Gedung 1000 Gulden di Kota Surabaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Gedung Balai Kota Surabaya
Gedung Balai Kota Surabaya
grosir-buah-surabaya

Tahun 1906, Surabaya mendapat predikat sebagai gemeente atau kota madya. Namun Pemerintah tidak memiliki kantor sendiri. Pemerintah kota menumpang di kantor Residen Surabaya yang berlokasi di barat Jembatan Merah, menghadap ke Sungai Kalimas.

Wali Kota Surabaya yang pertama, A Meyroos, menunjuk arsitek Cosman Citroen untuk merancang gedung balai kota yang baru yang akan berlokasi di wilayah Ketabang.

Citroen sendiri merupakan arsitek Belanda yang memulai karirnya di Surabaya. Dia sudah merancang banyak bangunan di Surabaya di masa kolonial Belanda, seperti Jembatan Gubeng, Rumah Sakit Darmo (Darmo Ziekenhuis), Kantor Badan Penanaman Modal atau BPM (eks Societeit Concordia), dan beberapa bangunan lainnya.

Proses pembangunan gedung ini pun berjalan dengan alot. Anggota dewan kota tidak sepakat dengan penunjukkan langsung Citroen sebagai arsitek. Menurut mereka, desain bangunan harus lewat sayembara seperti contohnya rancangan desain kota Rotterdam di Belanda.

Namun Walikota Meyroos mengatakan bahwa rancangan arsitek Belanda memang bagus, namun belum tentu sesuai dengan iklim dan kondisi alam di Hindia Belanda. Dan Citroen sudah paham dengan hal ini.

Lalu memasuki tahun 1922, terjadi depresi ekonomi. Semua barang termasuk material bangunan mengalami kenaikan harga. Hal ini menyebabkan rencana pembangunan menjadi lambat.

Setelah melalui proses yang panjang tersebut, akhirnya bangunan ini dapat selesai di tahun 1925 dan mulai digunakan pada tahun 1927.

Gedung balai kota awalnya ditetapkan untuk berlokasi di depan Tugu Pahlawan, tapi rancangan Citroen tersebut tidak bisa terlaksana karena terkendala oleh biaya. Akhirnya dilanjutkan pada masa pemerintahan Wali Kota Surabaya yang kedua, Dijkerman. Lokasinya berpindah ke daerah Ketabang, dan desain gedung diubah untuk menyesuaikan lokasi yang baru.

Rancangan gedung Balai Kota disusun secara simetris dengan menampilkan karakter iklim di Indonesia yang tropis dengan gaya Amsterdam School dan de Stijl.

Citroen juga merancang selasar yang mengelilingi bangunan, untuk mengurangi tampias (hempasan) air hujan agar tidak langsung masuk ke ruangan saat curah hujan tinggi dan juga membuat kusen bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu jati menjadi lebih tahan lama.

Pada Januari 1937, balai kota juga pernah digunakan untuk penyambutan Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard Feesten yang sedang berkunjung ke Surabaya.

Balai Kota sendiri juga memiliki bunker yang memiliki dua lorong. Konon sisi kanan menghubungkan balaikota ke Rumah Dinas Walikota dan lorong sisi kiri menuju ke Gereja Maranatha. 

Taman Surya yang berada di halaman depan gedung balai kota digunakan warga Surabaya untuk berolahr aga ataupun menghabiskan waktu di akhir pekan. (*)