Kisah Sudjiwo Tedjo, Pilih Mundur dari ITB Demi Jadi Dalang

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sudjiwo Tedjo
Sudjiwo Tedjo
grosir-buah-surabaya

Dunia kesenian Indonesia tidak akan pernah sepi selama nama Sujiwo Tedjo—atau yang akrab disapa Mbah Tedjo—masih eksis di atas panggung. Pria keturunan Madura kelahiran Jember, 31 Agustus 1962 ini adalah definisi sejati dari seorang seniman pemberontak. 

Sudjiwo Tedjo dikenal luas bukan hanya karena penampilannya yang nyentrik dengan topi fedora dan cerutu, melainkan karena keberaniannya mendobrak pakem-pakem kaku demi menghidupkan kembali roh spiritualitas nusantara.

Diakui publik sebagai "Presiden Jancukers", Mbah Tedjo membuktikan bahwa seni bukanlah pajangan museum yang feodal dan berjarak. Baginya, seni adalah medium kritik sosial yang harus disampaikan secara jujur, nakal, spontan, sekaligus sarat akan nilai filosofis.

"Pemberontakan" Akademik di Kampus Ganesha

Bakat seni pria bernama asli Agus Hadi Sudjiwo ini sebenarnya sudah meletup sejak belia. Saat masih remaja di Jember, ia sudah menyabet berbagai penghargaan di festival lagu rakyat hingga aktif mengirimkan tulisan ke majalah remaja nasional. Namun, langkah hidupnya sempat berbelok ke jalur eksakta ketika ia diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada dekade 1980-an.

Tak tanggung-tanggung, Tejo mengarungi dua jurusan berat sekaligus: Matematika dan Teknik Sipil. Di kampus elite inilah insting seninya kian liar. Bersama budayawan Nirwan Dewanto, ia mendirikan komunitas ludruk ITB, aktif bermain teater, hingga menjabat Kepala Bidang Perdalangan di Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, seiring berjalannya waktu, ruang kuliah rupanya terlalu sempit untuk memenjarakan kreativitasnya. Pada tahun 1988, Sudjiwo Tedjo membuat keputusan radikal yang mencengangkan banyak orang: ia memilih mundur dari kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) demi mengejar karier secara total di dunia seni. Bagi Tedjo, rumus matematika bisa dihitung, tetapi jiwa seni nusantara tidak memiliki batas angka.

Mengobrak-abrik Pakem Wayang Tradisional

Bakat mendalang Tedjo merupakan warisan genetis dari sang ayah, Soetedjo. Namun, di tangan Mbah Tedjo, wayang kulit tidak lagi sekadar menjadi tontonan bayang-bayang yang monoton. 

Pada tahun 1994, ia mulai menciptakan lakon-lakon kontemporer seperti Semar Mesem hingga mementaskan serial wayang kulit Ramayana di televisi swasta dengan iringan wayang acapella yang mendobrak tradisi.

Melalui Jaringan Dalang yang ia prakarsai pada tahun 1999, Sudjiwo Tedjo memberikan napas baru pada nilai-nilai pewayangan agar tetap relevan bagi generasi modern. Ia berani membongkar karakter hitam-putih tradisional menjadi abu-abu yang manusiawi. 

Salah satu gebrakan paling ikonisnya adalah membela ketulusan cinta Rahwana yang agung, membalikkan stigma jahat yang selama ini melekat pada sang raksasa. Cara mendalang yang penuh improvisasi dan dibumbui humor segar bin tajam ini bahkan membawa langkahnya menembus panggung dunia hingga mendalang di Yunani pada tahun 2004.

Eksperimen Gila: Teater di Kuburan hingga Musik Tanpa Sponsor

Dunia teater, film, dan musik menjadi taman bermain berikutnya bagi suami dari Rosa Nurbaiti ini. Eksperimen panggungnya yang paling radikal terjadi pada April 2007, saat ia mementaskan teater musikal tepat di "panggung" Pemakaman Karet Bivak, Jakarta, pada malam Jumat Kliwon. Lewat aksi teatrikal makam itu, ia menantang persepsi publik: bahwa kematian tidak melulu harus diratapi dengan tangis, melainkan bisa disikapi dengan tawa atau perenungan yang mendalam.

Di bidang musik, Sujiwo Tejo adalah seorang komponis yang magis sekaligus idealis. Karakter musiknya yang sarat lirik puitis berbalut kritik sosial kental terlihat dalam album keempatnya, PRESIDEN YAIYO (2007). Karena liriknya yang terlalu tajam mengkritik carut-marut sosial, album bernuansa jaz tersebut tidak mendapatkan sponsor korporat.

Tejo tidak ambil pusing. Ia mendanai sendiri albumnya dari hasil penjualan lukisannya dengan sistem "todong" dana ke sana-kemari, lalu bergerilya mempromosikannya sendiri dari radio ke radio. Dedikasi tanpa batas ini bermuara pada mahakarya konser Maha Cinta Rahwana di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang legendaris, mengukuhkan namanya sebagai seniman serbabisa yang tak lekang oleh zaman. (*)