryono histeris, berteriak bak orang kesurupan.
Buuk…! Hantaman di kepala membuat Haryono langsung terdiam. “Diam, atau kau yang kubunuh! Jangan dilihat!”
Haryono mengangguk dengan wajah pucat. Tatapan buas si oknum Brigpol membuat sekujur tubuhnya gemetaran.
Mobil kembali putar arah, menuruti kemauan si oknum aparat yang teramat bengis. Door…! Letusan kedua kembali bergema. Peluru yang tajam lagi-lagi melubangi kepala BA yang telah menjadi mayat. Haryono semakin ketakutan. Jantungnya terasa melompat-lompat.
Dengan mata berkaca-kaca, Haryono memacu mobil penuh rasa khawatir akan keselamatan nyawanya.
*****
Setibanya di sebuah perkebunan sawit di Katingan Hilir, Haryono diperintahkan membuang jasad BA di semak belukar.
Agar tidak terlacak, identitas korban telah dilucuti oleh Brigpol AKS. Sesudah membersihkan cipratan darah di mobil pada sebuah parit, Haryono diperintahkan untuk menyetir kembali ke mobil korban yang ditinggalkan.
Selanjutnya, Haryono membawa mobil serta barang-barang korban menuju kediaman Brigpol AKS, mengiringi Daihatsu Sigra yang melaju kencang di depan. Pada akhirnya, mobil, barang kiriman serta barang berharga BA yang tersisa-
sepenuhnya menjadi hak milik Brigpol AKS yang kemaruk harta, meski harus didapatkan dengan cara penuh darah.
*****
Haryono karuan saja tidak tenang. Bukan hanya karena dihantui rasa bersalah, tapi ancaman akan jadi korban berikutnya.
Bahkan, nyawa anak dan istrinya pun dalam keadaan bahaya. Keesokan hari, Brigpol AKS menstransfer uang Rp.15 juta sebagai bayaran bagi hasil. Tak ingin terlibat, Haryono selekasnya menstransfer kembali uang yang tak jelas asal-usulnya itu.
Detik berikutnya, video call dari Brigpol AKS yang penuh amarah membuat Haryono benar-benar lemas. Ancaman akan dihabisi membuat lelaki itu berjanji takkan buka suara. Hari demi hari berlalu, Haryono mulai stress. Tidurnya tak tenang, makanpun tak lagi nyaman.
Ancaman demi ancaman pembunuhan terus datang tanpa henti. Selain itu, bayang-bayang aksi sadis hari itu tak pernah lepas dari pikirannya. Wajah BA yang hancur diterjang peluru selalu hadir di dalam mimpi buruknya. (*)
*) Source : Bang Beben (@benbela)
Editor : S. Anwar