Penjelasan KH Hasyim Asyari tentang Gaya Nyentrik Gus Miek
Dalam kitab المعاشرة karangan Imam Sayuthi disebutkan begini :
“من الاوقات المستجابات ساعة عند نزول المني في الفرج “
(Termasuk waktu di mana do’a pasti dikabul adalah saat masuknya sperma dalam vagina perempuan).
Gus Miek mulai dari bocah sampai belia sudah tampak tanda-tanda “nyeleneh”nya. Tidak sedikit orang yg senang bahkan kesemsem pada beliau.
Saat Gus Miek mondok, jarang Gus Miek pulang, meski di bulan Ramadhan. Anehnya, di pondok-pondok mana pun yang beliau mondoki, beliau tak pernah ngaji kitab yqng serius dan anteng. Hanya tabarrukan atau berkhidmat, malah Gus Miek lebih banyak sowan-sowan ke kiai-kiai besar dan ziarah ke makam-makam para waliyullah.
Metode pencarian ilmu yang dilakukan oleh Gus Mik ini mustahil bisa didapat dalam sistem ajar-mengajar atau didaktic metodic education. Tapi fakta kesuksesannya cukup jelas dan elegan.
Sistem adalah pengantar bagi karsa untuk sampai pada dermaga. Saat dermaga telah nyata, sistem jadi lenyap, kan ?
Ketika Gus Miek masih mondok, tidak sedikit orang-orang yang sedekah beras, ayam, kambing, bahkan ada juga sapi yang diberikan kepada KH Jazuli Usman (Abah Gus Miek). Tapi mereka memberi untuk Gus Miek, bukan sedekah untuk Kiai Jazuli.
Mereka bilang sama Kiai Jazuli : “Ini Kiai, untuk Gus Miek. Jika Gus Miek pulang preinan (liburan) dari pondok, tolong ini sembelih”.
Saat Gus Miek pulang preinan dari pondok, di ndalem Kiai Jazuli seperti ada acara besar. Ayam-ayam, kambing- disembelih dan diolah demi kerawuhan Gus Miek.
Dulur-dulur (saudara-saudara) Gus Mik sedikit merasa “anu” pada Kiai Jazuli. Tapi Kiai Jazuli paham dan mengerti pada anunya putra-putranya.
Kira-kiai andai dibahasakan “anu”nya mereka bisa begini : “Abah, kalo Kak Mik pulang dari pondok berpesta, nyembelih ini itu. Saat aku pulang dari pondok, sebutir telor pun tak disembelih”.
Toh padahal ayam-ayam, kambing-kambing dan sapi yang dibuat penyambutan itu justru milik Gus Mik, dan Kiai Jazuli hanya melaksanakan pinta dari orang-orang yang bersedekah.
Kiai Jazuli khawatir jangan-jangan nantinya Gus Miek dan dulur-dulurnya ada anu yang tak anu, seperti cerita Nabi Yusuf dan dulur-dulurnya.
Akhirnya, Kiai Jazuli membawa Gus Mik sowan ke Gurunya, KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang (waktu itu usia Gus Miek masih sangat belia).
“Ono opo Li, kon gowo Miek?” tanya KH Hasyim kepada Kiai Jazuli.
“Ini Kiai, keberadaan Miek. Aku khawatir jangan-jangan setelah aku mati anak-anakku tak akur seduluran,” dawuh Kiai Jazuli kepada gurunya.
“Lo, mosok kamu lupa. Dulu saat kamu 'kumpul' dengan istrimu kan kamu berdo’a dan membayangkan gurumu yang di Mekkah? Nah, Miek ini fotocopy gurumu itu,” kata KH Hasyim Asy’ari.
Kiai Jazuli hanya mampu merunduk dan menangis, karena sumringah.
Cerita tentang Gus Miek lebih banyak aku dapat dari KH Zainuddin/Kiai Din (kakak Gus Miek), lalu dari KH Nurul Huda/Kiai Dah (kakak Gus Miek). Lalu dari KH Fuad Mun'im/Kiai Fu' (adik Gus Miek), dan orang-orang dekat atau teman-teman dekat Gus Miek saat beliau belia.
Sejarah waliyullah, walau setepas, adalah magic power rabbani bagi seorang khayyam yg sedang kembali-pulang.
Tulisan ini semoga menorehkan ilmu dan hikmah yang ruwah.
Saat kita tak kuasa jadi waliyullah, kita harus dekat pada waliyullah, agar selalu dan selalu bersama waliyullah. (*)
*) Penulis: Qusyai OI (Santri Gus Miek)
Editor : S. Anwar