Djohar Arifin Husin Dari Pemain Nakhoda PSSI di Masa Dualisme
Nama Prof. Dr. Ir. Djohar Arifin Husin memiliki tempat tersendiri dalam sejarah sepak bola tanah air. Pria kelahiran 13 September 1950 ini adalah seorang figur langka yang berhasil menjelajahi hampir seluruh lini dunia si kulit bundar—mulai dari menjadi pemain, wasit, administrator, hingga akhirnya menduduki kursi Ketua Umum PSSI.
Kini, selain dikenal sebagai akademisi, tokoh asal Sumatera Utara tersebut mendedikasikan dirinya di panggung politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mewakili daerah pemilihan Sumatera Utara III.
Karier Lapangan Hijau : Dari PSMS hingga Korps Baju Hitam
Kecintaan Djohar pada sepak bola dimulai sejak usia muda. Ia tercatat pernah memperkuat PSL Langkat pada periode 1968–1969. Bakatnya membawa Djohar menembus skuad klub legendaris papan atas tanah air, PSMS Medan, pada kurun waktu 1973–1976.
Usai gantung sepatu, Sarjana Pertanian Perkebunan dari Universitas Sumatera Utara (USU) ini tidak begitu saja meninggalkan lapangan. Ia memilih mengabdi di korps baju hitam dengan menjadi wasit tingkat nasional dan internasional pada periode 1976 hingga 1987. Setelah pensiun dari dunia perwasitan, ia melanjutkan perannya sebagai pengawas pertandingan (match inspector) di level nasional maupun internasional.
Menjadi Birokrat Olahraga dan Akademisi
Sembari meniti karier sebagai akademisi dan berhasil meraih gelar Guru Besar (Profesor) di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Djohar juga mulai merambah dunia manajerial olahraga. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Pengurus Daerah PSSI Sumut periode 2000–2004, Ketua Harian KONI Sumut (2003), hingga menembus level pusat sebagai Sekretaris Jenderal KONI di bawah kepemimpinan Agum Gumelar. Kapasitasnya juga diakui di pemerintahan dengan ditunjuk sebagai Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).
Nakhoda PSSI dan Badai Dualisme Kompetisi
Puncak karier organisasinya terjadi pada 9 Juli 2011. Dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang digelar di Kota Surakarta, Djohar Arifin terpilih sebagai Ketua Umum PSSI menggantikan Nurdin Halid untuk periode 2011–2015.
Namun, masa kepemimpinannya diuji oleh salah satu badai terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia, yakni konflik dualisme kompetisi antara Liga Prima Indonesia (LPI) dan Liga Super Indonesia (LSI). Konflik internal ini berimbas langsung pada performa Tim Nasional.
Salah satu momen kelam terjadi pada 29 Februari 2012 dalam Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2014 di Bahrain. Akibat kebijakan memarkir para pemain langganan Timnas yang bermain di LSI dan hanya mengirimkan skuad dari LPI, Indonesia harus menelan kekalahan paling telak sepanjang sejarah dengan skor 10–0. Keputusan tersebut sempat menuai kritik tajam dari publik yang menilai kepemimpinan PSSI kala itu kurang bijaksana dalam meredam konflik dualisme demi kepentingan nasional.
Melalui segala dinamika, kontroversi, dan prestasinya, perjalanan hidup Djohar Arifin Husin tetap menjadi salah satu rekam jejak paling berwarna di dunia olahraga dan politik Indonesia. (*)
Editor : S. Anwar