Slamet Wahyudi Ketahuan Tilap Uang Anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri

avatar Samsul Arifin
  • URL berhasil dicopy
Kantor pusat Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri
Kantor pusat Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri
grosir-buah-surabaya

Slamet Wahyudi bin Amat Ikhsan alias Musman divonis dengan pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan dalam kasus penggelapan uang di Koperasi Jasa Keuangan Syariah Maal wa Tamwil (BMT) Bina Ihsanul Fikri, yang beralamat di Jalan Pleret, Dusun Kauman Pleret, Kabupaten Bantul. Vonis dijatuhkan dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bantul pada Rabu, 22 April 2026.

Menurut Yanuarni Abdul Gaffar selaku Ketua Majelis Hakim, Terdakwa Slamet Wahyudi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam pasal 488 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Jo Pasal 126 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 2023 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Slamet Wahyudi selaku Marketing di Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri setiap bulan digaji sebesar Rp 2.500.000. Tugas Slamet Wahyudi selaku Marketing Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri salah satunya mengambil dan menerima uang tabungan dari para anggota Koperasi BMT yang berada di Pasar Kepek Sewon, Kabupaten Bantul, Pasar Siluk Imogiri, Bantul, dan di rumah-rumah anggota Koperasi yang akan menabung di Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri.

Uang tabungan dari para anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri seharusnya oleh Slamet Wahyudi disetorkan ke Teller kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri setiap hari kerja. Namun oleh Slamet Wahyudi, uang tabungan dari 50 orang anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang diterima dan diambil oleh Slamet Wahyudi untuk disetorkan ke Teller Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri tersebut, seluruhnya tidak pernah disetorkan kepada Teller Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri, sebagaimana maksud dan tujuan dari para anggota koperasi menabung di koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri. Tetapi uang tabungan dari para anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang telah diterima oleh Slamet Wahyudi digunakan untuk membayar angsuran sepeda motor milik Slamet Wahyudi.

Untuk menutupinya, Slamet Wahyudi membuat laporan di Kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri dengan memanipulasi data slip setoran tabungan 50 orang anggota Koperasi yang tidak dicatat di Kantor Koperasi BMT Ihsanul Fikri oleh Slamet Wahyudi. Atau anggota Koperasi yang uang tabungannya telah Slamet Wahyudi terima dan telah digunakan untuk kepentingan Slamet Wahyudi, di buku tabungan milik anggota Koperasi oleh Slamet Wahyudi dicatat telah menyetor uang tabungan sebesar yang diterima oleh Slamet Wahyudi saat itu. Namun oleh Slamet Wahyudi, anggota Koperasi yang saat itu menabung tidak laporkan ke Kantor Koperasi BMT Ihsanul Fikri.

Adapun jumlah anggota Koperasi BMT Fikri Ihsahul Fikri yang uang tabungan telah diterima dan diambil oleh Slamet Wahyudi namun tidak disetorkan ke Koperasi BMT Ihsanul Fikri sebesar kurang lebih Rp 342.381.828,16.

Dikarenakan Slamet Wahyudi sudah banyak mempunyai tanggungan untuk mengembalikan uang tabungan para anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang telah digunakan oleh Slamet Wahyudi, kemudian Slamet Wahyudi mencari cara untuk menggunakan uang milik Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri dengan cara mark up jika ada anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang melakukan pinjaman kepada Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri melalui Slamet Wahyudi. 

Dikarenakan salah satu tugas dan tanggung jawab Slamet Wahyudi mengendalikan kolektibilitas pembiayaan dengan baik, dimana saat itu Rustini sebagai anggota Koperasi ingin melakukan pinjaman kepada Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri sebesar Rp 5 juta melalui Slamet Wahyudi. Namun yang diajukan oleh Slamet Wahyudi kepada Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri sebesar Rp 10 juta.

Setelah pinjaman disetujui oleh Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri, uang diserahkan oleh Slamet Wahyudi kepada Rustini hanya sebesar Rp 5 juta sesuai dengan pinjaman yang diajukan oleh Rustni. Sedangkan sisanya sebesar Rp 5 juta diambil dan digunakan oleh Slamet Wahyudi tanpa sepengetahuan Rustni dan Koperasi BMT Ihsanul Fikri.

Adapun anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang mengajukan pinjaman ke Koperasi BMT Ihsanul Fikri melalui Slamet Wahyudi sebanyak 11 orang dengan total keseluruhan pinjaman yang dimark-up oleh Slamet Wahyudi sebesar kurang lebih sebesar Rp 45 juta.

Pada hari dan tanggal yang sudah tidak dapat diingat lagi pada awal tahun 2023, karena Slamet Wahyudi sudah banyak mempunyai tanggungan untuk membayar angsuran tabungan milik anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang sebelumnya Slamet Wahyudi pakai, Slamet Wahyudi kembali mencari cara lagi untuk menggunakan uang milik Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri, yaitu dengan menggunakan uang Deposito SIMJAKA (Simpanan Berjangka) milik anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri.

Caranya, jika ada anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang mau mencairkan deposito Simjaka miliknya, namun setelah Slamet Wahyudi ambil, ternyata anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri tersebut menunda pencairan (tidak jadi diambil). Karena uang sudah terlanjur cair dan sudah Slamet Wahyudi bawa, maka uang tersebut tanpa sepengetahuan anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri, Slamet Wahyudi gunakan untuk kepentingan pribadi Slamet Wahyudi.

Dan ada tabungan SIMJAKA (Simpanan Berjangka) milik anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang Slamet Wahyudi ambil tanpa sepengetahuan anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri, dimana Suyatmi sebagai anggota Koperasi yang melakukan setoran ke Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri kurang lebih Rp 20.000 melalui Slamet Wahyudi tidak pernah disetorkan oleh Slamet Wahyudi ke Teller Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri, sebagaimana bukti di catatan buku rekening milik Suyatmi dan dari pihak kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri.

Uang tabungan milik Suyatmi yang tercatat di kantor kurang lebih hanya sebesar Rp 567.000 atau terdapat selisih kurang sebesar kurang lebih Rp 17.183.663. Sedangkan Deposito SIMJAKA tercatat Rp 0, tidak sesuai dengan buku rekening yang dipegang oleh Suyatmi.

Adapun anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri yang tabungan Simjaka-nya tidak disetorkan oleh Slamet Wahyudi sebanyak 2 orang dengan jumlah kurang lebih sebesar Rp 30.500.000.

Pada pertengahan tahun 2023, Slamet Wahyudi kembali menggunakan uang milik Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri dengan cara melakukan pinjaman fiktif yang dilakukan Slamet Wahyudi dengan cara ada anggota yang pernah pinjam uang di Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri Unit Pleret melalui Slamet Wahyudi namun sudah lunas. Akan tetapi data milik anggota tersebut, Slamet Wahyudi gunakan untuk pinjam lagi di Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri Unit Pleret tanpa sepengetahuan anggota yang bersangkutan.

Pada hari dan tanggal yang sudah tidak dapat diingat lagi di bulan Januari 2024, ada anggota yang mau mengambil tabungan, namun langsung ke kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri Unit Pleret dan tidak melalui Slamet Wahyudi. Pada saat itu, anggota tersebut membawa buku tabungan miliknya. 

Setelah di cek di kantor, ternyata catatan uang tabungan milik anggota tersebut tidak sesuai dengan catatan di sistem milik kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri Pleret.

Berdasarkan kejadian tersebut, Sudarmanto selaku Kepala Unit Kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri beserta Putri selaku Adminstrasi di kantor Unit Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri melakukan pengecekan langsung ke Pasar Kepek dan diketahui bahwa banyak anggota yang mengeluhkan merasa kesulitan sewaktu akan mengambil uang tabungan serta deposito miliknya.

Sudarmanto dan Putri langsung meminta Agista Kencana selalu Auditor di kantor Unit Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri untuk melakukan pengecekan di rekening masing-masing anggota. Ditemukan uang tabungan, uang deposito yang tidak disetorkan maupun diambil Slamet Wahyudi tanpa sepengetahuan anggota. 

Slamet Wahyudi diketahui menggunakan nama anggota untuk pembiayaan dan melakukan markup pembiayaan dari anggota Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri.

Setelah kejadian tersebut, Slamet Wahyudi langsung dipanggil oleh Sudarmanto dan Putri untuk mencocokkan kembali data-data terkait catatan uang buku tabungan milik anggota dengan catatan sistem di kantor, mencocokkan kartu angsuran pinjaman anggota dengan catatan sistem di kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri.

Setelah dilakukan klarifikasi terhadap Slamet Wahyudi, Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri Pleret menemukan selisih uang, yaitu uang yang tercatat di buku tabungan milik anggota tidak sama dengan catatan sistem di kantor, serta menemukan catatan di kartu angsuran pinjaman anggota tidak sama dengan catatan sistem di kantor. 

Slamet Wahyudi mengakui semua perbuatannya dan Sudarmanto langsung melaporkan kejadian tersebut ke pihak Kepolisian.

Akibat perbuatan Slamet Wahyudi, kantor Koperasi BMT Bina Ihsanul Fikri Unit Pleret mengalami kurang lebih sebesar Rp 677.664.911. (*)