Karier dan Politik Iyeth Bustami dari Panggung Dangdut Menuju Senayan
Nama Iyeth Bustami tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, khususnya para pencinta musik dangdut Melayu. Perempuan berdarah asli Melayu Riau yang terlahir dengan nama Sri Barat ini merupakan salah satu penyanyi senior legendaris tanah air. Berkat dedikasi dan suara emasnya, ia sukses menyandang gelar sebagai "Ratu Dangdut Melayu" (Queen of Melayu), sekaligus dikenal dengan ciri khas hijabnya yang ikonik.
Lahir di Bengkalis pada 24 Agustus 1973, putri dari Adham Bustami bin Abdul Hamid ini menghabiskan masa kecilnya di tanah kelahiran. Ia menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 02 Bengkalis (1980–1986) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Bengkalis (1986–1989), sebelum akhirnya merantau ke ibu kota untuk mengejar mimpi di dunia musik.
Lika-Liku Karier dan Puncak Keemasan "Laksmana Raja di Laut"
Karier bermusik Iyeth dimulai sejak ia memutuskan pindah ke Jakarta pada tahun 1989. Di bawah naungan berbagai label rekaman, ia merilis deretan album seperti Dondang Sayang (1990), Cup-Cup Trio Dangdut (1991), Emangnya Aku Pikirin (1992), hingga album Pop Minang '95 (Album Hati Nan Seso) pada tahun 1995.
Namun, puncak popularitas yang sesungguhnya baru direngguk Iyeth pada tahun 2003 lewat lagu spektakuler "Laksmana Raja di Laut". Lagu yang dikemas dalam album Zapin-Dut tersebut meledak di pasaran, bahkan membuat namanya melambung tinggi hingga ke negara tetangga seperti Malaysia. Cengkok Melayu yang khas dan magis membawanya menyabet penghargaan sebagai Penyanyi Dangdut Wanita Terbaik pada ajang Anugerah Dangdut TPI 2003.
Meski demikian, lagu tersebut sempat tersandung kontroversi royalti dan kepemilikan hak cipta pada tahun 2005 dengan musisi Riau, Nurham Yahya. Perselisihan ini akhirnya berujung ke pengadilan, di mana diputuskan bahwa melodi lagu tersebut merupakan karya Pak Ngah (seniman Malaysia), sedangkan bagian raal (cengkok pembuka) diciptakan sendiri oleh Iyeth Bustami.
Kehidupan Pribadi yang Harmonis
Di balik gemerlap panggung, Iyeth Bustami membangun biduk rumah tangga bersama Eka Sapta Nugraha, yang juga dikenal sebagai personel boyband dangdut G4UL. Keduanya menikah secara tertutup pada tahun 2003 demi menghindari fitnah dan sorotan negatif media kala itu, sebelum akhirnya menggelar resepsi resmi di Denpasar, Bali, pada 6 April 2004. Dari pernikahan yang harmonis ini, mereka dikaruniai tiga orang putri, yaitu Zaviena Bintang Nugraha, Maula Lovieka Nugraha, dan Kayra Safwa Nugraha.
Konsistensi di Jalur Politik: Buah Sabar Menuju Kursi Parlemen
Tidak puas hanya berkarya di industri hiburan, Iyeth Bustami melebarkan sayapnya ke dunia politik praktis melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Perjalanan politiknya penuh dengan ujian konsistensi:
Pemilu 2014: Ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil Riau I. Meski berhasil meraup 45.803 suara, ia belum berhasil lolos karena perolehan total suara partai belum mencukupi untuk mengamankan kursi.
Pilkada 2020: Iyeth mencoba peruntungan di kampung halamannya dengan maju sebagai Calon Wakil Bupati Bengkalis mendampingi Kaderismanto. Pasangan yang diusung PDI-P dan PKB ini berada di posisi ketiga dengan raihan 50.570 suara (18%).
Pemilu 2024: Berkat kerja keras dan kedekatan yang tak pernah putus dengan masyarakat Bumi Lancang Kuning, perjuangan panjang Iyeth akhirnya membuahkan hasil. Ia sukses mengamankan kursi dan resmi dilantik sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029 mewakili Fraksi PKB dari Dapil Riau I.
Kini, sang Ratu Dangdut Melayu siap menyuarakan aspirasi masyarakat Riau langsung dari kursi Parlemen Senayan, membawa semangat kebudayaan dan kesejahteraan daerah ke tingkat nasional. (*)
Editor : Bambang Harianto