Kasta dalam Perbioskopan Surabaya di Era Kolonial

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Bioskop Luxor (kemudian Bioskop Jayo), lokasinya di perempatan pahlawan - Tembaan
Bioskop Luxor (kemudian Bioskop Jayo), lokasinya di perempatan pahlawan - Tembaan
grosir-buah-surabaya

Mulai dari kelas menurut gedung bioskop hingga tempat duduk yang mempengaruhi harga tiket.

Sejarah bioskop di Kota Surabaya merupakan cermin dari stratifikasi sosial yang kompleks, terutama pada masa Hindia Belanda. Pada awal abad ke-20, penggolongan bioskop tidak hanya didasarkan pada kemampuan ekonomi, tetapi juga segregasi rasial yang ketat.

Bioskop dibagi menjadi tiga kelas. Pertama, Kelas 1 yang diperuntukkan bagi warga Eropa dan kaum bangsawan atau saudagar kaya. Bioskop ini biasanya memutar film terbaru dari Hollywood atau Eropa. Fasilitasnya mewah, memiliki ventilasi yang baik, dan kursi yang nyaman.

Kelas 2, mayoritas penontonnya adalah warga Indo-Eropa, Tionghoa, dan pega-wai pemerintahan pribumi (Amtenar).

Kelas 3 sering disebut sebagai "Bioskop Bangsal" atau bioskop kelas rendah untuk masyarakat umum (pribumi). Lokasinya biasanya di daerah pemukiman padat atau pasar.

Kursinya, seringkali hanya berupa bangku kayu panjang tanpa sandaran. Film yang diputar biasanya film lama yang sudah turun layar dari bioskop kelas 1.

Film yang diputar di setiap kelas bioskop juga berbeda, ditentukan oleh selera budaya, bahasa, dan usia film itu sendiri. Distribusi film pada masa itu sangat hierarkis.

Bioskop kelas atas misalnya, memutar film-film drama terbaru dari Hollywood; film musikal dari Wina/Paris; dan berita dunia terkini (Polygoon Journal).

Film-film tersebut didominasi oleh studio-studio besar seperti seperti Metro Goldwyn Mayer (MGM), Paramount, dan Fox, dengan teks terjemahan biasanya dalam bahasa Belanda. Bioskop-bioskop ini sudah lebih dulu menggunakan teknologi suara sejak tahun 1929. 

Jika filmnya masih bisu, iringan musiknya dilakukan oleh orkestra mini yang profesional.

 

Pada bioskop kelas menengah, seringkali menjadi "pemberhentian kedua" bagi film-film yang sudah turun layar dari bioskop elite. Namun memutar film-film baru bergenre aksi atau petualangan; komedi slapstick (Charlie Chaplin, dan lain-lain), dan mulai masuknya film-film produksi Tiongkok (Mandarin) dan film lokal Hindia Belanda dengan teks Bahasa Belanda atau Bahasa Melayu Rendah.

Dan pada bioskop kelas rakyat yang biasanya ada di sekitar pemukiman padat atau pasar, memutar film-film yang benar-benar ditujukan untuk hiburan rakyat.

Film yang diputar seringnya adalah film-film laga Mandarin; film India yang penuh nyanyian dan tarian; atau film petualangan yang tidak membutuhkan pemahaman bahasa yang rumit.

Jika memutar film yang sudah turun dari kelas di atasnya, kondisinya biasanya lebih buruk (banyak goresan bahkan putus di tengah jalan) karena sudah sering diputar sebelumnya.

Uniknya, karena pe-nontonnya mayoritas tidak bisa membaca teks Belanda, keberadaan seorang explicateur (penerjemah langsung yang berbicara dengan pengeras suara) sangat krusial disini untuk menceritakan alur film dalam bahasa Jawa atau Melayu.

Ada istilah "Bioskop Re-Run", dimana jika sebuah film sukses besar di bioskop elit maka film tersebut akan "turun kasta" ke bioskop yang lebih murah beberapa bulan kemudian. Jadi, penonton kelas bawah tetap bisa menonton film Hollywood, namun harus menunggu lama hingga film tersebut dianggap "kuno" oleh kalangan elite.

Untuk kelas harga tiket suatu theater di era kolonial, dalam arsip iklan bioskop surat kabar Soerabaijasche Handelsblad dan De Indische Courant menyebutkan bahwa kategori termahal (loge), biasanya terletak di barisan belakang atau balkon yang paling nyaman. Harga tiket bisa mencapai f 2,50 untuk film-film besar.

Area tengah dengan pandangan ideal menjadi area Kelas 1 (stalles). Biasanya dihuni oleh warga Eropa kelas menengah atau warga Tionghoa kaya. Harganya berkisar antara f 1,50 hingga f 2,00.

Lalu front-stalles, yakni area yang lebih maju ke depan atau Kelas 2, dengan harga sekitar f 0,75 hingga f 1,00.

Area paling depan (dekat layar) menjadi area Kelas 3 atau inlandsch/pribumi. Dengan harga tiket termurah, 10-25 sen (0,10 0,25 Gulden). Dalam iklan, bagian ini sering diletakkan di baris paling bawah untuk menegaskan segmentasinya.

Jadwal tayang (voorstelling) waktu itu biasanya mengikuti pola rutin yang disesuaikan dengan waktu luang warga kolonial.

Matinée (Pertunjukan Siang), biasanya diadakan pada Minggu atau hari libur sekitar pukul 10.30 atau 14.00. Harganya lebih murah daripada pertunjukan malam.

Di waktu Soirée (Pertunjukan Malam), inilah jam tayang utama. Terbagi menjadi sesi pertama (19.00) dan sesi kedua (21.00).

Terakhir ada nacht-voorstelling (Midnight) yang sebenarnya jarang terjadi, kecuali untuk pemutaran perdana film sangat populer atau acara amal khusus.

Sebelum masuk ke era setelah Kemerdekaan, Jepang mengubah sistem klasifikasi untuk menghapus pengaruh Barat meski sistem kelas tetap ada untuk kepentingan propaganda.

Penamaan bioskop diubah menjadi nama-nama Jepang dan pembagiannya menjadi lebih kompleks dan film yang diputar terbatas pada film propaganda Jepang atau film lokal yang sudah disensor ketat.

Lalu, memasuki masa pasca kemerdekaan hingga awal 1990-an, istilah kelas mulai bergeser ke sistem abjad yang menandakan kualitas fasilitas dan lokasi.

Di beberapa bioskop kelas rakyat, ada sistem penonton di depan layar dan di belakang layar (bayangan film terlihat terbalik), dengan harga tiket yang lebih murah lagi untuk posisi di belakang layar.

Sementara kasta tertinggi dalam bioskop yang masih memiliki balkon, harga paling mahal di era 1980an mencapai Rp 2500, jika harga bangku di bawah Rp 1000.

Jika gedung tidak punya balkon, deretan paling belakang adalah yang paling mahal karena jarak mata dan layar paling ideal.

Dan deretan terdepan (kelas 'ndongak) tentu saja dengan harga tiket termurah. Biasanya menjadi incaran pelajar atau warga yang hanya memiliki uang pas-pasan namun ingin tetap mengikuti tren film terbaru.

Yang tak kalah unik dari bioskop Surabaya lama adalah pemisahan pintu masuknya. Seringkali penonton deretan terdepan masuk melalui pintu samping yang sempit. Sementara penonton balkon atau paling atas masuk melalui pintu utama yang megah dengan karpet merah dan pendingin ruangan yang lebih terasa.

Sistem "deretan atas lebih mahal" ini sebenarnya adalah dasar dari sistem premiere atau gold class di bioskop modern sekarang, hanya saja dulu perbedaan-nya terasa sangat kontras.

Selain itu, kehadiran calo karcis adalah bumbu yang tidak terpisahkan dari sejarah bioskop di Surabaya, terutama dari era 1950-1990-an awal. Dalam bahasa lokal Surabaya, mereka sering disebut dengan istilah "Cukrik" atau "Broker".

Fenomena calo ini muncul karena sistem pembelian tiket zaman dulu yang masih manual dan antrean yang seringkali membludak, terutama saat film box office tayang.

Para calo biasanya bekerja berkelompok. Mereka akan mengantre paling depan sejak loket belum dibuka. Begitu loket buka, mereka langsung mem-borong karcis dalam jumlah banyak (seringkali bekerja sama dengan "orang dalam" atau petugas loket). Akibatnya, penonton umum yang antre di belakang se-ringkali kehabisan tiket meskipun antre-an masih panjang.

Ada juga dengan modus operandi, yakni biasanya saat calon penonton sedang antre dan terlihat putus asa karena loket hampir tutup, mereka akan mendekat dan berbisik, "Karcis... karcis... daripada gak nonton, Mas!".

Tapi harga tiket yang ditawarkan calo bisa naik 2-3x lipat dari harga resmi. Dan mereka biasanya berkumpul di depan pintu masuk atau di area parkir.

Di bioskop kelas A seperti Arjuna, calo-calonya cenderung lebih rapi, sementara di bioskop kelas bawah, mereka lebih agresif.

Jika film sudah hampir dimulai dan karcis di tangan calo masih banyak, mereka akan membanting harga agar tidak rugi banyak. Di sinilah penonton yang nekat biasanya menunggu untuk mendapatkan harga miring di menit-menit terakhir.

Lucunya, para calo ini seringkali lebih tahu daripada petugas bioskop mengenai jadwal film yang akan datang. Mereka adalah pengamat film yang handal. Mereka tahu film mana dan yang bakal laku keras dan film mana yang bakal sepi.

Fenomena ini mulai hilang secara perlahan ketika jaringan bioskop modern (Cineplex 21) mulai masuk ke Surabaya pada akhir 1980-an dengan sistem manajemen yang lebih ketat.

Berdasarkan catatan sejarah dan kesaksian para tokoh pers senior seperti ΗM Υousri Νur Raja Agam, di era 1950 hingga 1970-an, diperkirakan terdapat lebih dari 50-60 gedung bioskop yang tersebar di berbagai sudut kota Surabaya. Dan 1980-an tercatat ada 54 gedung bioskop aktif. Bahkan pada tahun 1993 angkanya sempat melonjak hingga 74 gedung, sebelum akhirnya mulai bertumbangan karena invasi teknologi VCD/VHS dan munculnya jaringan bioskop modern di dalam mall. (*)

*) Source : Soerabaia city of heroes