Sayyidina Jafar Memeluk Bendera Nabi Meski 2 Tangannya Terputus
Langit Mu’tah sore itu gelap oleh debu peperangan. Pasir beterbangan. Jeritan kesakitan terdengar di mana-mana. Tubuh-tubuh kaum muslimin mulai berguguran satu per satu.
Dan di tengah medan perang yang kacau itu… Sayyidina Ja'far bin Abi Thalib masih berdiri memegang bendera Rasulullah SAW. Tangannya bergetar karena lelah. Tubuhnya penuh luka. Darah mengalir dari wajah hingga kakinya.
Namun ada satu hal yang lebih kuat daripada rasa sakitnya, cintanya kepada Nabi Muhammad SAW.
Ketika Zaid bin Haritsah gugur syahid, bendera Rasulullah hampir jatuh ke tanah. Dan Ja’far… langsung berlari memeluknya. Seolah ia sedang menjaga sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Pedang Romawi datang menyambar. Brakkk… tangan kanannya putus.
Darah menyembur membasahi pasir Mu’tah. Namun Ja’far tidak menjerit. Tidak mundur. Tidak membiarkan bendera itu jatuh. Ia pindahkan bendera Rasulullah ke tangan kirinya.
Beberapa saat kemudian… pedang lain kembali menebas. Dan tangan kirinya pun terputus. Tubuhnya mulai limbung. Tapi yang membuat para malaikat menangis adalah… bahkan setelah kehilangan kedua tangannya, Ja’far masih berusaha memeluk bendera Rasulullah SAW dengan sisa kedua lengannya.
Ia dekap bendera itu erat di dada yang penuh luka. Seakan berkata, "Jangan jatuh… ini milik kekasihku… ini milik Nabiku"
Tombak demi tombak menancap ke tubuhnya. Pedang demi pedang merobek dadanya. Satu luka. Sepuluh luka. Lima puluh luka. Hingga lebih dari delapan puluh tusukan memenuhi tubuhnya.
Dan semua luka itu berada di bagian depan. Karena Ja’far tidak pernah lari dari perjuangan membela Nabi SAW. Tidak ada luka di punggungnya. Karena sejak awal… ia sudah berniat pulang kepada Allah sebagai pecinta Rasulullah.
Ketika peperangan mulai mereda, para sahabat menemukan tubuh Ja’far terbaring di atas pasir yang panas. Tubuhnya nyaris tak dikenali. Darah memenuhi dadanya. Napasnya tersisa sedikit. Salah seorang sahabat menangis sambil mengangkat kepalanya.
"Wahai Ja’far… minumlah air ini"
Di tengah haus yang membakar, di tengah rasa sakit yang tak terbayangkan, Ja’far justru berbisik lirih, "Aku… sedang berpuasa"
Air mata para sahabat jatuh satu per satu. "Berbukalah hari ini wahai Ja'far... Allah pasti memaafkanmu, lukamu terlalu parah"
Ja’far tersenyum sangat pelan. Tatapannya kosong ke langit. Seolah ia sedang melihat pintu surga dibukakan untuknya. Lalu dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, "Aku ingin berbuka… di surga"
Dan setelah kalimat itu selesai, kepalanya perlahan terkulai. Tubuhnya diam. Senyap. Seakan seluruh dunia ikut berhenti bernapas. Di Madinah, Muhammad SAW tiba-tiba menengadah ke langit. Ia menjawab salam seseorang yang tidak terlihat. "Wa'alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh"
Para sahabat terdiam. Hati mereka bergetar. "Ya Rasulullah… siapa yang memberi salam kepadamu?"
Mata Nabi SAW berkaca-kaca. Lalu ia berkata, "Ja’far datang kepadaku. Allah telah mengganti kedua tangannya dengan dua saya, ia terbang bersama para malaikat di surga"
Tangis para sahabat pecah. Karena mereka tahu… di medan Mu'tah tadi, ada seorang lelaki yang kehilangan kedua tangannya demi menjaga kehormatan Rasulullah SAW.
Dan yang lebih menyayat hati bahkan setelah Allah memberinya surga, Ja’far tidak langsung menikmati segala kenikmatannya. Ia justru datang terlebih dahulu kepada Nabi SAW. Hanya untuk mengucapkan salam. Hanya karena rindu. Betapa besar cinta para sahabat kepada Rasulullah SAW. Mereka rela kehilangan tangan. Kehilangan darah. Kehilangan nyawa.
Sedangkan kita hari ini… kadang bahkan lupa bershalawat. Lupa menangis saat nama Nabi disebut. Lupa bahwa ada manusia paling mulia yang dulu menangis demi keselamatan umatnya. Mungkin itu sebabnya hati kita terasa kosong. Karena kita mengenal Nabi hanya sebagai cerita… bukan sebagai seseorang yang benar-benar kita cintai.
Allahumma shalli’ala sayyidina Muhammad wa’ala aali sayyidina Muhammad. (*)
Editor : Bambang Harianto