Oemar Seno Adji, Pencetak Hakim Agung dan Penjaga Keadilan
Dalam lintasan sejarah hukum di Indonesia, nama Prof. Dr. Oemar Seno Adji, S.H., M.H. adalah sebuah legenda. Ia bukan sekadar pejabat, melainkan seorang arsitek keadilan yang meniti karier dari bawah sebagai pegawai biasa hingga berhasil menduduki dua posisi puncak tertinggi di dunia hukum: Menteri Kehakiman dan Ketua Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia.
Dikenal luas sebagai sosok intelektual yang berintegritas tinggi, begawan hukum kelahiran Surakarta ini mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menegakkan keadilan di ruang sidang sekaligus mencetak generasi hukum jempolan di ruang kuliah.
Berasal dari Keluarga Bupati yang Memilih Jalur Hukum
Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 5 Desember 1915, Oemar Seno Adji tumbuh sebagai anak seorang bupati. Latar belakang keluarganya yang terpandang membuatnya berkesempatan mengenyam pendidikan terbaik pada zaman kolonial. Ia menempuh pendidikan dasar di HIS Solo, melanjutkan ke MULO Solo, dan menyelesaikan sekolah menengah atas di AMS A Yogyakarta.
Setamat dari AMS pada akhir tahun 1930-an, Seno mengambil langkah besar dengan merantau ke Jakarta untuk berkuliah di Rechtshogeschool (Sekolah Tinggi Hukum). Menariknya:
Di awal masa mudanya, bidang hukum sebenarnya kurang diminati oleh Oemar Seno Adji. Namun seiring berjalannya waktu, dunia hukum justru menjadi jalan takdir tempat ia mengabdi seumur hidup bagi bangsa.
Setelah Indonesia merdeka, ia mempertajam keilmuannya dan berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada tahun 1949.
Meniti Karier dari Bawah Hingga Menjadi Jaksa Agung Muda
Karier Seno di dunia hukum dirintis benar-benar dari nol. Ia memulai perjalanannya dengan menjadi pegawai biasa di Departemen Kehakiman pada periode 1946–1949.
Karena kecerdasan dan ketekunannya yang menonjol dalam mendalami hukum, kariernya melesat cepat. Baru satu tahun setelah lulus dari UGM, pada tahun 1950, ia langsung dipercaya untuk mengemban amanah besar sebagai Jaksa Agung Muda Republik Indonesia. Jabatan mentereng di lembaga korps adhyaksa ini sukses ia nahkodai selama hampir satu dekade hingga tahun 1959.
Maestro Hukum yang Menguasai Tiga Dunia: Birokrasi, Yudisial, dan Akademis
Kelebihan utama Oemar Seno Adji yang jarang dimiliki tokoh lain adalah kemampuannya menyeimbangkan karier di tiga pilar penting: birokrasi pemerintahan, lembaga peradilan, dan dunia pendidikan.
Dunia Akademis (Dekan FHUI & Rektor): Pasca-purnatugas sebagai Jaksa Agung Muda, sejak tahun 1959 ia mendedikasikan dirinya sebagai dosen dan diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Dedikasinya membawa Seno terpilih menjadi Dekan FHUI periode 1966–1968. Di akhir masa hidupnya, ia juga memimpin Universitas Krisnadwipayana (Unkris) sebagai Rektor (1981–1984).
Dunia Birokrasi (Menteri Kehakiman): Masuk dalam jajaran Kabinet Pembangunan I di bawah Presiden Soeharto, Oemar Seno Adji dipercaya menjabat sebagai Menteri Kehakiman RI selama dua periode berturut-turut (1966–1974).
Dunia Yudisial (Ketua Mahkamah Agung): Puncak karier tertingginya di dunia peradilan diraih saat ia dilantik menjadi Ketua Mahkamah Agung RI periode 1974–1982. Di bawah kepemimpinannya, MA fokus pada penguatan wibawa lembaga peradilan dan pembinaan para hakim agung di Indonesia.
Warisan Akhir Sang Begawan Hukum
Setelah pensiun dari jabatan publik di pemerintahan dan lembaga yudikatif, oase pemikiran Oemar Seno Adji tidak pernah kering. Selain kembali ke kampus, ia juga mendirikan Kantor Advokat Oemar Seno Adji sebagai wadah untuk terus memberikan bantuan hukum dan membimbing para pengacara muda.
Prof. Dr. Oemar Seno Adji, S.H., M.H. mengembuskan napas terakhirnya tepat di hari ulang tahunnya yang ke-69 pada 5 Desember 1984. Ia berpulang dengan meninggalkan legasi emas sebagai simbol ketegasan, keluasan ilmu, dan kejujuran yang menjadi teladan abadi bagi seluruh penegak hukum di tanah air. (*)
Editor : Bambang Harianto