Mesin Uang PT Avia Avian Selain Jualan Cat
Jualan cat laris manis, tapi uang triliunan rupiah milik PT Avia Avian Tbk (brand Avian Cat) ikut "kerja" di deposito dam obligasi negara. Orang fokus ke catnya, padahal mesin duitnya ada di belakang layar.
Kalau lihat toko bangunan sekarang, rasanya hampir mustahil tidak menemukan produk Avian. Dari cat tembok, kayu, besi, sampai waterproofing, brand ini ada dimana-mana. Dan hasilnya memang kelihatan di laporan keuangan terbaru mereka.
Dalam 3 bulan pertama 2026, penjualan Rp2,35 triliun, naik sekitar 16,8% YoY (year on year). Laba bersih Rp 503 miliar. Margin laba bersih sekitar 21%. Dan yang bikin menarik, kas serta investasi likuid mereka sekarang sudah lewat Rp 4,6 triliun.
Uangnya tidak diam di satu tempat. Per Maret 2026, AVIAN punya kas dan setara kas Rp 2,21 triliun. Yang menarik, uangnya disebar ke banyak bank besar. Beberapa penempatan kas terbesar mereka :
UOB Indonesia: Rp 447,8 miliar.
Mandiri : Rp 172,5 miliar.
Permata : Rp 40,3 miliar.
BCA: Rp 16,1 miliar.
PT Avia Avian Tbk juga punya saldo dolar AS di Bank Mandiri. Jadi ini bukan sekadar "uang nganggur", tapi memang dikelola serius untuk menjaga likuiditas dan fleksibilitas bisnis.
Deposito PT Avia Avian Tbk sudah tembus Rp 1,52 triliun. Nah ini bagian yang bikin banyak orang mulai melirik. Dari total kas mereka, sekitar Rp 1,52 triliun, ternyata ditempatkan ke deposito berjangka. Penempatan terbesarnya :
BTPN : Rp550 miliar.
BCA: Rp 400 miliar.
Mandiri: Rp 320 miliar.
BNI : Rp 150 miliar.
Danamon: Rp 100 miliar.
Bunganya juga tidak kecil, sekitar 4,5 persen sampai 5,5 perssen per tahun. Jadi sambil jualan cat, perusahaan PT Avia Avian Tbk tetap dapat aliran pendapatan tambahan dari bunga deposito.
Belum Selesai disitu. PT Avia Avian Tbk juga masuk Obligasi Negara. Selain deposito, PT Avia Avian Tbk juga tercatat punya investasi pada surat utang negara alias obligasi pemerintah. Biasanya strategi seperti ini dipilih perusahaan yang cashflow-nya stabil, kasnya berlebih, tidak sedang agresif bakar uang, lebih fokus menjaga keamanan modal.
Artinya, uang hasil jualan cat PT Avia Avian Tbk sekarang bukan cuma berputar di pabrik atau distribusi, tapi juga ikut "bekerja" di instrumen keuangan yang relatif aman.
Pendapatan Keuangannya Mulai Terasa
Efeknya mulai kelihatan di laporan laba rugi. Dalam 3 bulan saja, pendapatan keuangan PT Avia Avian Tbk mencapai Rp 49,9 miliar. Artinya, sumber cuan mereka sekarang bukan cuma dari jualan produk. Tapi juga dari hasil mengelola kas, deposito, dan investasi jangka pendek yang mereka punya.
Di level tertentu, perusahaan besar memang mulai berubah. Dari sekadar produsen jadi pengelola modal. Cashflow-nya memang lagi deras.
Strategi ini masuk akal kalau melihat kondisi bisnis inti mereka yang masih sangat sehat. Dalam 3 bulan, Jas dari aktivitas operasi : Rp719 miliar, penerimaan dari pelanggan : Rp 2,2 triliun, laba usaha: Rp 595 miliar.
Artinya bisnis inti PT Avia Avian Tbk memang masih muter kencang. Penjualan jalan, margin tetap tebal, dan uang tunai terus masuk deras. Makanya mereka punya ruang besar buat parkir dana ke deposito, obligasi negara, reksa dana, investasi jangka pendek lain.
PT Avia Avian Tbk sedang bermain aman atau lagi menunggu momentum?
Nah, disini mulai muncul pertanyaan menarik. Dengan kas sebesar itu, sebenarnya AVIAN punya kemampuan untuk ekspansi agresif, membangun fasilitas produksi baru, akuisisi bisnis lain, atau promosi besar-besaran.
Tapi sejauh ini, PT Avia Avian Tbk justru terlihat cukup konservatif. PT Avia Avian Tbk lebih fokus menjaga margin, memperkuat posisi kas, dan memutar uang di instrumen aman. Bisa jadi PT Avia Avian Tbk memang lagi menunggu momentum besar berikutnya.
PT Avia Avian Tbk sekarang bukan cuma jualan cat. Cashflow bisnisnya sudah cukup besar sampai duitnya bisa ikut menghasilkan uang lewat deposito dan obligasi negara. Di satu sisi ini terlihat sangat aman dan matang.
Tapi di sisi lain, banyak juga yang mulai penasaran, perusahaan sebesar ini sebenarnya lagi siap ekspansi besar, atau justru nyaman jadi "mesin cashflow" yang main aman?
Editor : Zainuddin Qodir