Jejak Azwar Anas, Cucu Raja Pagaruyung yang Bangkitkan Semen Padang
Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya saat Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ir. H. Azwar Anas gelar Datuak Rajo Suleman wafat pada 5 Maret 2023. Lahir di Padang pada 2 Agustus 1933, tokoh yang mewarisi garis keturunan Sultan Bagagarsyah—raja terakhir Kerajaan Pagaruyung—ini mencatatkan rekam jejak emas yang membentang dari dunia militer, industri, birokrasi, hingga olahraga nasional.
Dari Perjuangan Masa Kecil Menuju Kampus ITB
Meskipun berdarah bangsawan, masa kecil Azwar Anas penuh dengan tantangan ekonomi di masa pendudukan Jepang. Dididik dengan disiplin keras oleh sang ayah dan nilai agama yang kuat dari ibunya, Azwar kecil tidak canggung berjualan pisang goreng setiap pagi demi membantu keluarga.
Tekad kuatnya dalam menuntut ilmu membawanya merantau ke Jawa. Sambil bekerja dari bawah sebagai petugas kebersihan laboratorium di Bogor, ia berhasil meraih beasiswa hingga lulus dari jurusan kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Penyelamat Semen Padang yang Sekarat
Setelah menyelesaikan wajib militer dan meniti karier di Pusat Industri Angkatan Darat (Pindad), Azwar dipanggil pulang kampung oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain.
Ia ditugaskan memimpin Pabrik Semen Padang yang kondisinya sedang "sekarat" dan porak-poranda pasca-peristiwa politik daerah. Dengan tangan dinginnya, Azwar tidak hanya membenahi fisik pabrik yang rusak, tetapi juga membangkitkan mental karyawan lewat pendekatan dakwah Islam. Di bawah kepemimpinannya, Semen Padang bangkit dari keterpurukan dan menjelma menjadi BUMN terkemuka.
Gubernur Visioner, Menteri, hingga Ketua PSSI
Keberhasilan besar di Semen Padang membuat namanya dielu-elukan rakyat hingga terpilih menjadi Gubernur Sumatera Barat dua periode (1977–1987). Kariernya kemudian meroket ke tingkat nasional di era Presiden Soeharto, di mana ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Perhubungan (1988–1993) dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (1993–1998).
Di luar pemerintahan, kontribusi besarnya tertoreh di dunia olahraga saat menjabat sebagai Ketua Umum PSSI (1991–1999). Di bawah kendalinya, sepak bola Indonesia mencetak sejarah dengan menyatukan kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi liga profesional pertama, yaitu Liga Indonesia (Ligina).
Akhir Pengabdian Sang Jenderal
Di masa tuanya, Azwar tetap mengabdi untuk umat melalui Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan mengasuh Pondok Pesantren Modern Nurul Ikhlas di Tanah Datar yang didirikannya.
Azwar Anas mengembuskan napas terakhirnya pada usia 89 tahun di RSPAD Gatot Webroto akibat gangguan pernapasan. Ia dimakamkan dengan upacara militer penuh khidmat di Taman Makam Pahlawan Kalibata, meninggalkan legasi pengabdian tanpa batas dari seorang putra Minangkabau untuk bangsanya. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : Bambang Harianto