Oesman Sapta Odang, Anak Sulit Air Solok yang Sukses Jadi Konglomerat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Oesman Sapta Odang
Oesman Sapta Odang
grosir-buah-surabaya

Di balik gemerlap panggung politik nasional dan kesuksesan finansial yang melimpah, ikatan emosional terhadap tanah kelahiran leluhur sering kali menjadi kompas hidup bagi seorang tokoh besar. Hal inilah yang tecermin nyata dalam perjalanan hidup Oesman Sapta Odang, atau yang akrab disapa Oso. 

Meski melanglang buana mendirikan imperium bisnis dan menduduki kursi kepemimpinan tertinggi parlemen, ia tak pernah sedikit pun melupakan Sulit Air, Solok, Sumatra Barat—kampung halaman sang ibunda.

Oesman Sapta Odang lahir pada 18 Agustus 1950 dari pasangan Odang, seorang pria asal Palopo, Sulawesi Selatan, dan Asnah Hamid, perempuan berdarah Minang asli dari Sulit Air. Kombinasi kultur Bugis dan Minang ini menempa karakternya menjadi sosok petarung yang tangguh, ulet, sekaligus jeli melihat peluang. 

Sebagai wujud baktinya kepada sang ibu dan tanah leluhur, Oso mendirikan sebuah Rumah Gadang megah di Sulit Air. Pusat kebudayaan dan wisata itu dibangunnya bukan sekadar pajangan, melainkan sebagai pusat informasi dan simbol bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, ia tetap anak ranah Minang.

Kegigihan Serta Gurita Bisnis OSO Group

Perjalanan karier Oesman Sapta Odang di dunia usaha diwarnai oleh kerja keras dan insting bisnis yang tajam. Keterbatasan pendidikan formal di masa muda—di mana ia menyelesaikan jenjang menengah atas lewat jalur ujian Paket C pada tahun 2006—bukanlah penghalang untuk menaklukkan kerasnya dunia usaha. Jauh sebelum menamatkan ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)-nya tersebut, pengakuan atas kapasitas kepemimpinannya sudah diakui internasional ketika ia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Senior University International, Amerika Serikat, pada tahun 1999.

Melalui bendera OSO Group, ia berhasil membangun konglomerasi bisnis raksasa yang bergerak di berbagai lini industri strategis. Gurita bisnisnya menyentuh sektor pertambangan, properti, perhotelan, perkebunan, perikanan, transportasi, komunikasi, keuangan, hingga produk air mineral. Berkat kesuksesan ekspansi bisnis ini, majalah Globe Asia pada tahun 2016 menempatkan nama Oso ke dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia dengan taksiran total kekayaan mencapai USD 350 juta.

Tak hanya menakhodai OSO Group, Oso juga dipercaya memperkuat manajemen maskapai penerbangan swasta terbesar di tanah air dengan duduk sebagai Komisaris Lion Air. Guna menjaga keberlanjutan bisnisnya, Oso mengambil langkah profesionalisasi dengan menggandeng tokoh-tokoh papan atas nasional. Ia menunjuk mantan Menteri BUMN Tanri Abeng sebagai CEO OSO Group, menggandeng mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal (Purn) George Toisutta sebagai komisaris utama, serta mempercayakan posisi direktur utama kepada putranya yang juga tokoh muda nasional, Raja Sapta Oktohari.

Nakhoda Parlemen dan Pemimpin Organisasi Massa

Kelihaian Oso dalam mengelola bisnis berbanding lurus dengan ketajaman insting politiknya di tingkat nasional. Kiprah parlementernya terbentang panjang melintasi beberapa era pemerintahan. Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) periode 1999–2004, dan kembali terpilih menduduki posisi serupa sebagai wakil dari kelompok Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) untuk periode 2014–2019.

Puncak karier politiknya di Senayan terjadi pada Sidang Paripurna 4 April 2017, saat Oso terpilih secara aklamasi menjadi Ketua DPD RI. Di ranah kepartaian, setelah mendirikan Partai Persatuan Daerah (PPD), ia kemudian didapuk memimpin Partai Hanura sebagai Ketua Umum sejak tahun 2016.

Pengaruh besar seorang Oso juga terlihat dari kepemimpinannya di berbagai organisasi kemasyarakatan penting. Sejak tahun 2010, ia memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai Ketua Umum. Ia juga memimpin Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gebu Minang, organisasi wadah persatuan masyarakat perantau Minangkabau. Kiprahnya di organisasi bernapaskan keagamaan pun diakui saat ia ditunjuk menjadi Ketua Majelis Pembina Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), meneruskan estafet kepemimpinan dari tokoh nasional legendaris, Azwar Anas.

Kisah hidup Oesman Sapta Odang menjadi bukti konkret bagi generasi muda di daerah. Melalui dedikasi, integritas, dan rasa hormat yang mendalam pada asal-usul keluarga, seorang anak yang berakar dari desa terpencil seperti Sulit Air, Solok, mampu berdiri tegak memimpin ribuan karyawan dan menentukan arah kebijakan politik di level tertinggi negara. (*)