Kisah Thalabah bin Abdurrahman dan Pelukan Terakhir Sang Nabi
Di masa kejayaan Islam pada abad ke-1 Hijriah, tersebutlah seorang pemuda bernama Tha'labah bin Abdurrahman. Ia adalah seorang pemuda Anshar yang sangat setia melayani keperluan Rasulullah SAW. Ke mana pun Rasulullah SAW pergi, Tha'labah selalu siap sedia membantu.
Suatu hari, Rasulullah SAW mengutus Tha'labah untuk sebuah keperluan di luar kota Madinah. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah rumah penduduk. Tanpa sengaja, hembusan angin menyibakkan tirai pintu rumah tersebut, dan mata Tha'labah tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang mandi.
Seketika itu juga, rasa takut yang luar biasa menghujam jantungnya. Ia merasa telah menjadi seorang munafik karena telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan pandangan yang tak sengaja itu. Tha'labah tidak berani kembali menemui Rasulullah SAW karena malu dan merasa kotor. Ia justru lari menuju pegunungan di antara Makkah dan Madinah.
Di sana, di dalam sebuah gua yang sunyi, Tha'labah mengurung diri selama 40 hari. Ia menghabiskan waktunya hanya untuk menangis, meratap, dan memohon ampun kepada Allah. Ia terus bersujud seraya berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau di atas Arsy, sedangkan aku di dalam gua. Ya Allah, ampunilah dosaku dan janganlah Engkau hinakan aku di depan Rasul-Mu."
Hingga suatu hari, Malaikat Jibril turun menemui Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam untukmu dan berfirman: 'Sesungguhnya salah seorang pengikutmu ada di puncak gunung ini sedang memohon perlindungan-Ku'."
Rasulullah SAW segera mengutus Umar bin Khattab dan Salman al-Farisi untuk mencari Tha'labah. Setelah melalui pencarian panjang, mereka bertemu dengan seorang penggembala di pegunungan Madinah yang bertanya,
"Apakah kalian mencari pemuda yang lari dari neraka Jahanam? Penggembala itu menunjukkan sebuah gua. Saat Umar masuk ke dalam gua, ia menemukan Tha'labah dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering dan wajahnya pucat karena terus-menerus menangis. Umar membawanya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah, Tha'labah bertanya dengan suara bergetar, "Wahai Umar, apakah Rasulullah sedang shalat? Dan apakah namaku disebut dalam daftar orang munafik oleh Allah?" Umar menjawab, Tidak."
Tha'labah kemudian dibawa menemui Rasulullah SAW. Baginda Nabi menyambutnya dengan penuh kasih sayang, lalu beliau membaringkan kepala Tha'labah di atas pangkuan beliau. Namun, Tha'labah segera menarik kepalanya. Rasulullah SAW bertanya, "Mengapa engkau menarik kepalamu?"
Tha'labah menjawab, "Wahai Rasulullah, kepalaku ini penuh dengan dosa, tidak pantas berada di atas pangkuanmu yang mulia."
Rasulullah SAW bertanya, "Apa yang engkau rasakan, wahai Tha'labah?"
Ia menjawab,"Aku merasakan seolah-olah ada semut yang merayap di antara tulang, daging, dan kulitku (rasa sakit sakaratul maut)."
Rasulullah SAW bersabda, "Itulah tanda kematian."
Lalu Rasulullah SAW membisikkan bahwa Allah telah mengampuninya. Mendengar itu, Tha'labah berteriak dengan satu teriakan yang sangat keras, lalu ruhnya terbang kembali ke hadirat Allah dalam keadaan bersandar di pelukan Rasulullah SAW.
Saat jenazahnya hendak dimakamkan, Rasulullah SAW berjalan dengan menjinjitkan kakinya (berjalan dengan ujung jari).
Setelah selesai, Umar bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau berjalan seperti itu?"
Rasulullah SAW menjawab, "WahaiUmar, demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, aku tidak bisa meletakkan telapak kakiku ke tanah karena saking banyaknya malaikat yang turun untuk menyalatkan Tha'labah."
Dalil dan Referensi
Al-Qur'an (Surah Ali 'Imran: 135)
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرَوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?"
Referensi Kitab :
- Tafsir Al-Qurtubi (saat menjelaskan ayat-ayat taubat).
- Kitab At-Tawwabin karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.
- Kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahani.
Editor : S. Anwar