Asman Abnur dari Saudagar Emas hingga Dipercaya Jadi Menteri
Menyeimbangkan dua dunia yang berbeda seperti bisnis dan politik bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Asman Abnur, kedua ranah tersebut justru berhasil ditaklukkannya dengan gemilang.
Pria kelahiran 2 Februari 1961 ini merupakan potret nyata dari seorang teknokrat serbabiisa: memulai langkah sebagai pedagang emas, menggurita menjadi raja bisnis di Batam, hingga akhirnya dipercaya Presiden Joko Widodo mengemban amanah sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB).
Asman lahir dan menghabiskan masa kecilnya di ranah Minangkabau, tepatnya di Padang Pariaman, Sumatra Barat. Asman Abnur tumbuh dalam lingkungan keluarga pedagang yang ketat dan disiplin. Ayahnya, H Aburuddin Hamzah, dan ibunya, Hj. Nurcahya, merupakan saudagar emas ternama yang berbasis di Tanjungpinang dan Batam. Didikan keras dari orang tua berdarah pedagang ini kelak membentuk insting bisnis Asman menjadi sangat tajam sejak usia belia.
Fondasi Akademik dan Naluri Saudagar yang Kuat
Meski sibuk membantu usaha keluarga, Asman Abnur tidak pernah menomorduakan pendidikan. Usai menamatkan sekolah menengah di SMEA Tanjung Pinang pada tahun 1979, ia melanjutkan kuliah ke program Diploma (D3) Fakultas Ekonomi Universitas Andalas dan lulus tahun 1983. Haus akan ilmu, ia kemudian menyelesaikan program Sarjana (S-1) di Fakultas Ekonomi Universitas Ekasakti pada tahun 1990.
Kepiawaiannya mengelola bisnis tidak membuatnya lekas puas secara intelektual. Di tengah padatnya aktivitas politik, Asman Abnur berhasil meraih gelar Magister Sains (S2) pada tahun 2004 dan menuntaskan pendidikan tertinggi dengan gelar Doktor (S3) di bidang Ekonomi Islam dari Universitas Airlangga pada tahun 2017.
Naluri saudagarnya terbukti ketika Asman Abnur sukses mengembangkan toko emas warisan orang tuanya menjadi sebuah imperium bisnis yang menggurita. Dari keuntungan berdagang emas, Asman Abnur mendirikan berbagai unit usaha strategis, mulai dari jaringan SPBU, rumah makan, apotek, pusat kebugaran, lapangan futsal, money changer, hingga lembaga perbankan konvensional dan syariah. Bisnisnya tidak hanya merajai Batam, tetapi juga merambah ke Jakarta hingga menembus pasar Singapura.
Di sela-sela kesibukannya mengendalikan gurita bisnis dan memimpin organisasi seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) serta Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Batam, Asman Abnur juga mendedikasikan waktunya untuk mengajar akuntansi di SMK Terapan Atas Kartini Batam. Kepedulian sosialnya pun diwujudkan dengan mendirikan Yayasan Masjid Jabal Arafah, yang kini menjadi salah satu ikon religi dan sosial di Kota Batam.
Lompatan Politik: Dari Daerah Menuju Panggung Nasional
Karier politik suami dari Zasjuniarti ini dimulai dari tingkat daerah. Pada pemilu 1999, Asman Abnur terpilih menduduki Komisi B DPRD Kota Batam yang membidangi perdagangan, pariwisata, dan industri. Berkat rekam jejaknya yang bersih dan profesional, di tengah masa jabatannya Asman Abnur dipercaya melompat menjadi Wakil Wali Kota Batam pada tahun 2001.
Namun, visi besar Asman tidak berhenti di tingkat daerah. Demi memperjuangkan aspirasi masyarakat yang lebih luas, ia memilih mundur dari kursi Wakil Wali Kota untuk bertarung di Pemilu Legislatif 2004. Keputusan itu berbuah manis; ia berhasil menembus Senayan dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN).
Karier parlemennya terbilang legendaris. Bapak dua anak ini tercatat menduduki kursi DPR RI selama empat periode (2004–2009, 2009–2014, 2014–2016, dan 2019–2024). Di DPR, ia kerap menempati posisi kunci sebagai Wakil Ketua Komisi XI (Keuangan dan Perbankan), Wakil Ketua Komisi X (Pendidikan dan Olahraga), serta Wakil Ketua Komisi IX (Kesehatan dan Ketenagakerjaan).
Pada Pemilu 2014, ia bahkan menorehkan prestasi gemilang dengan meraup suara terbanyak di Dapil Kepulauan Riau, yakni kurang lebih 90.000 suara. Keluwesannya dalam berorganisasi juga membawanya dipercaya menjadi Bendahara Umum hingga Wakil Ketua Umum DPP PAN (Partai Amanat Nasional).
Reformator Birokrasi di Kabinet Kerja
Puncak karier birokrasinya terjadi pada 27 Juli 2016. Dalam perombakan Kabinet Kerja Jilid II, Presiden Joko Widodo menunjuk Asman Abnur sebagai Menteri PAN-RB menggantikan Yuddy Chrisnandi.
Presiden menilai latar belakang Asman sebagai pelaku usaha sukses sangat dibutuhkan untuk menyuntikkan efisiensi, transparansi, dan mentalitas kerja profesional ke dalam tubuh birokrasi Indonesia. Selama masa jabatannya hingga tahun 2018, Asman fokus mendorong digitalisasi sistem pemerintahan (e-government) dan mempercepat reformasi pelayanan publik di berbagai daerah.
Kisah hidup Asman Abnur memberikan inspirasi berharga bahwa latar belakang sebagai seorang pedagang dan pengusaha justru bisa menjadi modal utama yang kuat ketika mengabdi bagi negara. Melalui integritas, ilmu yang matang, dan komitmen sosial, ia berhasil membawa nilai-nilai efisiensi dunia usaha ke dalam sistem pemerintahan demi kemajuan bangsa. (*)
Editor : S. Anwar