Kisah Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Diasingkan di Negeri Sendiri

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani
grosir-buah-surabaya

Diasingkan jauh dari tanah kelahirannya, tetapi justru menjadi pahlawan di negeri lain. Bahkan Nelson Mandela menyebutnya sebagai salah satu putra terbaik Afrika. Siapakah ulama Nusantara yang begitu dihormati ini?

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Di Sulawesi Selatan, beliau juga dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka ri Gowa, yang berarti “Tuan Guru Penyelamat Kita dari Gowa”, sebuah penghormatan yang diberikan oleh masyarakat dan para pengikutnya.

Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dan Aminah. Saat lahir, beliau diberi nama Abadin Tadia Tjoessoep (bahasa Arab: عابدين تاجة يوسف) atau Muhammad Yusuf. Nama tersebut diberikan langsung oleh Sultan Alauddin, raja Gowa pertama yang memeluk Islam, yang juga masih memiliki hubungan kekerabatan dengan ibunda Syekh Yusuf.

Dalam masa menuntut ilmu, Syekh Yusuf berguru di Pesantren Asyaqalain Baharun Nur di Kampung Cikoang, Takalar. Di sana beliau belajar kepada Sayyid Syekh Alwi Jalaluddin bin Ahmad (qunyah Muhammad Wahid) bin Abu Bakar Bafaqih, seorang ulama yang memiliki sanad keilmuan dari keturunan Imam Muhammad Maula Aidid dan tradisi ulama Ahlus Sunnah dari Hadramaut. Dari gurunya tersebut, Syekh Yusuf mempelajari syariat Islam, tasawuf, makrifat, serta nilai hubbul wathan atau cinta tanah air, sebagaimana disebutkan dalam berbagai manaqib Syekh Yusuf.

Setelah kembali dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa. Tidak lama kemudian, pada usia sekitar 18 tahun, beliau berangkat ke Banten. Di sana beliau menjalin persahabatan erat dengan Pangeran Surya, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa. Persahabatan tersebut kelak membawa Syekh Yusuf menjadi Mufti Kesultanan Banten, salah satu jabatan keagamaan tertinggi pada masa itu.

Pada tahun 1644, Syekh Yusuf menunaikan ibadah haji dan kemudian menetap di Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Selama berada di Timur Tengah, beliau menuntut ilmu kepada banyak ulama terkemuka di Makkah dan Madinah. Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Yaman, di mana beliau berguru kepada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi, kemudian ke Damaskus untuk belajar kepada Syekh Abu Al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Secara keseluruhan, Syekh Yusuf menghabiskan kurang lebih 20 tahun menimba ilmu di Timur Tengah, memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman, khususnya fikih, tasawuf, dan tarekat.

Ketika Kesultanan Gowa mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Belanda, Syekh Yusuf kembali menetap di Banten dan diangkat sebagai mufti. Pada masa itu, Kesultanan Banten berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terpenting di Nusantara. Syekh Yusuf memiliki banyak murid dari berbagai daerah, termasuk sekitar 400 murid asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.

Perlawanan Kesultanan Banten terhadap VOC akhirnya mengalami kemunduran setelah pasukan Sultan Ageng Tirtayasa dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1682. Karena keterlibatannya dalam perjuangan melawan VOC, Syekh Yusuf ditangkap dan kemudian diasingkan ke Sri Lanka (Ceylon) pada bulan September 1684.

Meskipun berada dalam pengasingan, Syekh Yusuf tetap aktif berdakwah dan mengajarkan Islam. Di Sri Lanka, beliau memiliki ratusan murid yang sebagian besar berasal dari India Selatan. Salah satu tokoh yang disebut pernah berguru kepada beliau adalah Syekh Ibrahim ibn Mi'an, yang kemudian dikenal sebagai salah satu ulama besar di India.

Belanda berharap pengasingan tersebut dapat memutus pengaruh Syekh Yusuf terhadap para pengikutnya di Nusantara. Namun harapan itu tidak terwujud. Melalui para jamaah haji yang singgah di Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan murid-murid dan pengikutnya di Indonesia. Karena pengaruhnya dianggap tetap besar, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk mengasingkannya lebih jauh lagi.

Pada 22 Desember 1694, Syekh Yusuf dipindahkan dari Sri Lanka ke Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan.

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf kembali melanjutkan dakwahnya. Beliau berhasil membina komunitas Muslim yang kemudian menjadi salah satu fondasi awal perkembangan Islam di wilayah tersebut. Pengaruhnya begitu besar sehingga beliau dihormati tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai simbol perjuangan melawan penindasan dan kolonialisme.

Ketika Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699, para pengikutnya menjadikan hari wafat beliau sebagai hari peringatan. Berabad-abad kemudian, penghormatan terhadap jasa-jasa beliau tetap hidup di Afrika Selatan. Bahkan Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan, menyebut Syekh Yusuf sebagai “salah seorang putra terbaik Afrika”, sebuah penghargaan luar biasa bagi seorang ulama yang lahir jauh di Nusantara.

Atas permintaan Sultan Abdul Jalil yang memerintah Gowa pada periode 1677–1709, jenazah Syekh Yusuf kemudian dipulangkan ke tanah kelahirannya. Pada bulan April 1705, jenazah beliau dimakamkan kembali di Lakiung, Gowa, Sulawesi Selatan.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya bagi bangsa Indonesia, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 071/TK/1995 tanggal 7 Agustus 1995 yang ditetapkan oleh Presiden Soeharto.

Pengakuan terhadap perjuangan dan pengaruh Syekh Yusuf juga datang dari Afrika Selatan. Pada 27 September 2005, pemerintah Afrika Selatan menganugerahkan penghargaan Supreme Companion of OR Tambo in Gold (SCOT), salah satu penghargaan tertinggi negara tersebut, kepada ahli waris Syekh Yusuf. Penyerahan penghargaan itu disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, M. Jusuf Kalla, di Pretoria, Afrika Selatan.

Syekh Yusuf bukan hanya ulama besar Nusantara, tetapi juga tokoh dunia Islam yang jejak perjuangannya melintasi tiga benua: Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Dari Gowa hingga Afrika Selatan, beliau meninggalkan warisan ilmu, dakwah, dan perlawanan terhadap penjajahan yang terus dikenang hingga hari ini. (*)