Emil Salim Pegang Rekor Menteri Paling Awet di Indonesia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Emil Salim
Emil Salim
grosir-buah-surabaya

Di panggung sejarah kepemimpinan Indonesia, nama Prof. H. Emil Salim, S.E., M.A., Ph.D. menempati posisi yang sangat unik. Di saat para menteri datang dan pergi seiring pergantian rezim atau perombakan kabinet, Emil Salim justru tercatat sebagai salah satu menteri yang paling lama menjabat secara berturut-turut dalam sejarah republik.

Lahir pada 8 Juni 1930, putra pasangan Baay Salim dan Siti Syahzinan asal Nagari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat ini rupanya mewarisi darah genius sang paman, Pahlawan Nasional Haji Agus Salim. Bukan sekadar ekonom senior Orde Baru, Emil Salim menjelma menjadi "Bapak Lingkungan Hidup Indonesia" yang gagasannya diakui secara luas oleh dunia internasional.

Membidani Lahirnya WALHI dan Kehati

Kiprah Emil Salim di bidang lingkungan hidup bermula dari sebuah visi besar. Saat menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, ia menyadari bahwa penyelamatan alam tidak bisa hanya bertumpu pada birokrasi dan regulasi kaku pemerintah, melainkan harus menjadi sebuah gerakan nyata di tengah masyarakat.

Ia kemudian menggandeng Tjokropranolo (Gubernur DKI Jakarta saat itu) untuk mengumpulkan berbagai organisasi non-pemerintah (ornop) dari seluruh penjuru daerah di Indonesia. Pertemuan bersejarah inilah yang di kemudian hari membidani lahirnya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), organisasi lingkungan hidup terbesar dan paling vokal di tanah air.

Dedikasinya tidak berhenti sampai di situ. Setelah tuntas menunaikan jabatan di kabinet pada tahun 1994, Emil bersama para kolega hebatnya—seperti Koesnadi Hardjasoemantri, Ismid Hadad, Erna Witoelar, M.S. Kismadi, dan Nono Anwar Makarim—mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati). Lembaga non-pemerintah ini hingga kini terus konsisten menjadi motor utama pelestarian biodiversitas dan kekayaan alam pertiwi.

Rekor Menteri Terlama dan Penasihat Presiden

Di jajaran eksekutif, Emil Salim adalah sosok teknokrat yang sangat dipercaya. Selama lebih dari dua dekade (1971–1993), ia mengabdi tanpa putus di berbagai pos kementerian strategis Orde Baru. Babak kariernya dimulai sebagai Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971–1973).

Selanjutnya, Emil Salim dipercaya memimpin jalur logistik nasional sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Pembangunan II (1973–1978). Setelah itu, ia mulai fokus mematangkan isu ekologi dengan menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1978–1983), serta Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup selama dua periode penuh (1983–1993).

Bahkan memasuki era reformasi, kepakaran Emil tetap melintasi zaman. Pada 10 April 2007, ia ditarik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memperkuat Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Dua tahun kemudian, tepatnya pada 25 Januari 2010, ia kembali dilantik untuk periode kedua sekaligus dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Wantimpres.

Dihormati Dunia Lewat Penghargaan Internasional

Sebagai salah satu dari sedikit tokoh Indonesia yang memiliki pengaruh kuat di panggung global, reputasi Emil Salim diakui oleh lembaga-lembaga dunia. Atas konsistensinya merawat bumi, ia dianugerahi penghargaan bergengsi The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund for Nature (WWF), sebuah lembaga konservasi mandiri terbesar di dunia.

Tak hanya itu, pada tahun 2006, Emil juga sukses memboyong penghargaan Blue Planet Prize dari The Asahi Glass Foundation Jepang, sebuah piala bergengsi yang kerap dianggap sebagai "Hadiah Nobel" bagi para pejuang lingkungan hidup dunia.

Melintasi tiga zaman dengan dedikasi yang tak pernah padam, Emil Salim adalah potret hidup seorang intelektual muslim yang berhasil mengawinkan ilmu ekonomi makro dengan kearifan ekologi. Warisan pemikirannya membuat Indonesia sadar bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan masa depan alam pertiwi. (*)