KH Dalhar Munawwir, Ulama Sederhana dan Pengabdi Umat
Lahir dan besar di lingkungan agamis Krapyak, Yogyakarta, KH Dalhar Munawwir merupakan putra dari mahaguru Al-Qur'an Nusantara, K KH Dalhar Munawwir. Mewarisi semangat juang sang ayah, Kiai Dalhar muda melangkahkan kakinya untuk nyantri dan menimba barokah ke berbagai pesantren besar di tanah Jawa.
Rihlah ilmiahnya ditempuh dengan berguru kepada jajaran ulama kharismatik. Beliau mematangkan ilmunya di bawah bimbingan K.H. Dalhar Watucongol (Magelang), K.H. Bisri Mustofa (Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang), K.H. Siroj Payaman, K.H. R. Abdul Qodir Munawwir, hingga kepada ulama besar yang juga merupakan kakak iparnya, yakni K.H. Ali Maksum.
Kiprah KH Dalhar Munawwir sangat lekat dengan perkembangan Pondok Pesantren Nurussalam (yang merupakan bagian dari kompleks Al-Munawwir Krapyak). Beliau memegang amanah kepemimpinan pesantren tersebut dari tahun 1975 hingga 2009.
Di bawah asuhannya, tradisi haflah khotmil Qur'an terus menyala berkat ketelatenan beliau dalam membimbing dan menyimak hafalan para santri. Di luar bilik pesantren, beliau merupakan figur penggerak masyarakat yang pernah memegang amanah sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Bantul.
Di mata masyarakat, Kiai Dalhar dikenang sebagai sosok yang sangat terbuka, low profile, sekaligus seorang nasionalis sejati. Beliau tidak pernah luput memanjatkan doa khusus untuk keamanan dan kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia di setiap khutbahnya.
Di bidang literasi fikih, kedalaman ilmu beliau tertuang dalam sebuah mahakarya kitab bertajuk An-Namiqatu fil Qawa'idil Fiqhiyyah. Dari gemblengan kesabarannya, lahir banyak tokoh yang meneruskan estafet perjuangan agama, salah satunya adalah murid beliau, Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal.
Sang kiai pengabdi umat ini telah berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan warisan ilmu dan keteladanan akhlak. Sesuai dengan wasiatnya, jenazah beliau disemayamkan di kompleks makam keluarga Dongkelan, Yogyakarta, bersanding abadi di sebelah pusara istri tercintanya, Nyai Hj. R.r. Siti Makmunah. Lahumul fatihah...
*) Source : Pecinta Ulama Nusantara
Editor : Bambang Harianto