Pengabdian Tanpa Batas Sjarifuddin Baharsjah untuk Pertanian
Indonesia pernah memiliki salah satu putra terbaik di bidang ketahanan pangan yang tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di panggung internasional. Beliau adalah Sjarifuddin Baharsjah (16 Mei 1932 – 15 Januari 2021), seorang akademisi tulen dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan sektor pertanian dan kesejahteraan petani.
Darah Bangsawan dan Dinasti Menteri Pertanian
Lahir di tengah keluarga terpelajar, Sjarifuddin merupakan anak kedua dari pasangan Sutan Pangeran Baharsyah dan Siti Fatimatul Zahra. Ia merupakan kakak kandung dari psikolog ternama Indonesia, Leila Chairani Budiman. Jika dirunut silsilahnya, Sjarifuddin masih memiliki darah keturunan Sultan Bagagarsyah dari Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat, karena sang ayah merupakan cicit dari raja Minangkabau tersebut.
Kisah hidup Sjarifuddin semakin menarik ketika berbicara tentang pendamping hidupnya. Pada tahun 1962, ia menikahi Justika, seorang perempuan berdarah Sunda. Pasangan ini kemudian mengukir sejarah unik di Indonesia sebagai pasangan suami-istri yang sama-sama pernah menduduki kursi Menteri Pertanian.
Setelah Sjarifuddin menyelesaikan masa jabatannya, sang istri, Prof. Dr. Justika Baharsjah, dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertanian pada Kabinet Pembangunan VII, dan kemudian berlanjut sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Reformasi Pembangunan. Pernikahan harmonis ini dikaruniai dua orang putri, Gita Khaerunisa Indahsari dan Rubiantini Indahsari, serta beberapa orang cucu.
Dari Ruang Kuliah IPB Menuju Birokrasi Orde Baru
Sebelum dikenal sebagai pejabat publik, Sjarifuddin adalah seorang pendidik. Ia merupakan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian di IPB, tempat ia menanamkan fondasi pemikiran tentang pentingnya kedaulatan pangan bagi negara agraris seperti Indonesia.
Kepiawaiannya dalam bidang ekonomi pertanian membuat pemerintah Orde Baru melirik potensinya. Karier birokrasinya dimulai saat ia ditunjuk sebagai Menteri Muda Pertanian periode 1988–1993 dalam Kabinet Pembangunan V.
Karena kinerjanya yang dinamis dan terukur, Presiden Soeharto kemudian mempromosikannya menjadi Menteri Pertanian definitif pada periode 1993–1998 dalam Kabinet Pembangunan VI. Menjelang akhir era Orde Baru, ia juga sempat mengabdi di ranah legislatif sebagai Anggota MPR RI perwakilan Partai Golkar untuk daerah pemilihan Sumatera Utara (1997–1999).
Diplomasi Pangan: Memimpin FAO di Roma
Reputasi Sjarifuddin tidak berhenti di level nasional. Dunia internasional mengakui kepemimpinan dan penguasaan materinya di bidang pangan. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Sjarifuddin sebagai Ketua Independen Food and Agriculture Organization (FAO), sebuah badan khusus di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bermarkas di Roma, Italia.
Tidak tanggung-tanggung, ia dipercaya memimpin lembaga dunia tersebut selama dua periode berturut-turut, yakni pada tahun 1997–1999 dan 1999–2001. Di panggung global ini, Sjarifuddin aktif menyuarakan isu-isu kelaparan global, pembangunan pedesaan, dan pentingnya transfer teknologi pertanian ke negara-negara berkembang.
Orang Indonesia Pertama Peraih "Umali Award"
Atas dedikasi dan kontribusi nyatanya yang luar biasa terhadap pembangunan pertanian di kawasan Asia Tenggara, Sjarifuddin dianugerahi penghargaan bergengsi Dioscoro L. Umali Achievement Award (Umali Award) oleh SEARCA (Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture).
Dalam seremonial yang digelar di Manila, Filipina, ia mengukir sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan internasional tersebut, menyingkirkan berbagai kandidat dan ilmuwan top se-Asia Tenggara.
Atas jasa-jasanya yang besar kepada bangsa dan negara, Pemerintah Indonesia juga telah menganugerahkan tanda kehormatan tertinggi berupa Bintang Mahaputera Adipradana kepada beliau pada 12 Agustus 1992.
Prof. Sjarifuddin Baharsjah berpulang pada 15 Januari 2021 di usia 88 tahun. Ia meninggalkan warisan berupa cetak biru pemikiran ekonomi pertanian modern dan keteladanan sebagai seorang pejabat yang tetap menjaga integritas ilmiahnya hingga akhir hayat. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar