Indroyono Soesilo, Dubes RI untuk Amerika Serikat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo
Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo
grosir-buah-surabaya

Dalam jajaran birokrat, teknokrat, dan diplomat senior Indonesia, nama Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo menempati posisi yang sangat terhormat. Pria kelahiran 27 Maret 1955 ini merupakan seorang insinyur geologi, ilmuwan penginderaan jauh (remote sensing), sekaligus politikus dan diplomat ulung. Sejak Agustus 2025, Indroyono resmi mengemban amanah besar sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Amerika Serikat.

Putra daerah Jawa Tengah yang berasal dari Kroya, Cilacap, ini memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang. Ia tercatat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia yang pertama dalam Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo, menjabat sejak 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015, sebelum akhirnya digantikan oleh Rizal Ramli dalam perombakan (reshuffle) kabinet.

Fondasi Akademik Tangguh di Bidang Penginderaan Jauh

Karier cemerlang Indroyono Soesilo ditopang oleh latar belakang akademik yang luar biasa tangguh di bidang ilmu kebumian dan teknologi kedirgantaraan. Ia meraih gelar sarjana (S1) dari Jurusan Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1979.

Ketertarikannya pada teknologi mutakhir membawanya terbang ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan pendidikan magister (S2) di Universitas Michigan dengan fokus bidang Remote Sensing (Penginderaan Jauh) pada 1981. Ia kemudian meraih gelar doktor (S3) dari Universitas Iowa pada tahun 1987 di bidang Geologic Remote Sensing. Pengalaman akademiknya kian lengkap setelah mengikuti program khusus Remote Sensing Satellite Ground Station Management Training di Kanada pada tahun 1992.

Dari Peneliti BPPT hingga Menembus Kancah PBB

Indroyono memulai langkah profesionalnya dari bawah sebagai asisten laboratorium petrografi dan asisten kampus lapangan geologi ITB di Karangsambung (1976–1978). Kariernya di birokrasi dimulai saat ia diangkat sebagai pegawai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 1987. Di lembaga tersebut, kapasitasnya terus menanjak hingga menduduki posisi Direktur Inventarisasi Sumber Daya Alam (Tisda) BPPT (1993–1997) dan Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (1998).

Kepakarannya di sektor kelautan membuat Indroyono dipercaya memimpin Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Kelautan dan Perikanan selama tujuh tahun (2001–2008). Setelah itu, ia dialihkan menjadi Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Sesmenkokesra) periode 2008–2011.

Reputasi internasionalnya diakui dunia ketika pada tahun 2012, ia terpilih menjadi salah satu pejabat teras di PBB dengan menjabat sebagai Director of the Fisheries and Aquaculture Resources Use and Conservation Division pada Organisasi Pangan dan Pertanian dunia (FAO).

Dedikasi Luas: Pendidikan, Kehutanan, dan Pariwisata

Di sela-sela kesibukannya sebagai birokrat, Indroyono adalah seorang pendidik yang produktif. Ia tercatat pernah mengajar sebagai dosen luar biasa di berbagai institusi militer dan perguruan tinggi bergengsi, termasuk Seskoad, Sesko ABRI, ITB, Universitas Indonesia (UI), Universitas Trisakti, hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Pasca-mengabdi sebagai Menko Maritim, dedikasinya tidak berhenti. Ia diminta secara terhormat oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya untuk menjadi Penasehat Kehormatan Menteri Pariwisata (2015–2019). Di sektor industri strategis, Indroyono juga aktif memimpin sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), mengawal keberlanjutan sektor perhutanan nasional.

Kehidupan Pribadi

Di balik kesuksesan kariernya, Indroyono Soesilo didampingi oleh sang istri, Nining Indroyono Soesilo. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak. Sang istri juga merupakan figur berprestasi yang dikenal luas sebagai penggerak kewirausahaan nasional. Atas dedikasinya memimpin UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) sejak 2005, Nining menerima penghargaan bergengsi dari pemerintah dalam ajang Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) pada tahun 2012. (*)