Penikaman Berujung Maut di Depan Pasar Ngale Ngawi
Pasar Ngale di Desa Ngale, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, dihebohkan dengan peristiwa penikaman yang dilakukan oleh penjaga warung angkringan bernama Andika Rangga Pratama alias Gandul bin Syaehu (almarhum). Korban ialah Andik Kristianto alias Kece (38 tahun), warga Dusun Gelung Timur, Desa Gelung, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.
Penikaman ini berujung Andik Kristianto alias Kece tewas setelah mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Kejadian berdarah di Pasar Ngale tersebut terjadi pada Kamis, 28 Agustus tahun 2025 sekira pukul 03.00 WIB.
Kasus ini bermula pada Kamis, 28 Agustus 2025 sekira jam 01.00 WIB. Saat itu, pelaku Andika Rangga Pratama alias Gandul (39 tahun) sedang menjaga angkringan yang berada di depan Pasar Ngale, Masuk Desa Ngale. Lalu Andika Rangga Pratama alias Gandul membuat kopi di gelas cangkir sambil bermain handphone. Cangkir bekas kopi tersebut diletakkan di meja angkringan sebelah timur dengan tujuan memancing pembeli.
Pada hari yang sama sekira jam 02.00 WIB, Andik Kristianto alias Kece datang ke angkringan Andika Rangga Pratama alias Gandul dengan mengendarai 1 unit sepeda motor merek MIO J warna merah putih. Lalu Andik Kristianto alias Kece memarkir sepeda motornya di bawah pohon.
Korban Andik Kristianto alias Kece menghampiri Andika Rangga Pratama alias Gandul di angkringan sambil berkata, “Weh tenanan sak iki we”, yang artinya “Wah beneran kamu sekarang ya”.
Pelaku Andika Rangga Pratama alias Gandul menjawab, “Yoiyo no ce, kene ki wong butuh eg”, yang artinya ”Yaiyalah ce, sini orang butuh soalnya” sambil tertawa,
Andik Kristianto alias Kece duduk di samping Andika Rangga Pratama alias Gandul. Selanjutnya Andika Rangga Pratama alias Gandul mengatakan kepada Andik Kristianto alias Kece, “Sek ce, rung iso gawekne ngombe tak ngegame sek” yang artinya “Sebentar ce, belum bisa bikinin minum masih main game”, namun Andik Kristianto alias Kece tidak menjawab.
Andika Rangga Pratama alias Gandul membuatkan wedang jahe untuk Andik Kristianto alias Kece, kemudian Andika Rangga Pratama alias Gandul dan Andik Kristianto alias Kece mengobrol. Di tengah percakapan, Andika Rangga Pratama alias Gandul dan Andik Kristianto alias Kece, Andik Kristianto alias Kece bertanya kepada Andika Rangga Pratama alias Gandul, “Masmu rene ra?” yang artinya “Kakakmu kesini tidak?”
Dijawab oleh Andika Rangga Pratama alias Gandul, “Rene. Mau tak kiro sui, tiwas aku kadung kelakaran tibak e mur sediluk”, yang artinya “Kesini tadi. Padahal aku terlanjur rebahan ternyata cuma sebentar”.
Lalu Andik Kristianto alias Kece menjawab, “We rasah njagakne masmu. Duit e masmu wes okeh”, yang artinya “Kamu jangan mengandalkan kakakmu. Uang kakakmu udah banyak”.
Andika Rangga Pratama alias Gandul menjawab, “Aku gak jagakne ce, mumpung wonge nang kene kan aku iso turu sediluk”. yang artinya “Aku tidak mengandalkan ce, mumpung orangnya di sini aku bisa tidur sebentar”.
Andik Kristianto alias Kece memberi nasehat kepada Andika Rangga Pratama alias Gandul jika berjualan jangan sering tutup kalau bisa 1 minggu penuh selalu berjualan. Namun saat itu, Andika Rangga Pratama alias Gandul menjawab jika neneknya sakit, sehingga Andika Rangga Pratama alias Gandul sering tidak berjualan angkringan.
Andik Kristianto alias Kece terus menerus mengejek kakak Andika Rangga Pratama alias Gandul, yaitu Arvian Indra Pratama di hadapan Andika Rangga Pratama alias Gandul dengan mengatakan, “la mas mu opo wes ra kuat melek kok ngejak gentenan i”, yang artinya “la kakakmu apa sudah tidak kuat bangun malam kok ngajak gantian”.
Dan dijawab oleh Andika Rangga Pratama alias Gandul, “Yo ra ngono maksud e ce”, yang artinya “Ya nggak gitu maksudnya ce”.
Andika Rangga Pratama alias Gandul merasa emosi, karena menurut pengakuan Andika Rangga Pratama alias Gandul, Andik Kristianto alias Kece terlalu sering mengejek Arvian Indra Pratama. Dan Andika Rangga Pratama alias Gandul sebelum-sebelumnya, seperti mengatakan Arvian Indra Pratama, “Mas mu kui jane wani karo wong wedok pora, kok gak ndang rabi-rabi. Jane normal pora”, yang artinya “Kakakmu itu sebenarnya berani sama perempuan apa tidak, kok nggak nikah-nikah. Sebenarnya normal atau tidak”.
Selain itu, Andika Rangga Pratama alias Gandul juga mengaku jika Andik Kristianto alias Kece juga mengatakan, “Masmu pas dolan gonanku tak lokne, rambute kok koyo wong mikir buanter. Sampek rambute botak separo, koyo wong brumbun, sampek wonge mutung muleh”, yang artinya “Kakakmu saat main di rumahku saya ejek. Rambutnya kok seperti orang pikirannya berat sampai rambutnya botak, sampai orangnya marah dan pulang”.
Akhirnya muncul niat jahat Andika Rangga Pratama alias Gandul untuk menusuk Andik Kristianto alias Kece dengan menggunakan pisau dapur.
Pada Kamis 28 Agustus tahun 2025 sekira pukul 03.00 WIB, Andika Rangga Pratama alias Gandul melancarkan aksinya dengan cara mengambil pisau dapur yang berada di dekat meja penggorengan sambil melirik Andik Kristianto alias Kece dengan tujuan memastikan Andik Kristianto alias Kece tidak melihat Andika Rangga Pratama alias Gandul.
Lalu Andika Rangga Pratama alias Gandul mendekat ke sebelah kiri Andik Kristianto alias Kece yang sedang bermain handphone dengan posisi kaki kiri di atas kursi dan tangan melintang di atas lutut. Andika Rangga Pratama alias Gandul langsung menusuk dada sebelah kiri tepatnya di bawah bagian rusuk Andik Kristianto alias Kece sebanyak 1 kali.
Selanjutnya Andika Rangga Pratama alias Gandul menusuk Andik Kristianto alias Kece, namun berhasil dihadang dengan menggunakan tangan dan kaki Andik Kristianto alias Kece, sehingga hanya menancap sedikit di bagian bawah ketiak sebanyak 1 kali.
Andik Kristianto alias Kece lari ke arah timur angkringan, namun Andik Kristianto alias Kece terjatuh di dekat tiang bambu umbul-umbul sebelah timur angkringan. Pada saat itu, Pelaku Andika Rangga Pratama alias Gandul merubuhkan 1 unit sepeda motor merek MIO J milik Andik Kristianto alias Kece.
Andika Rangga Pratama alias Gandul langsung membilas dan membersihkan pisau yang Andika Rangga Pratama alias Gandul pergunakan untuk menusuk Andik Kristianto alias Kece dengan menggunakan air yang ada di teko. Andika Rangga Pratama alias Gandul dengan menggunakan tangan kirinya mengusap pisau, lalu Andika Rangga Pratama alias Gandul mengembalikan pisau tersebut ke tempat semula.
Pelaku Andika Rangga Pratama alias Gandul tiba-tiba mendekati Andik Kristianto alias Kece dengan tujuan menolong, karena pada saat itu Andika Rangga Pratama alias Gandul merasa menyesal dan panic. Lalu Andika Rangga Pratama alias Gandul menuntun Andik Kristianto alias Kece ke arah angkringan.
Namun saat hendak sampai di angkringan, Andik Kristianto alias Kece terjatuh dan Andika Rangga Pratama alias Gandul sempat menuntun Andik Kristianto alias Kece sampai ke barat angkringan.
Karena melihat kondisi Andik Kristianto alias Kece semakin lemas, Pelaku Andika Rangga Pratama alias Gandul merasa bingung dan akhirnya Andika Rangga Pratama alias Gandul menelepon Arvian Indra Pratama, Bambang Sulistyo, dan ibu Andika Rangga Pratama alias Gandul. Namun pada saat itu tidak ada yang mengangkat telepon Andika Rangga Pratama alias Gandul.
Tak lama kemudian, ibu Andika Rangga Pratama alias Gandul menelepon Andika Rangga Pratama alias Gandul balik. Dan Andika Rangga Pratama alias Gandul menyuruh agar ibu Andika Rangga Pratama alias Gandul membangunkan Arvian Indra Pratama untuk datang ke angkringan dengan alasan jika Andik Kristianto alias Kece ditusuk oleh orang tidak dikenal.
Selanjutnya Andika Rangga Pratama alias Gandul masih sempat memberi minum Andik Kristianto alias Kece. Karena Andika Rangga Pratama alias Gandul merasa takut dan panic, Andika Rangga Pratama alias Gandul menyiapkan cerita karangan jika Andik Kristianto alias Kece telah ditusuk oleh orang yang tidak dikenal yang mampir di angkringan.
Lalu pelaku melarikan diri ke arah barat dengan menggunakan sepeda motor merek Ninja Kawasaki warna merah. Untuk meyakinkan cerita tersebut, Andika Rangga Pratama alias Gandul mencoba menghentikan orang yang sedang melintas di jalan raya depan angkringannya untuk seolah-olah meminta bantuan mengejar orang yang sudah menusuk Andik Kristianto alias Kece.
Pada hari yang sama sekira jam 03.10 WIB, Ngastosuro Satrio Utomo melintas di jalan raya depan angkringan dengan menggunakan sepeda motor dan berhasil dihentikan oleh Andika Rangga Pratama alias Gandul. Kemudian Ngasturo Satrio Utomo sempat turun dan melihat kondisi Andik Kristianto alias Kece yang sedang terkapar di bawah kursi besi.
Ngasturo Satrio Utomo langsung menhubungi Sulis Tiyawan. Ngasturo Satrio Utomo menemui Sulis Tiyawan di rumahnya, dan memberitahu jika ada kejadian penusukan di depan Pasar Ngale.
Ngasturo Satrio Utomo dan Sulis Tiyawan bergegas menuju ke UGD Puskesmas Gemarang untuk mencari pertolongan. Selama Ngasturo Satrio Utomo pergi ke rumah Sulis Tiyawan yang ada di Desa Gemarang yang ada di arah barat Desa Ngale, Ngasturo Satrio Utomo tidak pernah berpapasan dengan seseorang yang ciri-cirinya disebutkan oleh Andika Rangga Pratama alias Gandul, yaitu orang yang mengendarai sepeda motor merek Kawasaki Ninja warna merah.
Arvian Indra Pratama berangkat dari rumahnya dan mampir di UGD Puskesmas Gemarang dengan inisiatif meminta bantuan. Arvian Indra Pratama melanjutkan perjalanan dan sampai di angkringan Andika Rangga Pratama alias Gandul, lalu melihat Andik Kristianto alias Kece sedang terkapar dengan posisi tangan kanan Andik Kristianto alias Kece memegang perut sebelah kirinya disertai dengan baju Andik Kristianto alias Kece yang robek seperti tusukan benda tajam.
Arvian Indra Pratama berusaha menghentikan kendaraan yang melintas, namun tidak ada yang berhenti. Arvian Indra Pratama menuju ke rumah Bambang Sulistyo yang ada di seberang angkringan Andika Rangga Pratama alias Gandul untuk meminta bantuan.
Pada hari yang sama sekira jam 03.15 WIB, datang Bambang Sulistyo bersama dengan Fani Aldino Probo Sulistyo ke angkringan Andika Rangga Pratama alias Gandul dan melihat Andik Kristianto alias Kece yang sudah terkapar. Lalu Bambang Sulistyo bertanya, “Lha iki wes meninggal” yang artinya “la ini sudah meninggal”.
Andika Rangga Pratama alias Gandul menjawab, “Urung meninggal iki”, yang artinya “Belum meninggal ini”.
Bambang Sulistyo bertanya kepada Andika Rangga Pratama alias Gandul tentang kronologi kejadiannya. Lagi-lagi Andika Rangga Pratama alias Gandul beralibi jika Andik Kristianto alias Kece telah ditusuk oleh orang yang tidak dikenal. Tak lama kemudian, datang Nurulloh Arif Purdianto dan Raynaldi Syahrul Fadian yang merupakan petugas UGD Puskesmas Gemarang dengan mengendarai ambulance. Selanjutnya Nurulloh Arif Purdianto dan Raynaldi Syahrul Fadian membawa Andik Kristianto alias Kece ke Rumah Sakit.
Pada hari yang sama sekira jam 03.30 WIB bertempat di Rumah Sakit At-Tin Husada Ngawi, Nurulloh Arif Purdianto dan Raynaldi Syahrul Fadian tiba dengan membawa Andik Kristianto alias Kece. Dokter Faradina Wahyu Ernita melakukan pemeriksaan terhadap Andik Kristianto alias Kece, dan disimpulkan jika Andik Kristianto alias Kece telah meninggal dunia. Pada hari yang sama sekira jam 06.00 WIB, Andik Kristianto alias Kece dirujuk ke RSUD Dr. Soeroto Ngawi untuk dilakukan visum et repertum.
Perbuatan Andika Rangga Pratama alias Gandul sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHP. Andika Rangga Pratama kini disidang di Pengadilan Negeri Ngawi. Sidang dakwaan dilaksanakan pada Rabu, 12 November 2025. Dakwaan dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum, Laskar Sandhi Yudha. (*fin)
Editor : Bambang Harianto