Kisah KH Idham Chalid, Tokoh Jenius Kuasai 6 Bahasa di Balik Uang Rp 5 Ribu
Hampir setiap hari kita melihat dan memegang lembaran uang kertas Rp 5 ribu. Di sana, terpampang gambar seorang tokoh berpeci dengan senyuman yang sangat teduh. Namun, tahukah Anda siapa sebenarnya sosok tersebut?
Beliau adalah K.H. Dr. Idham Chalid, seorang ulama kharismatik, pahlawan nasional, dan salah satu politikus paling jenius yang pernah dimiliki Indonesia. Tidak main-main, pria asal Tanah Banjar ini adalah pemegang rekor sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terlama dalam sejarah, yang mahir menguasai 6 bahasa asing!
Yuk, kenali lebih dekat sosok hebat yang wajahnya setia menemani dompet kita ini.
1. Bocah Ajaib dari Banjar yang Menguasai 6 Bahasa
Idham Chalid lahir pada 27 Agustus 1921 di Satui, Kalimantan Selatan. Sejak kecil, kecerdasannya sudah di atas rata-rata anak seusianya. Saat pertama kali masuk Sekolah Rakyat (SR), ia langsung ditempatkan di kelas dua karena dianggap terlalu pintar.
Bakat terbesarnya adalah dalam bidang linguistik (bahasa) dan orasi. Saat menempuh pendidikan di Madrasah Ar-Rasyidiyyah hingga ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Idham melahap berbagai ilmu pengetahuan.
Hasilnya luar biasa, Idham Chalid tercatat fasih menguasai 6 bahasa, yaitu: Bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, dan tentu saja bahasa Indonesia/daerah. Kecerdasan inilah yang kelak menjadi modal utamanya menjadi diplomat ulung di panggung politik.
2. Jadi Penerjemah Ulama dan Pemimpin NU di Usia 34 Tahun
Kefasihan Idham dalam berbahasa Jepang sempat membuat tentara pendudukan Dai Nippon kagum. Ia pun sering diminta menjadi penerjemah dalam pertemuan rahasia antara militer Jepang dan para alim ulama. Dari sinilah, jaringan dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh inti Nahdlatul Ulama (NU) mulai terbangun.
Karier politiknya melesat bak meteor. Setelah sukses membawa NU bertengger di posisi tiga besar pada Pemilu legendaris 1955, Idham Chalid membuat sejarah besar. Pada Muktamar NU ke-21 di Medan tahun 1956, ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU.
Hebatnya, saat dipercaya memimpin jutaan umat NU, usia Idham baru 34 tahun! Ia memegang posisi nomor satu di NU tersebut selama 28 tahun berturut-turut (1956–1984), sebuah rekor yang belum terpecahkan hingga hari ini.
3. Jenderal Politik Lintas Zaman: Dipercaya Soekarno dan Soeharto
Politik Indonesia pasca-kemerdekaan sangatlah dinamis dan penuh badai. Banyak tokoh besar yang tumbang ketika rezim berganti. Namun, Idham Chalid adalah pengecualian. Karena sifatnya yang moderat, santun, dan selalu mencari titik temu demi persatuan bangsa, ia dipercaya oleh dua presiden di dua era berbeda:
Era Orde Lama (Bung Karno): Idham dipercaya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam) RI dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda, serta Wakil Ketua MPRS.
Era Orde Baru (Pak Soeharto): Ia didaulat menjadi menteri di beberapa kabinet, di antaranya Menteri Kesejahteraan Rakyat, Menteri Sosial, Ketua DPR/MPR RI (1971–1977), hingga Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).
Ia juga menjadi salah satu tokoh kunci di balik lahirnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1973 dan menjabat sebagai Presiden PPP pertamanya.
4. Hidup Bersahaja dan Pejuang Sekolah Gratis Bagi Warga Miskin
Meskipun menghabiskan puluhan tahun di puncak kekuasaan dan dikelilingi fasilitas negara, KH Idham Chalid tetaplah seorang ulama yang membumi dan bersahaja. Fokus utamanya setelah pensiun adalah pendidikan nirlaba.
Ia mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Darul Ma'arif di Jakarta Selatan dan Pondok Pesantren Darul Qur'an di Cisarua, Bogor. Lembaga pendidikan ini ia buka secara nirlaba dengan tujuan utama memberikan akses sekolah gratis bagi anak-anak yatim dan keluarga yang tidak mampu. Di daerah leluhurnya, Amuntai, ia juga membesarkan Pesantren Rasyidiah Khalidiah (Rakha) yang kini telah berusia lebih dari satu abad.
Akhir Hayat Sang Guru Bangsa
Setelah berjuang melawan penyakit stroke selama hampir 10 tahun, KH Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010. Sesuai dengan kesederhanaannya, ia menolak dimakamkan di TMP Kalibata dan memilih dimakamkan di pemakaman Pesantren Darul Qur'an, Cisarua, di tengah-tengah santri yang dicintainya.
Pemerintah RI kemudian menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011, dan mengabadikan wajah teduhnya di uang kertas Rp5.000 sejak tahun 2016.
Jadi, setiap kali kita memegang uang Rp5.000, ingatlah bahwa ada warisan kejeniusan, kerendahan hati, dan perjuangan tulus untuk bangsa dari seorang KH Idham Chalid. (*)
Editor : Bambang Harianto