KH Turaichan Adjhuri, Mahaguru Ilmu Falak dari Kota Kretek

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
KH Turaichan Adjhuri
KH Turaichan Adjhuri
grosir-buah-surabaya

​Lahir di Kudus pada 12 Rabi'ul Awwal 1334 Hijriyah (10 Maret 1915 Masehi), KH Turaichan Adjhuri atau yang akrab disapa Mbah Tur adalah putra dari pasangan KH Adjhuri dan Nyai Dewi Sukainah. 

KH Turaichan Adjhuri tumbuh di lingkungan agamis kota santri dan diyakini merupakan keturunan dari waliyullah Syaikh Mutamakkin, Kabupaten Pati. Kecerdasannya yang unik sudah tampak sejak belia; Mbah Tur sangat menggemari permainan catur yang mengandalkan strategi dan ketajaman berpikir, yang kelak tercermin dari kecemerlangan akalnya dalam ilmu hitung.

​Rihlah keilmuannya banyak dihabiskan dengan menimba ilmu kepada para ulama di sekitar Kudus. Pada tahun 1928, KH Turaichan Adjhuri menempuh pendidikan di Madrasah Tasywiquth Thulab As-Salafiyah (TBS) Kudus. Di sanalah beliau mematangkan keilmuannya di bawah bimbingan ulama-ulama besar seperti KH Abdullah Aljufri, KH Muhit, KH Abdul Jalil Hamid, KH R. Asnawi Kudus, hingga KH Ma'shum Ali Kwaron. Saking cerdasnya, pada usia yang sangat muda yakni 14 tahun, Mbah Tur sudah dipercaya untuk mengajar ilmu faraidh dan ilmu falak di almamaternya.

​Kiprah Mbah Tur di tengah umat sangatlah luar biasa, khususnya di Nahdlatul Ulama. Beliau aktif menjabat sebagai Rais Syuriyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kudus, tokoh sentral yang teguh pendirian di forum Bahtsul Masail, hingga menjadi pilar utama di Tim Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). 

Keahlian tingkat tingginya di bidang falak melahirkan karya monumental yang tak lekang oleh zaman, yakni Almanak Menara Kudus. Ketepatan hisab beliau sangat diakui karena mampu memprediksi gerhana dengan sangat presisi. Hebatnya, beliau bahkan telah menyusun hitungan almanak tersebut hingga 200 tahun ke depan, yang hingga kini terus dicetak dan menjadi rujukan umat Islam se-Nusantara.

​Sang pakar hisab yang kharismatik ini berpulang ke Rahmatullah pada 20 Agustus 1999 M (9 Jumadil Ula 1420 Hijriyah) di usia 84 tahun. Jasad KH Turaichan Adjhuri disemayamkan di tanah kelahirannya, Kudus, meninggalkan warisan ilmu falak yang akan terus menerangi perjalanan umat lintas abad. Lahumul fatihah...

*) Source : Pecinta Ulama Nusantara