Kisah Siswono Yudo Husodo Saat Berdagang Bawang

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ir. Siswono Yudo Husodo
Ir. Siswono Yudo Husodo
grosir-buah-surabaya

Nama Ir. Siswono Yudo Husodo (lahir 4 Juli 1943) dikenal luas sebagai salah satu figur teknokrat, pengusaha, sekaligus politikus senior Indonesia yang memiliki rekam jejak multidimensi. Pria asli Kebumen yang lahir di Long Iram, Kalimantan Timur ini, sukses menancapkan pengaruhnya di berbagai era: mulai dari perintis bisnis konstruksi nasional, menteri andalan era Orde Baru, hingga menjadi pembela gigih nasib para petani di era Reformasi.

Masa Muda: Anak Dokter yang Terbentur Badai Politik

Lahir di tengah masa pendudukan Jepang, Siswono merupakan anak ketiga dari sepuluh bersaudara dari pasangan Dr. Soewondo dan ibunya. Mengikuti tugas sang ayah sebagai dokter dinas, masa kecil Siswono dihabiskan dengan berpindah-pindah kota dari Tenggarong, Palu, Kendal, hingga akhirnya menetap di Jakarta untuk menempuh sekolah menengah.

Pada tahun 1961, ia berhasil menembus salah satu kampus teknik paling bergengsi di Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Sipil. Di sanalah jiwa aktivismenya tumbuh. Siswono bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Barisan Soekarno.

Pilihan politiknya ini membawa konsekuensi berat saat terjadi transisi kekuasaan ke Orde Baru. Siswono terkena skorsing akademik selama empat tahun. Jauh dari ruang kuliah, ia enggan menyerah pada nasib. Siswono beralih menjadi pedagang hasil bumi dengan memasok bawang putih dari Jawa Timur ke pasar-pasar di Jakarta dan Palembang. Pengalaman pahit ini justru mengasah ketajaman berbisnisnya sebelum akhirnya diizinkan kembali ke kampus dan lulus pada tahun 1968.

Membangun Imperium Bisnis dan Dipercaya Bung Karno-Hatta

Setahun setelah menggenggam gelar insinyur, Siswono bersama rekan-rekan alumni ITB mendirikan PT Bangun Tjipta Sarana pada tahun 1969. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan konstruksi ini berkembang pesat seiring booming pembangunan nasional. Salah satu portofolio monumental dan penuh kehormatan yang didapatkan perusahaannya adalah kepercayaan untuk membangun kompleks makam Proklamator RI, Ir. Soekarno di Blitar dan Drs. Mohammad Hatta di Jakarta.

Keberhasilannya di dunia usaha membawa Siswono dipercaya memimpin organisasi bergengsi. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 1973–1977 dan Ketua Persatuan Pengusaha Real Estat Indonesia (REI) periode 1983–1986.

Masuk Lingkaran Kabinet Orde Baru

Kepiawaian Siswono di bidang infrastruktur dan manajemen properti menarik perhatian Presiden Soeharto. Pada tahun 1988, ia dipanggil masuk ke dalam jajaran pemerintahan untuk menjabat sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat pada Kabinet Pembangunan V.

Kinerjanya yang dinamis membuat posisinya tak tergantikan. Pada periode berikutnya (1993–1998), ia digeser untuk mengemban tanggung jawab yang lebih luas sebagai Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja dalam Kabinet Pembangunan VI. Di posisi ini, ia fokus mengawal pemerataan penduduk sekaligus penataan regulasi tenaga kerja nasional.

Kiprah Politik Pasca-Reformasi dan Panggung Pilpres 2004

Tumbangnya rezim Orde Baru tidak meredupkan karier politik Siswono. Antara tahun 1999 hingga 2004, ia masuk ke Senayan sebagai Anggota MPR RI utusan "Kelompok Pengusaha". Namanya bahkan sempat mencuat dalam bursa calon wakil presiden pada Sidang Umum MPR 1999, meskipun terjegal di putaran pertama.

Berpasangan dengan Amien Rais di Pilpres Sejarah 2004

Puncak panggung politik praktisnya terjadi pada Pemilihan Umum Presiden secara langsung pertama di Indonesia tahun 2004. Siswono Yudo Husodo dipinang oleh tokoh reformasi, Amien Rais, untuk maju sebagai calon Wakil Presiden. Diusung oleh koalisi enam partai politik, pasangan Amien-Siswono harus puas berada di urutan keempat pada putaran pertama dengan raihan 14,66 persen suara.

Pasca-Pilpres, Siswono tetap mengabdi di parlemen. Melalui Partai Golkar, ia terpilih menjadi Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah I pada Pemilu 2009. Di Senayan, ia dipercaya menempati Komisi IV (Pertanian dan Pangan) serta menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR RI. Ia memilih pensiun dari kontestasi parlemen pada 2014 karena faktor usia, sebelum akhirnya didaulat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Nasdem pada 2017 dan aktif mengurus dunia pendidikan sebagai ketua yayasan Universitas Pancasila.

Kembali ke Akar: Menjadi Petani Tulen

Bagi Siswono, pengabdian paling tulusnya justru muncul setelah ia menanggalkan seluruh jabatan menterinya. Sejak tahun 1999, ia terpilih menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Menariknya, kecintaan Siswono pada sektor agraris bukanlah sekadar komoditas politik pencitraan. Ia adalah seorang petani dan peternak praktis. Di luar aktivitas politiknya, alumnus teknik sipil ini dikenal sangat fasih menjelaskan teori agraria secara mendalam: mulai dari teknik mengawinkan domba agar mendapat bibit unggul, hingga seluk-beluk manajemen budidaya tembakau dan sayur-mayur di ladang miliknya.

Melalui konsistensinya, Siswono Yudo Husodo membuktikan bahwa seorang begawan bisnis dan mantan menteri pun bisa menemukan kebahagiaan sejati serta kehormatan tertinggi di atas tanah berlumpur bersama para petani Indonesia. (*)

*) Source : Nasrul Koto