Pelatihan Deep Learning dan AI Kemendikdasmen untuk Guru Menuai Kontroversi

avatar Mahmud
  • URL berhasil dicopy
Ina Lie
Ina Lie
grosir-buah-surabaya

Ina Lie selaku Konsultan Pendidikan dan Karie atau Founder Jurusanku mengkritik keras pelaksanaan pelatihan deep learning dan Artificial Inteligence (AI) yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Bukan pelatihannya yang dikritik, melainkan sistemnya.

Dari pernyataannya, Ina Lie mengatakan bahwa Kemedikdasmen sedang menggelar pelatihan deep learning dan AI yang berbayar. Dan penyelenggara pelatihan kali ini ditentukan.

“Kalau dulu sekolah boleh pilih sendiri materi dan nara sumbernya sesuai kebutuhan masing-masing sekolah. Silakan telusuri siapa vendornya. Apakah ada konflik kepentingan dengan vendornya, mari kita kawal,” tegas Ina Lie.

Dari laporan yang masuk ke dirinya, Ina Lie menyebutkan, biaya pelatihan deep learning dan Artificial Inteligence (AI) sebesar Rp 2 juta per guru/peserta. Dan Rp 3 juta per Kepala Sekolah.

“Dana pelatihan deep learning dan Artificial Inteligence (AI) disuruh ambil dari dana BOS (bantuan operasional sekolah) kinerja, yang seharusnya itu untuk bonus bagi sekolah yang berprestasi atau kinerjanya bagus. Artinya, Pemerintah Pusat (Kemendikdasmen) ngasih bonus ke sekolah terus diminta balik lagi untuk bayar pelatihan yang materi dan nara sumbernya sudah ditetapkan oleh pusat (Kemendikdasmen). Jadi sekolah sudah kerja bagus dan dapat bonus, eh bonusnya lari ke vendor,” katanya.

Yang lebih lucu lagi, kata dia, fasilitator bilang, materinya tidak boleh disebarluaskan, diminta tertutup dulu.

cctv-mojokerto-liem

“Bukannya materinya makin cepat tersebar, makin cepat pula guru se-Indonesia bisa mengajar sesuai program yang dicanangkan. Jadi siswanya makin cepat belajarnya. Kok jadi ingat launcing Iphone baru ya, eksklusif. Ini kementerin apa korporasi. Awas-awas jangan disebar, yang belum ikut jadi tahu materinya. Jadi gak mau bayar,” ujarnya Ina Lie.

“Eh hati-hati nanti dikirim ke kompetitor. Produk pelatihan kita gak laku. Pertanyaannya, kalau sampai ada yang berani membocorkan materi, konsekuensinya apa? Tidak dikasih bonus lagi, dicoret dari program Pemerintah. Kok saya jadi takut ke program Pemerintah. Bukannya konsepnya kita masyarakat bayar gaji pejabat dan wakil rakyat. Jadi kita bosnya. Harusnya berhak menuntut kinerja, tapi ini konten yang dibiayai publik, pelatihan yang dibiayai publik, hanya bisa diakses kalau sekolah bayar lagi. Ini pendidikan nasional atau bisnis pelatikan terselubung,” lanjut Ina Liem.

Dari pelusuran media ini, salah satu vendor yang jadi mitra Kemendikdasmen RI dalam program Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) untuk guru-guru di seluruh Indonesia ialah Heztek Coding Indonesia. Hal tersebut dikatakan oleh Heni Prasetyorini selaku Founder Heztek Coding melalui akun media sosialnya.

“Kami sekarang resmi menjadi mitra Kemendikdasmen RI. Alhamdulillah, kami telah menyelesaikan Bimtek Training of Trainer (T o T) dan dinyatakan lulus dengan predikat Amat Baik sebagai Fasilitator Nasional KODING KA. Ini bukan hanya prestasi bagi tim kami, tapi juga langkah awal untuk semakin luas menjangkau sekolah-sekolah Indonesia agar makin siap menghadapi masa depan digital. Di Heztek Coding, kami percaya semua guru bisa belajar Koding dan KA, tidak perlu berlatar belakang IT, cukup dengan semangat belajar dan panduan yang tepat,” katanya. (*)