Alih Fungsi Haji Lebih Ganas Dari 350 Tahun Penjajahan Belanda

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Alih fungsi lahan. (foto ilustrasi)
Alih fungsi lahan. (foto ilustrasi)
grosir-buah-surabaya

Catatan sejarah yang membalik dirinya sendiri.

Pertanyaan paling janggal yang pernah ditulis sejarah : "Mengapa Belanda dulu sangat takut kepada orang Haji?"

Belanda membuka konsulat resmi di Tanah Suci Mekkah. Bukan untuk membantu jamaah. Bukan untuk pelayanan kerohanian..Tapi untuk satu tugas tunggal : mencatat siapa saja orang Hindia Belanda yang naik haji, dan mengawasi mereka sepulangnya.

Karena Belanda melihat satu pola yang membuat pucuk pemerintahan di Batavia tidak bisa tidur : setiap kali ada orang Nusantara yang pulang dari Mekkah, ia kembali dengan sesuatu yang lebih berbahaya dari pedang : semangat melawan penjajahan.

Snouck Hurgronje orientalis Belanda yang menyamar jadi muslim untuk mempelajari musuh dari dalam menulis dalam laporan tahun 1889 : "Para haji yang pulang sering menjadi penyebar Pan-Islamisme. Mereka menjadi ancaman politik terhadap pemerintah kolonial."

Maka Belanda merancang ordonansi haji. Karantina empat bulan sebelum dan sesudah. Pas haji yang harus dibawa ke mana-mana. Atribut yang wajib dikenakan agar mudah dikenali. Dan gelar.

Gelar "Haji" yang hari ini kita anggap penanda kehormatan dan kesucian, aslinya, dalam sejarahnya yang paling jujur adalah tanda pengawasan. Tanda kecurigaan. Tanda bahaya bagi negara penjajah.

Sebab dahulu, mereka yang membawa gelar itu adalah orang-orang yang paling siap mengorbankan dirinya demi merebut kembali tanah leluhurnya dari tangan asing.

Pangeran Diponegoro; pulang dari Mekkah, memimpin Perang Jawa 1825-1830, menggetarkan Belanda sampai akar. Tuanku Imam Bonjol; Haji dari Minangkabau, memimpin Perang Padri.

KH Ahmad Dahlan; Haji yang mendirikan Muhammadiyah. KH Hasyim Asy'ari; Haji yang mendirikan Nahdlatul Ulama. KH Zaenal Mustofa; Haji yang syahid di tiang gantungan Belanda.

Setiap haji adalah satu butir keringat dingin di dahi Gubernur Jenderal di Batavia. Itulah Haji.

Setelah Indonesia merdeka 80 tahun, setelah Belanda pulang dengan kalah dan malu, setelah ribuan Haji menjadi pahlawan negeri ini, sejarah membalik dirinya sendiri dengan cara yang paling pedih.

Hari ini, di Papua, di belantara terjauh republik ini, ada seseorang yang membawa gelar Haji yang sedang menjalankan persis apa yang dulu dilakukan Belanda kepada nenek moyang kita.

2,5 juta hektar hutan Papua sedang diincar untuk dibabat. Bukan oleh investor asing. Bukan oleh kolonial yang sudah pulang. Bukan oleh rezim Perang Dingin. Tapi oleh saudara seiman saya sendiri yang membawa gelar Haji di depan namanya. 

2.000 ekskavator dari Cina. Pesanan terbesar di dunia, dengan nilai triliunan. Untuk satu proyek tunggal. Bayangkan ini pelan-pelan. 2,5 juta hektar sama dengan setengah Pulau Jawa. Sama dengan 4 kali Pulau Bali. Sama dengan luas negara Belgia.

Pada laporan tahun 2025, Associated Press dan Mighty Earth, dua media & lembaga internasional, menyebut proyek ini akan menjadi: deforestasi terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia. Bukan terbesar di Indonesia. Bukan terbesar di Asia. Terbesar di seluruh planet.

Belanda butuh 350 tahun untuk mengeruk Nusantara dengan kolonialisme klasiknya.

Tanam paksa 1830-1870. Sistem usaha swasta 1870-1900. Sampai akhirnya pergi tahun 1945.

Selama 60 tahun paling intensif (1880-1939), Belanda mengeruk 27,1 miliar gulden dari tanah kita. Itu butuh berabad-abad. Tapi hari ini, satu proyek tunggal yang dipimpin oleh saudara seimanku akan menghasilkan kerusakan ekologis yang lebih besar dari semua yang Belanda lakukan. Dalam satu dekade.

Forest Watch Indonesia mencatat proyek ini akan menghasilkan 782,45 juta ton emisi karbon; setara dua kali lipat emisi tahunan deforestasi Indonesia. Kerugian karbon : Rp 47,73 triliun.

Deforestasi Papua Selatan naik 2x lipat dalam setahun terakhir menjadi 190.000 hektar, hampir 3 kali luas DKI Jakarta. Indonesia akan meleset 5-10 tahun dari target Net Zero Emission 2050.

Semua angka ini ditandatangani oleh tangan yang sebelumnya pernah bertawaf di Ka'bah.

Dahulu, Belanda takut kepada Haji karena Haji selalu menjadi musuh kolonialisme. Hari ini, kolonialisme di tanah air kita sendiri justru dijalankan oleh seseorang yang membawa gelar Haji. Belanda butuh 3,5 abad untuk menjarah kekayaan kita pelan-pelan. Seorang saudara seimanku, sedang menjarah lebih cepat, lebih besar, lebih merusak, dengan kemasan luar yang lebih suci.

Kalau Diponegoro masih hidup, dia akan menangis melihat ini. Kalau Ahmad Dahlan masih hidup, dia akan menulis ulang Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

Kalau Hasyim Asy'ari masih hidup, dia akan menyerukan Resolusi Jihad; bukan untuk membela negara, tapi untuk membela hutan adat Papua dari saudara seiman yang menyerangnya. Sebab spirit Haji yang mereka bawa pulang adalah spirit perlawanan terhadap kolonialisme, bukan spirit perdagangan saham bioetanol di pasar modal.

Ibrahim, bapak para Haji, adalah nabi yang melepas tanahnya.

Yang meninggalkan Babylonia, meninggalkan kerabat, meninggalkan istana ayahnya, demi tunduk kepada Tuhan. Ibrahim tidak datang ke Hijaz untuk membabat hutan. Ibrahim tidak menyembelih Ismail untuk dijual ke pasar. Ibrahim tidak mendirikan Ka'bah di atas tanah yang dirampas. Ibrahim adalah anti-tesis dari segala bentuk akumulasi paksa. Dan setiap orang yang bertawaf sedang menyatakan ulang sumpahnya : "Aku akan jadi seperti Ibrahim. Aku akan melepas, bukan mengambil."

"Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS. Asy-Syu'ara: 151-152)

Belanda dulu paranoid melihat orang Haji, karena Haji = ancaman bagi penjajah. Sekarang orang Papua paranoid melihat orang Haji, karena Haji = pelaku penjajahan. Sejarah tidak terbalik. Sejarah hanya kehilangan spirit aslinya. (*)

*) Source : Barengsiroh